Majalengka, (MR)
DENGAN MAHALNYA harga gas Elpiji berukuran 3 kg, banyak masyarakat di beberapa wilayah Kabupaten Majalengka khususnya para ibu rumah tangga memilih memasak sehari-harinya dengan menggunakan kayu bakar.
Salah satu contoh terjadi di Desa Nunuk Baru, Padaherang, Cikaracak para ibu-ibu amat sangat mengeluhkan dengan mahalnya harga gas elpiji ukuran 3 kg atau yang identik disebut gas melon, karena dengan harga mencapai Rp. 21 ribu, 22 ribu hingga 24 ribu per tabung 3 kg (di Desa Cikaracak), dan ibu-ibu rumah tangga tidak bisa membelinya karena kondisi sulitnya ekonomi dan bukan gas elpiji saja yang harus dibeli. Salah seorang ibu-ibu warga masyarakat Desa Nunuk Baru Lina menyampaikan kepada Media Rakyat senin (18/01/16) bahwa harga gas elpiji ukuran 3 kg sebesar Rp.22 ribu sangat mahal dan tak terjangkau oleh kami sebagai ibu rumah tangga untuk memasak sehari-hari dan dengan begitu lebih baik kami memasak menggunakan kayu bakar saja.
Dan harga ini juga sepengetahuan kami tidak sesuai dengan harga yang sudah ditetapkan melalui surat edaran Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Perindustrian dan Perdagangan (KUKM Perindag) Kabupaten Majalengka sebesar Rp.18.750,- dan sampai saat ini juga katanya tidak ada kenaikan.
Lina juga menambahkan penyampaianya bahwa dengan kondisi seperti ini kami harap pemerintah bisa membantu masyarakatnya agar harga gas elpiji kembali normal sehingga masyarakat bisa terjangkau membelinya dan juga kami berharap pemerintah mencari tahu apa penyebab harga gas elpiji ini naik tanpa adanya aturan dari pemerintah, dan sekalian kenapa isi gas banyak yang tidak sesuai dengan ukuranya yakni 3 kg dan juga banyak segelnya yang tidak normal lagi. Dan kalau memang ada kenakalan ditingkat agen penyalur, kami mohon ini untuk di tindak karena ini sangat merugikan masyarakat, begitu tambah Lina.
Sementara disisi lain salah satu pedagang pengecer di pasar Induk Cigasong ketika berbincang dengan Media Rakyat menyampaikan bahwa kenaikan harga gas elpiji 3 kg karena harga disetiap agen berbeda-beda, sehingga para pedagang eceran menaikan harga tambahan agar jualan ada untungnya.
Dan kami hanya meraup untung sebesar Rp.1.500,- belum lagi diambil dengan uang bensin, begitu jelasnya. >>Kris
