FISIKAWAN Indonesia Yohanes Surya menyatakan tidak setuju dengan ide penggabungan mata pelajaran IPA ke Bahasa Indonesia untuk kurikulum tahun ini, Penolakan Yohanes ini dikarenakan indikator di pelajaran IPA berbeda dengan indikator pelajaran Bahasa Indonesia. “Integrasi dengan pelajaran Bahasa Indonesia ini tidak akan bisa, saya masih terus menolak kalau ada penggabungan dua pelajaran tersebut,” ujar Yohanes seusai bertemu dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh di Jakarta, Jumat (4/1).
Bagi Yohanes, indikator pelajaran Bahasa Indonesia di kelas SD adalah membaca dan menulis. “Apabila diaplikasikan ke pelajaran Fisika, indikator listrik itu bukan sebatas membaca dan menulis saja. Ini yang tidak masuk akal,” ungkapnya dengan tegas.
Yohanes berharap agar pelajaran IPA diajarkan secara terpisah di kelas 4-6. “Anak-anak yang duduk di bangku kelas 4,5, dan 6, sudah harus berpikir kritis dan inovatif,” tambah pria kelahiran Jakarta, 6 November 1963 tersebut.
Indikator IPA, menurut Yohanes, adalah berbasis pertanyaan mengapa. Murid diharapkan dapat eksplorasi, membuat hipotesa, dan menganalisa. Ditanyai mengenai tanggapan Mendikbud, Yohanes menjelaskan ide penolakan ini masih dalam tahap penggodokan. Dari pihak Mendikbud banyak yang tidak setuju, namun dari pihak narasumber dan pakar, terutama yang di bidang Yohanes, ada beberapa yang setuju dengan ide pria berusia 49 tahun tersebut.
Disamping itu, Yohanes juga miris melihat fenomena prestasi Indonesia yang merosot di Olimpiade Fisika sejak tahun 2011. Padahal di tahun 2006, 2007, dan 2008, Indonesia masih mengukir prestasi di ajang Olimpiade bertaraf internasional tersebut. “Bayangkan saja, di tahun 2011 Indonesia hanya peringkat 21, dan mirisnya di tahun 2012 peringkat Indonesia merosot menjadi 34,” sesal Yohanes.
Kemerosotan prestasi Indonesia ini, bagi Yohanes, disebabkan karena pelatihan yang tidak intensif. Sejak tahun 2011, pelatihan diambil alih oleh pemerintah. “Ya gimana mau menang kalau pelatihannya hanya beberapa bulan saja,” sanggah Yohanes.
Sebelumnya, Yohanes juga pernah memberikan pelatihan untuk peserta yang mewakili Indonesia di Olimpiade Fisika. Berdasarkan pengalamannya, pelatihan ini berlangsung selama satu sampai satu setengah tahun. Hal ini sudah disampaikan oleh Yohanes kepada Harris Iskandar, direktur yang baru menjabat untuk urusan persiapan Olimpiade Fisika. Ide ini disambut baik oleh Harris Iskandar.
Yohanes mengharapkan pelajaran fisika semakin diminati. Hal itu dapat terwujud apabila pelajaran fisika dibuat asik dan menyenangkan. “Guru-guru harus dilatih supaya dapat mengajarkan fisika menjadi hal yang menyenangkan. Masih banyak anak-anak yang takut kalau mendengar fisika, karena kesannya pelajaran ini bisa membuat rapor warna-warni,” ucap Yohanes. >> Nokipa

