Jakarta (MR)
Para pendukung KPK yang beberapa waktu silam sempat diibaratkan cicak, kini mulai berpaling. Publik justru mempertanyakan apa yang sebetulnya terjadi saat ini di KPK.
Ini terjadi setelah mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Nazaruddin menuding beberapa pimpinan KPK terlibat kasus sehingga dinilai tidak independen lagi. Saling tuding antarpimpinan KPK pun terjadi. Saling tuding dan pengakuan dari pejabat di KPK mengenai pertemuan dengan Nazar juga berbuntut pada pembentukan komite etik KPK.
“Kami dulu memang mendukung cicak. Kami juga setuju pembentukan komite etik di KPK. Ini momentum bagi KPK untuk membersihkan oknum-oknum bermasalah di KPK secara menyeluruh. Namun sidang kode etik serasa tidak berguna jika Nazaruddin tidak ada di Indonesia,” kata Ray Rangkuti, Direktur Lingkar Madani (LIMA) Indonesia dalam jumpa persnya di Matraman, Jakarta, Jumat (29/7).
Menurut Ray, selama ini KPK terkesan tidak maksimal melakukan pengejaran dan penangkapan terhadap Nazar. Sehingga, kesungguhan pembentukan komite etik itu dipertanyakan. Semua akan menjadi sia-sia bila tidak ada konfirmasi dari Nazar sendiri. “Jangan komite etik jadi ajang klarifikasi, setelah itu tidak ada tindaklanjutnya,” tandas Ray. (Yanto)
