Pagaralam, (MR)
MENGINJAK musim kemarau Lima kecamatan di Kota Pagaralam, Sumatera Selatan, sejak sebulan terakhir kekeringan, sehingga warga kesulitan mendapatkan air untuk mengolah lahan pertanian dan kebutuhan hidup sehari-hari. Dari pantauan media rakyat di Pagaralam rabu, kekeringan di seluruh daerah itu menyebabkan ratusan hektare sawah tidak lagi dapat ditanami, karena tidak ada pasokan air, termasuk sumur warga sudah banyak yang kering, sehingga terpaksa mengambil air sungai untuk kebutuhan sehari-hari.
Seluruh Warga di lima kecamatan yaitu Dempo Selatan, Dempo Utara, Dempo Tengah, Pagaralam Utara dan Pagaralam Selatan, saat ini sudah kesulitan mendapatkan air bukan hanya untuk kebutuhan makan dan minum saja, tetapi juga mengairi ratusan hektare sawah,” kata Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Hery Mulyono di Pagaralam.
Menurut Hery, kondisi terparah di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Dempo Selatan, Dempo Utara dan Dempo Tengah. “Desa atau dusun yang mengalami kekeringan cukup parah terjadi di Dusun Mingkik, Bandar, Talangkubangan, Kecamatan Dempo Selatan dan Dusun Sumber Jaya, Rimbacandi, Kecamatan Dempo Tengah serta Kerinjing, Bumiagung, Janang, Kecamatan Dempo Utara.
Ia mengatakan kekeringan yang terjadi di Pagaralam disebabkan banyaknya hutan mengalami kerusakan terutama di daerah hulu sungai kawasan Gunung Dempo. Padahal, kata dia, selama ini sebelum terjadi ekspansi di kawasan hutan Lindung Bukit Dingin, bukit Batok dan Gunung Dempo, tidak pernah mengalami kekeriangan meskipun kemarau panjang. “Namun setelah pembukaan hutan besar-besaran untuk perluasan perkebunan warga setempat, kondisi alam mulai berubah, bila kemarau satu bulan saja mengalami kekeriangan dan ketika musim hujan terjadi banjir bandang,” katanya.
Tidak hanya itu, kata Hery, kalau musim hujan sering sekali terjadi longsor di lereng Gunung Dempo dan banjir bandang yang merusak ratusan hektare sawah di sepanjang aliran Sungai Selangis. Kemudian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warga terpaksa mengambil dari sumber air Lematang berjarak sekitar tiga hingga puluhan kilometer dari pemukiman, karena sumur juga banyak yang kering.
Sementara itu, Kapolres Kota Pagaralam AKBP Abi Darrin mengatakan memang ada laporan jika puluhan hektare hutan lindung di daerah Gunung Dempo justru sudah beralih pungsi menjadi lahan dan anehnya lagi bersertifikat. “Pemerintah setempat harus tegas karena sejak hutan lindung dirambah Pagaralam mulai mengalami kekeringan, bahkan air terjun Curup Embun dan Curup Mangkok sudah kering, karena hutan di kaki Gunung Dempo sudah rusak,” katanya. Ia menghimbau warga tidak melakukan perluasan ladang di daerah hutan larangan atau lindung karena dapat mengancam nyawa ribuan warga Pagaralam. >> Ek
