Ketahanan Pangan, Ubah Kebiasaan Kelola Hasil Panen

Jombang  MR

Hasil pertanian di Jombang bisa dikatakan cukup melimpah, mulai dari tanaman pangan hingga hortikultura. Namun melimpahnya komoditi pangan itu, tidak membuat Pemerintah Kabupaten Jombang terlena, ancaman ketahanan pangan bisa saja melanda. Meskipun sebuah daerah itu memiliki potensi alam yang bagus.

Apalagi jumlah penduduk setiap tahunnya bisa dipastikan bertambah, artinya kebutuhan pangan juga meningkat. Lahan pertanian yang tersedia bisa jadi tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan yang dibutuhkan.

Melihat hal itu, Kantor Ketahanan Pangan Jombang membentuk desa mandiri pangan (Desa Mapan). Dimana masyarakat di desa itu mampu mewujudkan ketahan pangan dan gizi yang memanfaatkan sumberdaya alam setempat.

“ Ini adalah terobosan ketahanan pangan yang dilakukan di Jombang,” terang  Cahyo Widodo Kepala kantor ketahan pangan Jombang saat memberikan laporannya pencana-nganan desa mapan di kecamatan Ploso. Rabu (21/09).

Bupati Jombang, Suyanto saat memberikan sambutannya menyampaikan, ketahanan pangan yang ditempatkan di Kecamatan Ploso adalah keputusan yang tepat. Selain menciptakan desa mandiri pangan dikawasan utara brantas. Moment ini juga dimanfaatkan untuk merubah kebiasaan masyarakat dalam mengatur hasil panen.

Disebutkan Suyanto, ketahanan pangan berkaitan erat dengan pengelolaan hasil panen. Sejauh ini menurutnya, ada kecenderungan  kurang memanage dan memanfaatkan hasil panen. “ Masyarakat utara brantas sedikit sekali, yang menyisakan hasil panennya untuk dikonsumsi sendiri, kebanyakan langsung dijual kepada tengkulak,” ucap Bupati dihadapan undangan pencanangan Desa Mapan.

Ini berbeda dengan masyarakat selatan brantas, sebagian dari mereka menyisakan sisa panen untuk kebutuhan sehari – hari. Yang bisa dikonsumsi dalam waktu panjang,hingga masa panen tiba lagi. Tentu saja, hal positif ini diharapkan bisa diadopsi masyarakat utara brantas.

Pengenalan makanan tradisional juga tidak kalah penting untuk terus digalakan. Masih menurutnya, melalui dinas pendidikan berharap beragam makanan tradisional dapat dimasukan kedalam kurikulum lokal. “ Banyak makanan lokal yang kaya gizi dan ini tentu saja untuk membuka wawasan anak terhadap makanan tradisional,” tegasnya.

Diyakini oleh Suyanto, program ini akan berhasil dengan dukungan seluruh pihak baik dari pemerintah hingga masyarakat. “ Kebutuhan pangan dengan gizi seimbang akan mampu diwujudkan di sini, melalui desa mandiri pangan,” pungkasnya. (team)

 

Related posts