Distanhut Gandeng PKK Gelar Lomba Cipta Menu Pangan Lokal

Anambas,(MR)
PANGAN pokok lokal di Kabupaten Kepualuan Anambas ternyata tidak bisa dipandang sebelah mata. Masih banyak pangan asli yang tumbuh di KKA bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan masyarakat. Tidak hanya untuk dijual begitu saja, pangan yang kandungan gizinya tidak kalah dengan pangan lain itu dimanfaatkan untuk menjadi pangan pokok di KKA. Sebut saja Ubi dan sagu. Kedua pangan tersebut bisa dimanfaatkan sebagai pengganti beras. Dan rasanya sangat cocok jika pengaplikasiannya dilakukan di daerah seperti KKA yang notabene masih berbenah soal pemenuhan pangan pokok seperti Beras. “Kita punya potensi pangan pokok alternative seperti sagu dan ubi. Dan keduanya punya kandungan gizi sama seperti beras,” papar Zarrin Mastur, Kabid Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Kehutanan (Distanhut) KKA.
Namun membiasakan masyarakat menggantikan untuk konsumsi makanan pokok mereka, dari yang sekuler seperti beras menjadi pangan alternative seperti sagu bukan hal yang mudah. Perlu beberapa usaha untuk mensosialisasika hal tersebut. Guna memperlancar usaha-usaha tersebut, Distanhut bekerjasama dengan PKK KKA menggelar lomba cipta menu tanpa beras dan tanpa terigu. Dalam perlombaan ini peserta diharuskan mengolah makanan untuk sarapan, makan siang dan makan malam tanpa menggunakan Beras ataupun terigu sebagai bahan pokoknya. “Tanpa Beras dan Tanpa Terigu pastinya. Alasannya yah akrena kita mencoba membiasakan masyarakat kita untuk mengurangi konsumsi beras dan terigu dan memanfaatkan pangan lokal yang ada di KKA seperti sagu dan ketela,” jelas Zarrin saat ditemui di lokasi Lomba.
Lomba yang diikuti oleh Ibu-ibu PKK itu memang terlihat sangat berbeda. Jika dilihat secara teliti tidak ada sedikitpun beras yang digunakan sebagai makanan pokoknya. Kebanyakan menggunakan Sagu dan Ketela. Ada juga yang menggunakan Ikan sebagai bahan utamanya. Makanan diolah sedemikian rua sehingga kadar gizi dan rasanya enak dikonsumsi.
Zarrin menjelaskan ada beberapa point peninlaian khusus untuk lomba kali ini. Yang utama adalah criteria 3B yang harus terpenuhi. 3B mencakup Berimbang, Bergizi dan Beragam. Criteria tersebut menjadi sangat penting karena menurut Zarrin 3B adalah syarat untuk makanan yang layak dikonsumsi manusia. “Harus memenuhi 3B. karena itu syarat utama makanan yagn layak kita konsumsi. Selain itu harus juga Halal dan aman,” jelas Zarrin.
Kedepan Zarrin menilai kegiatan sejenis layak untuk diselenggarakan secara continiu. Pasalnya sosialisasi seperti ini sangat efektif utnuk masyarakat yang notabene masih mengadopsi paham Beras Minded. “Harapan kita ada dukungan dari dana APBD Kita untuk program keragaman pangan ini agar kedepannya kita bisa memberdayakan sejumlah pangan local untuk dapat kita konsumsi dengan criteria yang memang layak dikonsumsi oleh masyarakat. Masyarakat tidak hanya jadi beras minded, tapi juga mengetahui ada pangan lain yang kandungan gizi sama dan rasanya juga tidak kalah,” papar Zarrin.
Sementara Wakil Sekretaris PKK KKA, Endang Tajri menilai kegiatan ini sangat bermanfaat dan harus terus dilaksanakan kedepannya. Selain untuk mendukung kampanye 3B yang juga menrupakan program PKK KKA, juga untuk meningkatkan pemahaman ibu-ibu di KKA tentang nilai gizi dan keberagaman pangan lokal. “Bagus pak, kita respon sangat positif. Bagus buat ibu-ibu supaya ngerti bahwa pangan lokal juga punya nilai gizi baik dan rasanya juga enak kalau diolah dengan baik,” papar Endang. >>Edo

Related posts