Mantan Pasien Gangguan Jiwa KKA Pulang Kampung

Anambas,(MR)

SETELAH mendapatkan perawatan intensif selama 3 bulan di RSJ daerah Tampan, Pekanbaru,  sebanyak 7 orang Ex pasien gangguan jiwa yang dikirim oleh Dinas Sosial Kabupaten Kepulauan Anam-bas pada Oktober 2011 akhir-nya pulang ke KKA pada minggu (29/01) lalu.

Kepala dinas Sosial KKA, Dra.Linda Maryati mengatakan dari 12 orang pasien gangguan jiwa yang dikirim oleh dinas Sosial KKA, sudah ada 8 orang yang dinyatakan sembuh oleh RSJ Tampan Pekanbaru. “Dalam kurun waktu 3 bulan ini sudah ada 8 orang yang dinya-takan sembuh. 7 orang sudah kami jemput, sedangkan 1 orang lagi sudah dijemput oleh keluarganya langsung dari RSJ sebelum penjemputan oleh Dinas Sosial,” jelas Linda saat ditemui diruang kerjanya.

Ex pasien gangguan jiwa yang telah dinyatakan sembuh tersebut berasal dari berbagai kecamatan yang ada di KKA., 4 orang berasa dari Kecamatan Jemaja, 1 orang dari kecamatan Siantan,1 orang dari kecamatan Siantan Tengah, 1 orang dari kecamatan Siantan Timur dan 1 orang dari kecamatan Palmatak.

Sebelum penjemputan dila-kukan, Linda mengatakan Dinas Sosial telah melakukan beberapa persiapan untuk men-dukung proses penyembuhan para Ex pasien gangguan jiwa setelah pulang dari RSJ Tampan Pekanbaru. “Kita sudah mela-kukan beberapa persiapan se-belum melakukan penemputan. Kita perlu menyediakan obat-obatan yang dibutuhkan, oleh karena itu kita sudah berkoordi-nasi dengan Dinas Kesehatan. Yang tidak kalah penting adalah mempersiapkan keluarga ex pasien gangguan jiwa tersebut untuk dapat menerima mereka. Jangan sampai keluarganya tidak mau menerima kedata-ngan mereka, atau belum siap menerima mereka. Hal ini perlu diperhatikan karena yang utama dalam proses penyembuhan setelah keluar dari RSJ adalah masalah perhatian keluarga, ujar Linda menerangkan persiapan Dinsos KKA.

Pasca pengobatan intensif di RSJ Tampan Pekanbaru, perkembangan kejiwaan para ex pasien Gangguan Jiwa ini sudah sangat pesat. Ada yang sudah bisa merespon sangat baik. Linda bercerita saat dia berta-nya mengenai keluarga kepada ex pasien gangguan jiwa tersebut, mereka sudah bisa merespon dengan baik. “Saya juga sempat bertanya pada beberapa ex pasien gangguan jiwa mengenai umurnya, berapa anak dan cucunya mereka sudah bisa menjawab dengan baik. Sudah punya respon positiflah intinya,” kata Linda.

Tapi tidak bisa dipungkiri, ada juga ex pasien gangguan jiwa yang menjadi sangat pendiam. Beberapa dari mereka menjadi sangat tertutup dan hanya mau berkomunikasi dengan orang-orang tertentu saja. “Secara keseluruhan res-pon mereka sudah positif, tapi ada juga yang jadi pendiam dan hanya mau ngobrol kepada orang-orang tertentu saja. Yah bisa dikatakan kemajuan mereka variatif, akan tetapi secara kese-luruhan sudah bisa memberikan respon positif,” kata Linda.

Walaupun sudah dinyata-kan sembuh, para ex pasien gangguan jiwa tersebut masih harus mengkonsumsi obat secara kontiniu, menurut Linda mengkonsumsi obat merupakan hal vital yang tidak bisa dibiar-kan begitu saja. Mendukung kebutuhan para ex pasien gang-guan tersebut akan obat yang dikonsumsi, Dinsos KKA sudah mengadakan koordinasi khusus dengan Dinas Kese-hatan KKA. “Para ex pasien gangguan jiwa ini tetap harus mengkonsumsi obat secara teratur selama 6 bulan dan tidak boleh tertinggal 1 obat pun. Oleh akrena itu kita sudah menyiapkan ketersediaan obat denan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan,” papar Linda.

Linda mengatakan keluarga ex pasien ganggaun jiwa tersebut memiliki factor kunci dalam proses penyembuhan pasca perawatan di RSJ. Hal pertama yang membutuhkan perhatian keluarga adalah masalah mengkonsumsi obat-obatan. “Yang paling penting adalah Keluarga itu harus selalu mengingatkan untuk makan obat. Masalah minum obat itu yang paling penting, kita orang sehat saja kalau disuruh minum obat seminggu terkadang suka lupa, apalagi mereka dengan sedikit kelainan mental disuruh minum obat selama 6 bulan, bisa kita bayangkan kesulitannya. Oleh karena itu peran keluarga sangat dibutuhkan untuk tetap mengontrol para ex penderita gangguan jiwa ini, apalagi dalam minum obat secara rutin,” papar Linda.

Hal kedua adalah masalah penyediaan lingkungan yang kondusif untuk mendukung proses penyembuhan. Setelah pulang tingkat perkembangan kesembuhan ex pasien gang-guang jiwa sangat tergantung kekondusifan lingkungan. Jika keluarga mampu memberikan lingkungan yang bisa mendu-kung mereka secara emosional, maka hampir bisa dipastikan perkembangan kesembuhan mereka akan sangat pesat. “Yang tidak kalah pentingnya itu masalah lingkungan dia masih sangat sensitive, tidak boleh tersinggung dan tidak boleh mendapat perlakuan kasar sedikitpun. Jika ex pasien gang-guan jiwa tidak tertekan, tidak mendapat tindakan kasar dan mendapat support positif dari keluarga maka perkembangan mereka akan sangat pesat. Memang kita harus memper-lakukan mereka seperti orang normal, tapi tidak bisa kita di pungkiri perlakuan special dari keluarga tetap dibutuhkan,” kata Linda. >> Eicihro/ Edo

Related posts