Potret Kehidupan Warga Pendatang di SP VI Rela Sengsara Demi Perjuangkan Hidup

JUMAT (2/3) lalu sekitar jam 08.00 pagi, dengan mengguna-kan kendaraan bermotor jenis bebek yang dimodifikasi seperti motor trill, kami melakukan perjalanan menuju perkampu-ngan masyarakat pendatang yang berada di Desa SP VI, Kecamatan Serai Serumpun, Kabupaten Tebo provinsi Jambi.

Setelah menghabiskan waktu dua jam lebih, dengan melintasi jalan perkebunan sawit yang kondisinya hanya sebatas pengerasan saja, hingga menyeberangi aliran sungai batanghari dan diterus-kan dengan menumpuh lintasan jalan tanah, akhirnya harian ini tiba dilokasi. Perkampungan ini sebenarnya 50 persen dianta-ranya adalah warga kabupaten Tebo.

Begitu memasuki perkampu-ngan, Nampak pemandangan kondisi ribuan hektar hutan yang sudah dibuka dan siap untuk dijadikan lahan perkebu-nan. Bahkan ada juga sebagian lahan yang sudah ditanam dengan pohon karet. Beberapa menit kemudian, akhirnya sampailah dirumah ketua yang sekaligus tokoh masyarakat pendatang yang bernama Kamel Rusdi, yang sebelumnya sudah mendapat kabar tentang kedatangan kami.

Sebelum melihat langsung kondisi perkampungan masya-rakatnya, Kamel Rusdi memper-silahkan kami masuk ke rumahnya yang kondisnya memang sedikit lebih bagus dari rumah warga yang ada disekitar lokasi tersebut.

Kamel Rusdi berbagi cerita dengan kami, Awal cerita yang diutarakannya, tentang tujuan mereka membuka lahan hingga luasnya mencapai ribuan hektar. “Awalnya pada tahun 2002 yang lalu, hanya beberapa orang saja yang membuka hutan ini dengan tujuan ingin berkebun. Kemudian pada tahun 2007 jumlah kami semakin banyak. Hingga tahun 2010 keseluruhan kami ada sekitar 500 KK. Jika dijumlahkan keseluruhannya ada sekitar 1000 orang jiwa lebih,” terang Kamel Rusdi, saat menceritakan jumlah masyarakatnya.

Lanjut Kamel sapaan sehari-hari Kamel Rusli, dari jumlah 500 KK tersebut, ada sekitar 2000 hektar hutan yang sudah dibuka dan siap dija-dikan lahan perkebunan. Bahkan ada juga sebagian lahan yang sudah ditanami pohon karet.“Masing-masing KK paling banyak menggarap hutan seluas 4 hektar dan paling sedikit mengarap 2 hektar. Yang jelas, dari semua kami disini tidak bermaksud anarkis, kami hanya berusaha bertahan hidup dan berjuang untuk perubahan yang lebih baik,” ujarnya.

Kamel juga menerangkan, pada tahun 2010 ada rombo-ngan PT LAJ dan Dinas Kehutanan datang keperkam-pungannya. Pada saat itu, dirinya dan masyarakatnya tahu jika hutan yang selama ini digarapnya sebagian masuk ke lokasi PT LAJ dan sebagian lagi adalah hutan HP.

Karena waktu itu dari pihak PT LAJ berjanji mau bermitra dengan masyarakatanya, dengan catatan setiap lahan yang digarap harus menanam pohon karet. Mendengar itu, masyarakat pendatang seperti mendapatkan angin segar dan mulai saat itu juga mereka bertambah giat menggarap lahannya untuk ditanam pohon karet.

“Mendegar janji dari pihak PT LAJ yang menyatakan siap bermitra dengan kami, masya-rakat yang waktu itu berencana menanam lahanya dengan pohon kelapa sawit mengu-rungkan niatnya. Kami ber-lomba-lomba menanam pohon karet,” tuturnya.

Setelah beberapa jam ngobrol bersama Kamel beserta rombongan, kami diajak menge-lilingi perkampungan penda-tang. Banyak hal yang menarik didalam perkampungan terse-but, diantaranya kehidupan sesama warga yang tampak begitu rukun dan damai meski mereka hidup serba kekurangan. Yang lebih menariknya lagi, ditengah-tengah perkampu-ngan tersebut sudah berdiri bangunan Masjid yang dib-angun dengan cara swadaya dan gotong royong. “Untuk biaya kubah Masjid itu, saya rela menggadaikan STNK motor milik saya. Yang terpenting di perkampungan ini ada tempat ibadah untuk masyarakat,” pungkasnya.

Bertambah jauh penelusu-ran harian ini di perkampungan tersebut, ada hal yang sangat memprihatinkan sekali, yaitu satu rumah harus dihuni 3 KK atau sekitar 9 orang. Sementara kondisi rumah tersebut jauh dari layak huni. “Beginilah kehidu-pan kami disini. Solidaritas mereka sangat tinggi. Bagi warga yang belum memiliki rumah, mereka menginap dirumah tetangganya,” katanya.

Sewaktu ditanyakan ten-tang cara mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari, Kamel menjawab, sebagian warga ada yang mengambil upah, baik itu upah membuka lahan atau upah apa saja yang penting bisa menghasilkan. Ada juga sebagian warga yang menanam sayur. Sebagian untuk makan dan sebagian lagi untuk dijual.

“Baru-baru ini kami menanam padi. Namun tidak berhasil. Padahal, kami sangat berharap sekali dari hasil padi tersebut bisa memenuhi kebu-tuhan beras bagi kami. Mung-kin karena cuaca yang tidak menentu sehingga bulir padi-nya menjadi putih dan tidak bisa dipanen,” terangnya.

Dengan kondisi tersebut, Kamel dan seluruh masyara-katnya mulai merasa kawatir dengan legalitas kependudu-kanya. Apalagi baru-baru ini ada kejadian antara warga penda-tang dengan pihak PT LAJ yang sampai memakan korban. Tentunya hal ini sangat dihin-dari oleh Kamel dan masyara-katnya.

Untuk itu, Kamel berharap kepada Pemkab Tebo agar mencarikan solusi terbaik agar masyarakatnya bisa tetap bertahan hidup dan berjuang untuk perubahan yang lebih baik tampa harus meninggalkan lahan yang sudah mereka garap selama bertahun-tahun. “Kami siap menjalankan apapun yang akan diajurkan Pemkab Tebo, dengan catatan kami tetap tinggal dan berusaha disini. Kami juga siap bermitra dengan PT. LAJ. Tapi, jika kami dipaksa untuk meninggalkan tempat ini, apapun akan kami korbankan, kapan perlu nyawa sekalian,” tegasnya.

Sewaktu ditanyakan, apa-kah ada rasa ketakutan didirinya dan masyarakatnya tentang legalitas kependudukan dan lahan yang mereka garap selama ini. “Terkadang ada juga rasa takut. Namun tidak ada pilihan lain, mundur hancur, jika majupun harus hancur, kami sudah siap. Untuk itu, kami berharap dan minta kepada Pemkab agar memperhatikan kondisi dan status kami,” Imbuhnya.*** Heri Zaldi

Related posts