Prabumulih, (MR)
Soal pembongkaran pagar taman kota Prabumulih,yang di tuding diduga pemborosan anggaran serta tak profesionalnya kerja pejabat di bidang ini dalam menentukan suatu rencana pembangunan dan umur rencana pembangan itu sendiri, pasalnya pembangunan pagar tersebut berdasarkan pantauan baru rampung di kerjakan per 31 Desember 2014 kemarin, dan kini diduga telah di bongkar kembali dengan design ulang yang tentunya dengan anggaran diduga hampir satu miliar yang diduga satu paket dengan pembangunan Jogging Track dari dana DAK (dana alokasi khusus) Badan Lingkungan Hidup Kota Prabumulih, meskipun tidak kesemuannya di bongkar,tapi hal ini diduga setidaknya menunjukan bahwa ketidak profesionalannya pejabat terkait di bidang ini,ada apa dengan perencanaan?, apakah ada kesengajaan dalam hal ini?.
Berdasarkan investigasi Media Rakyat dari sumber terkait yakni Dinas Pekerjaan Umum Prabumulih melalui Kepala Bidang Bidang Perencanaan mengakui tidak mengetahui soal pembongkaran tersebut, menurut dia semestinya pembongkaran pagar itu tak semestinya terjadi jika memang telah terencana dengan matang.
Tapi ini beda, lanjut dia, Bapak Walikota sempat marah melihat tataan taman kota, karena pembangunan pagar menutupi merek Taman Kota Prabumulih “Pak Wali marah-marah soal itu” kata juairiah.
Masih menurut Juairiah, dia mengatakan bahwa dirinya selaku Kepala Bidang di Bidang Program dan Perencanaan ini kerap tak di libatkan dalam proses rencana pembangunan, bahkan terkadang dirinya tidak mengetahui prihal lapangan dalam proses pembuatan RAB (rancangan anggaran biaya) karena selalu di ambil alih oleh oknum di Bidang Bina Marga, tuturnya sembari memberikan isyarat tentang oknum yang dimaksudnya. Juai juga menyesalkan susunan organisasi di Dinas PU yang menurutnya pengerjaan tak sesuai dengan bidangnya “di dinas Tupoksi tidak berjalan” bebernya kepada Media Rakyat.
Sementara, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Prabumulih Elman dengan tegas membantah bahwa pihaknya turut andil dalam perencanaan pembangunan pagar yang di bongkar (depan prasasti Taman Kota-red), menurut pengakuan Elman pihaknya hanya sebatas perencanaan taman saja, tidak merencanakan pembuatan pagar yang menutupi merek taman Kota.
“Kita hanya merencanakan taman, bukan pembuatan pagar, kalo soal pagar no coment, tanya dinas PU,” kata Elman saat di temui di ruangannya lantai tiga gedung Pemkot Prabumulih.
Disindir tentang keterlibatan pihak konsultan dan sejauh mana koordinasi pihaknya dengan konsultan dalam rencana pembangunan itu, Elman juga membantah dan bersikukuh, menurutnya soal gambar hanya sebatas taman selebihnya itu Dinas PU yang merencanakan (termasuk pagar-red), dan soal konsultan Elman mengatakan bahwa Riduan adalah staf ahli Walikota, pernyataan ini tentunya sedikit membantah opini publik bahwa Riduan adalah jasa konsultan yang pakai Pemerintah untuk kemegahan pembangunan Kota Prabumulih, lalu bagaimana adakah anggaran jasa konsultan di tahun 2014 untuk Taman Kota?.
Sementara, berdasarkan komentar masarakat yang di rangkum dari pengguna jalan yang melintasi taman serta pengunjung taman di ketahui bahwa masyarakat berpendapat pembangunan itu tak semestinya di bongkar, jika pun dianggap merusak suasana pemandangan, mengapa harus di bangun sebelumnya, itu secara tidak langsung memberikan dua isyarat antara tidak profesional dan permainan kotor dalam pembangunan.
Selain itu, masih berdasarkan sumber tadi, mengatakan bahwa jika memang Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Prabumulih, memang melebihi anggaran pembangunan yang ada, kenapa tidak di alihkan saja kepada anggaran penuntasan kemiskinan, ungkap sumber.
Ternyata ungkapan masya rakat tersebut bukan hanya ungkapan biasa tapi nampaknya ungkapan tersebut menjadi suatu kiasan kekecewaan terhadap perencanaan pembangunan Prabumulih baik berupa pembangunan pisik maupum pembangunan sumber daya manusia yang tentunya harus didukung pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat, pasalnya Berdasarkan data penurunan kemiskinan Kota Prabumulih dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Prabumulih Sawaluddin Kasi IPDS mengatakan bahwa terhitung dari tahun 2010 sampai tahun 2013 memang angka kemiskinan kota Prabumulih selalu menurun, namun angka tersebut di persentase kurang dari satu persen pertahunnya.
Sampai berita ini di turunkan Badan Lingkungan Hidup Kota Prabumulih dan Riduan belum dapat di konfirmasi. >>Alex Effendi
