Kediri, MR | Sebagai langkah preventif menghadapi masalah pernikahan dini, Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) meluncurkan program inovatif bertajuk “PRESTASI” (Posyandu Remaja Sehat Terpadu Aktif dan Inspiratif) di Desa Karangrejo, Wilayah Puskesmas Ngasem, Kabupaten Kediri. Program ini ditujukan untuk memberdayakan remaja dan meningkatkan kesadaran mereka terhadap kesehatan reproduksi serta risiko pernikahan dini.
Tim pengabdian masyarakat yang terdiri dari ketua yaitu Astika Gita Ningrum M.Keb, dan anggota Ivon Diah Wittiarika S.Keb.,Bd., M.Kes, dan Endyka Erye Fretty M.Keb, serta Mahasiwa Prodi Kebidanan FK UNAIR yaitu Najwa Miftah Rania, Wanda Azaria Salsabila, dan Aida Ayu Habibatul Munawaroh
Pembentukan posyandu remaja dan pelatihan kader remaja merupakan salah satu upaya preventif terjadinya pernikahan usia dini yang dapat berdampak pada resiko kesehatan remaja. Upaya ini dilakukan dengan cara memberdayakan remaja ke hal-hal produktif dan positif melalui kegiatan Poyandu Remaja. Kegiatan utama terdiri dari 2 hal yang pertama pada tanggal 23 Juni 2024 melakukan pembentukan dan pelatihan bagi kader remaja. Tujuan dari kegiatan ini adalah membekali kader remaja untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman kader remaja mengenai tugas menjadi seorang kader dan buku saku remaja yang mencakup kesehatan reproduksi, keterampilan hidup sehat, kesehatan jiwa, pencegahan dan penyalahgunaan NAPZA, pola gizi dan aktivitas fisik, pencegahan “Bullying” serta pencegahan penyakit tidak menular dan kekerasan.
Kegiatan pelatihan remaja dibuka oleh ketua pelaksana pengabdian masyarakat, yaitu Ibu Astika Gita Ningrum M.Keb dosen kebidanan FK UNAIR. Pada pembukaan ini juga dilakukan penyambutan oleh Bapak Fajar Luthfi Anwari, S.Kom selaku Sekretaris Desa Karanrgrejo, dr Lusi dan Bapak Widodo selaku perwakilan Puskesmas Ngasem, Kabupaten Kediri. Astika Gita Ningrum, dalam sambutannya, menyatakan bahwa pembentukan Posyandu Remaja dan pelatihan kader ini adalah langkah strategis untuk mengurangi angka pernikahan dini. “Kami berharap para kader remaja ini dapat menjadi agen perubahan di lingkungannya,” ujar Astika.
Pelaksanaan kegiatan ini bekerjasama dengan PKK Desa Karangrejo dan Puskesmas Ngasem. Sebanyak 15 (lima belas) kader remaja mengikuti serangkaian kegiatan pelatihan. Kegiatan pelatihan remaja terdiri dari 2 sesi, yaitu sesi materi dan sesi praktik. Sesi materi terdiri oleh 2 materi yang disampaikan oleh dosen kebidanan FK UNAIR dan 1 materi oleh PKK Desa Karangrejo. Sesi praktik dilakukan dengan praktik mengukur tinggi badan, berat badan, menghitung IMT (Indeks Massa Tubuh), LiLA (Lingkar Lengan Atas), dan tekanan darah. Setiap kader remaja akan mendapatkan satu buku saku remaja sebagai pedoman kesehatan remaja dan satu buku cek kesehatan atau YouthRack (Yearly Observation and Adolescent Tracking of Health) untuk memantau kesehatan mereka.
Para kader remaja sangat antusias mengikuti serangkaian kegiatan pelatihan dari awal hingga akhir. Melalui kegiatan ini, para kader remaja berharap bahwa mereka dapat menjadi menjadi kader remaja yang mampu mengajak para remaja untuk lebih peka dan sadar terhadap kesehatannya yang meliputi kesehatan fisik, psikologis, dan sosial. “Kegiatannya menarik dan seru, semoga kedepannya saya bisa mengajak teman-teman saya berpartisipasi dalam posyandu remaja ini,” pungkas salah satu kader remaja yang mengikuti pelatihan.
Kegiatan kedua dilaksakan pada minggu, 21 Juli 2024 yaitu acara puncak “Launching PRESTASI (Posyandu Remaja Sehat Terpadu Aktif dan Inspiratif) dan Edukasi Kesehatan Remaja”. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk simbolis dan peresmian terbentuknya posyandu remaja di Desa Karangrejo Wilayah Kerja Puskesmas Ngasem Kabupaten Kediri yang dihadiri oleh 39 orang terdiri dari 7 kader dan 32 peserta remaja. Kegiatan peresmian posyandu remaja dihadiri juga oleh bidan desa karangrejo Maylia Hestiana, Amd., Keb, bapak Fajar Luthfi Anwari, S.Kom selaku Sekretaris Desa karangrejo dan dr. Ria Rohmatul Karimah selaku Kepala Puskesmas Ngasem.
Ivon Diah Wittiarika menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya tentang pelatihan kader remaja hingga peresmian PRESTASI tetapi juga tentang berkelanjutan. “Kami harap PRESTASI ini dapat terus berkembang dan menjadi contoh bagi desa lainnya,” katanya.
Materi edukasi dalam acara ini dibagi menjadi dua bagian utama. Pertama, Endyka Erye Fretty menyampaikan materi mengenai pernikahan dini, yang mencakup pengertian, penyebab, dampak, dan cara mencegahnya. Diskusi aktif antara partisipan menyoroti realitas yang dihadapi remaja di lingkungan mereka. Salah satu peserta bahkan berbagi cerita tentang tetangganya yang menikah di usia SMP karena MBA (Married by Accident).
Sesi kedua diisi oleh Ignatius Reza Alriyanto, S.Psi, M.Si yang membahas tentang bullying dan kesehatan mental remaja. Materi ini menekankan pentingnya memahami dan mengatasi bullying, serta menjaga kesehatan mental di kalangan remaja yang seringkali masih labil.
Tidak hanya materi, kegiatan juga diwarnai dengan permainan singkat yang mengajarkan para remaja pentingnya kerjasama tim. “Dari game ini kita belajar bahwa sesuatu yang dikerjakan bersama-sama akan memperoleh hasil yang luar biasa,” ungkap salah satu kader remaja dengan antusias.
Acara diakhiri dengan pembagian hadiah dan foto bersama, menandai awal dari perjalanan panjang Posyandu Remaja di Desa Karangrejo. Dengan semangat kebersamaan dan dukungan dari berbagai pihak, program ini diharapkan dapat menciptakan generasi remaja yang lebih sehat, berpengetahuan, dan terhindar dari risiko pernikahan dini.
Program PRESTASI yang digagas oleh tim pengabdian masyarakat Prodi Kebidanan FK UNAIR ini merupakan langkah konkret dalam pemberdayaan remaja. Dengan fokus pada edukasi kesehatan dan pencegahan pernikahan dini, diharapkan para kader remaja ini dapat menjadi pelopor perubahan di lingkungan mereka. Kolaborasi yang solid antara universitas, pemerintah desa, dan Puskesmas menunjukkan bahwa upaya kolektif dapat menghasilkan dampak yang signifikan bagi masyarakat. Dengan kegiatan seperti ini, Prodi Kebidanan FK UNAIR tidak hanya berperan sebagai institusi pendidikan tetapi juga sebagai agen perubahan sosial yang nyata. Semoga program ini bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk mengambil langkah serupa dalam menghadapi tantangan kesehatan dan sosial di kalangan remaja.
