Mari Kita Saling Introspeksi Diri, Demi Kemajuan Pembangunan Natuna

Natuna,(MR)
JUMAT pekan lalu, tidak seperti hari biasanya, puluhan insane pers, baik dari media cetak dan elektronik, berkumpul di rumah makan Gray, batu kapal. Kehadiran mereka, untuk memenuhi undangan dari Kabag Humas Pemkab Natuna, guna  melakukan temu ramah bersama wartawan. Jam baru menunjukkan pukul 8.45.wib. Sebelum acara dimulai, para kuli tinta dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang telah tersedia.
Berpakaian kaus putih, dipadu dengan celana jens dan sepatu olah raga, Kabag Humas Pemkab Natuna Helmi Wahyuda SE, terlihat gagah. Didampingi kasubag, H.Midun dan staff nya Alex. Ia mulai angkat bicara. Menurutnya, dalam beberapa bulan terakhir ini, hubungan humas dengan wartawan kurang akrab, hal itu bukan karena disegaja, namun karena kita banyak kesibukan papar Helmi Wahyuda, di tengah-tengah acara  silah turahmi kopi morning, bersama wartawan.
Kami sadari, terkait adanya beberapa kegiatan  pemkab kurang terespos, karena kurang pemberitahuan kepada awak media oleh karena itu, kami mohon maaf. Kedepannya kita akan lebih baik lagi. Terkait masalah pencairan, iklan maupun tagihan Koran, bukan paktor kesengajaan. Tapi karena peraturan dan system berubah, sehingga harus ada SDM, yang matang didalamnya.
Jauh sebelumnya, Bupati telah meminta agar regulasi antara Pemkab dengan wartawan berjalan baik, bahkan kopi morning ini, jauh hari telah dicanangkan, namun karena kesibukan kita dalam menghadapi MTQ Kabupaten dan MTQ Provinsi, barulah hari ini dapat terlaksana. Bupati Natuna, juga meminta maaf karena momen berbahagia ini, tidak dapat bersama dikarenakan ada tugas luar. Ia berharap kedepannya, kegiatan seperti ini Dirinya dapat hadir di te-ngah-tengah kita, kata Helmi.
Helmi juga mengatakan peran wartwan dalam kemajuan pembangunan di Kabupaten Natuna sangat lah pen-ting, Humas dengan wartwan tidak dapat dipisahkan, Kita ini bagaikan keluarga. Oleh karena itu, jika ada kekurangan humas, tolong kami di ingatkan agar bisa koreksi diri, dan begitu juga sebaliknya. Kami menginginkan kerja sama selama ini dapat dibina dan diteruskan. Ia berharap agar wartawan independen dan propesional. Kemudian, wartawan diberi kesempatan untuk mengeluarkan unek-uneknya.
Ketua PWI Natuna Ramalius Piliang meminta agar humas sebagai corong Pemerintah dapat memberitahukan kepada SKPD jangan elergi menerima wartawan. Bahkan no hp yang dikasih kadang tidak jelas, sehingga wartawan dalam melakukan penulisan berita gamang. Tolong  dilakukan pendataan wartawan agar tidak terjadi pengusiran saat melakukan peliputan, demi kebaikan bersama.
Dalam porum itu pula, sejumlah wartawan mengkritik peryataan Kadis Pendidikan Natuna Jasman Harun, terkait adanya jatah bulanan pada wartawan dari Dinas Pendidikan. Peryataan itu dianggap telah mencoreng  nama baik wartawan yang benar-benar melakukan peliputan berita. Kita mau Tanya Kadis sama siapa diberikan jatah tersebut.
Budi dari penasehat PWI-R mengatakan wartawan itu profesional, bahkan wartawan bisa menulis di 5 media, ada juga yang mengkritiki kapan wartawan bisa jumpa Bupati, bahkan meminta kesejahteraan wartawan, dari semua unek-unek yang di keluarkan intinya memojokkan Pemerintah dan kinerja SKPD.
Lain halnya dengan yang satu ini. Sebagai pembicara terakhir lelaki berkumis tebal berbadan bulat itu, tampil karismatik. Dengan santun dan terlebih dulu meminta maaf, Ketua Aswari Kabupaten Natuna, mengatakan, dari tadi kawan-kawan wartawan semua memojokkan Pemerintah dan SKPDnya, pada hal Kita sebagai wartawan banyak juga tak jelas.
Ada dua hal mau saya beritahukan, Sepengetahuan Saya, saat melakukan pelatihan jurnalis di Jakarta, dan dalam UU Pers juga dikatakan, Wartawan hanya dapat menulis berita dalam satu Koran. Kita harus dapat membedakan mana wartawan dan mana Oknum wartawan.
Wartawan pencari berita, jika seorang wartawan harian tidak mempunyai karya tulis dalam satu hari berarti Dia oknum wartawan. begitu juga dengan Koran mingguan.
Kemudian, kenapa  SKPD kadang elergi melihat wartawan ?, hal itu dikarenakan ada oknum wartawan yang datang kepada kepala SKPD, bukan untuk mencari berita, melainkan mencari keuntungan pribadi, Jadi saya harap SKPD harus dapat memilah mana wartawan mana oknum wartawan. Tanya dulu mau ngapain, sehingga rekan wartawan yang memang mau mencari berita tidak merasa dicuekin.
Yang kedua, ada oknum wartawan, sengaja memotong iklan Koran lain, lalu menagihnya, dengan harga lebih murah. Sehingga SKPD kadang ngotot, kok iklan si “balehong” murah?. Wajar saja, karena oknum tersebut mengambil iklan Koran lain, artinya dia telah melakukan penipuan.
Untuk itu kepada SKPD, jika ada iklan potongan jangan dibayar jika tidak mampu memperlihatkan Koran aslinya. Bahkan jika ngotot lapor saja kepolisi, kita sama-sama punya perut, cari makanlah dengan baik, ujar Andi Surya, diiringi tepuk tangan hadirin. Akhir kata kegiatan kekeluargaan itupun ditutup dengan bersalam salaman.  >> Roy

Related posts