Bombana, (MR)
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bombana, H.Nuhung, S.Pd., M.Si, mengatakan, pihaknya sedang dan akan selalu menggenjot peningkatan mutu pendidikan mulai dari usia dini hingga SD dan SMP. Pernyataan itu disampaikan sebagai refleksi Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) terhadap upaya memajukan pendidikan di wilayah penghasil emas ini.
“Saya sebagai Kepala Dinas Pendidikan yang memang selama ini roh saya adalah guru, tentu harapan saya di Dua Mei ini dan seterusnya adalah, memfokuskan peningkatan mutu pendidikan di tingkatan PAUD, SD dan SMP,” kata Nuhung kepada Media Rakyat usai upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Bombana, Selasa (2/5).
Untuk mencapai hal itu, lanjutnya, pihaknya akan senantiasa memaksimalkan pembangunan sarana dan prasaranan pendidikan, meningkatkan profesionalitas pendidik dan tenaga kependidikan dan melibatkan semua jajaran pendidikan di lapangan untuk memberi masukan sebagai dasar untuk membuat kebijakan yang dibutuhkan dalam peningkatan kualitas pendidikan.
“Teman-teman yang ada di lapangan diharapkan memberi masukan kepada kami untuk kami berbuat, khususnya kebutuhan akan pendidikan yang masih kurang selama ini,” tambah mantan Kepala Badan Kesbangpol Bombana ini.
Terkait dengan itu, lanjutnya, guru dituntut untuk menjaga profesionalitasnya dengan senantiasa tetap fokus pada tugasnya untuk mencerdaskan anak bangsa, menjaga agar tidak mengecewakan orang tua murid, membangun hubungan baik dengan orang tua murid dan membangun keakraban dengan peserta didik.
“Sebagai seorang yang menjadi pencerdas anak-anak, tentu besar harapan orang tua terhadap mereka. Mudah-mudahan dengan profesionalitas yang mereka miliki, mereka tampil dengan sikap sebagai seorang guru yang sebenarnya, berhubungan baik dengan orang tua murid dan dengan anak-anak yang diajar harus komunikasi yang lebih akrab. Karena dengan begitu, kecerdasan anak akan bangkit,” jelasnya.
Karena itu, tambahnya, dalam kondisi apapun, guru tetap harus menunjukkan sikap mendidiknya, meskipun dalam
keadaan emosi, jengkel dan marah. Jangan sampai berubah menjadi monter yang menakutkan, bahkan melakukan penganiayaan. “Model pendidikan sekara-ng, tidak boleh lagi terjadi kekerasan. Silakan memberi hukuman tetapi hukuman itu bersifat edukasi untuk membangkitkan semangat belajar anak,” ujarnya.
Di mata Nuhung, menghadapi murid yang nakal, bukanlah sebuah tantangan, tetapi merupakan seni mengajar sekaligus menjadi motivasi bagi guru untuk mewujudkan jati diri anak didik tersebut. “Menghadapi anak yang nakal, bukan tantangan tapi seni mengajar dan motivasi buat kita untuk mengetahui masing-masing karakter anak, sekaligus mewujudkan jati diri anak didik. Karena ada prestasi di balik kenakalan, dia terselip di situ, cuma dia belum menemukan dan belum tahu bagaimana mengarahkannya. Jadi kenakalan adalah indikasi prestasi dan kecerdasan anak,” imbuhnya. >>HT
