KIP Gelar Saresehan Nasional Cinta Tanah Air

Karawang,(MR)

Konsorsium Pesantren Indonesia (KPI) Kamis lalu,  gelar Sarasehan Nasional Cinta Tanah Air yang dilaksanakan di Ponpes Nihayatul Amal-Rawamerta Karawang, kegiatan tersebut hadiri oleh Ketua DPRD Karawang, Kapolres, Dandim, unsur Kemenag, Para Guru, Ulama, Pejuang, dan dihadiri oleh sekitar 1000 peserta lainnya.

Selengkapnya, KIP bertu-juan meningkatkan peran Pondok Pesantren dalam bidang pendidikan dan kemasyarakatan dalam kerangka jati diri ke Indonesiaan yang secara khu-sus mengembangkan pember-dayaan ekonomi kerakyatan melalui Jaringan Pesantren dan demi terciptanya harmoni sosial di Indonesia yang bersendikan kepada Cinta Tanah Air, (24/01).

Di lokasi, dr.Cellica Nurrachadiana wakil bupati Karawang dalam sambutanya mengungkapkan, Pemerintah Karawang sangat menyambut baik atas terlenggaranya Sara-sehan Nasional Cinta Tanah Air ini, mengingat diantara kita, anak didik serta generasi penerus bangsa sudah semakin terkikis rasa cinta tanah Air, bahkan yang sangat ironis masih ada bangsa Indonesia yang masih belum mengetahui sejarah kemerdekaannya dan, Karawang adalah salah satu daerah yang menjadi saksi sejarah atas kemerdekaan Indonesia, andai saja tidak ada Karawang niscaya tidak akan ada Indonesia, oleh karena itu kita harus merasa bangga menjadi warga Karawang dan harus melestarikan nilai-nilai sejarah dan terus dipupuk kepada anak-anak kita generasi penerus bangsa, paparnya.

Cellia teruskan, kehadiran para narasumber diantarnya adalah Prof.Dr.Achmad Muba-rok,MA, Hashim Djojohadikusumo, Drs.Amirullah Z.Wiryaatmaja dll, semoga kehadirannya di Karawang ini menambah kapasitas keilmuan serta menambah cinta tanah air bagi para santri khususnya dan masyarakat Karawang umum-nya, dan berharap dengan digelarnya sarasehan nasional cinta tanah air ini, kita semakin cinta terhadap Indonesia, menghargai jasa-jasa para pahlawan kusuma bangsa yang telah gugur memperjuangan jiwa dan raga, demi kemer-dekaan, dan kita harus mengisi kemerdekaan ini dengan karya yang nyata demi kemajuan indonesia dan dapat mengha-rumkan nama bangsa, harap-nya.

Lalu,Hashim Djojohadi-kusumo dalam paparnya, Bera-wal dari diskusi ringan dengan Prof Dr.Achmad Mubarok pendiri Mubarok Institut bahwa dirinya diminta bergabung di KIP padahal menurutnya dirinya adalah orang Kristen apa bisa? Prof Dr. Achmad Mubarok lalu menjawab kenapa tidak karena dalam konsep islam tidak ada perbedaan agama dalam membangun dan men-cintai tanah air, dan berawal dari kondisi bangsa indonesia yang dewasa ini muncul berbagai persoalan baik musibah atau persoalan bangsa yang beke-panjangan yang mengakibat-kan penderitaan hidup masya-rakat, hal ini terjadi karena seba-gian besar rakyat Indonesia su-dah sangat menipis kesadaran cinta terhadap tanah airnya, hal ini tercermin dari semakin jauh-nya keimanan dan ketaqwaan jiwa bangsa Indonesia yang ditandai semakin maraknya korupsi, kerusakan lingkungan, maraknya penyalahgunaan amanah, tidak peduli kepada yang lemah, tidak berperi-kemanusiaan, mengekploitasi sumber daya alam dengan sewenang-wenang tanpa mem-perdulikan generasi mendatang, oleh karenanya kalau kita mengaku bangsa Indonesia maka kita harus mampu mencegah “ Amar Ma’ruf nahyi Mungkar” ucapnya.

Selanjutnya,Prof Dr. Achmad Mubarok MA, salah satu Pendiri Konsorsium Pesan-tren Indonesia menjelaskan, dirinya telah membangun Jaringan Pesantren hampir 9200 Pesantren yang tersebar di Indonesia, visi dan misi yang dibangun adalah ingin meng-kampanyekan dan mensosiali-sasikan semangat cinta tanah air, dan menghidupkan kesa-daran bernegara dan berbang-sa, serta meningkatkan sumber daya manusia yang berada dalam lingkungan pesantren guna meningkatkan peran serta pesantren mengantar bangsa menembus globalisasi menuju bangsa yang bermartabat, katanya. >>Warsian/Nata W

Related posts