Lampung, (MR)
Dianugerahi geografis dengan wilayah hutan cukup luas, ada Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan Taman Nasional Way Kambas (TNWK). TNWK adalah taman konservasi tertua di Indonesia. TNWK dikenal sebagai tempat perlindungan gajah. Di kawasan inilah pusat konservasi dan rumah sakit gajah berdiri.
Selain itu, terdapat pula Sumatran Rhino Sanctuary atau Suaka Rhino Sumatera (SRS). Suaka ini menjaga spesies badak dari ancaman kepunahan. Keberhasilan SRS mengembangbiakkan badak di habitat aslinya patut diacungi jempol. Sudah dua kali SRS berhasil mengembangbiakkan badak di TNWK. Wajar TNWK menjadi kiblat dunia atas konservasi badak sumatera. Lebih-lebih kelahiran badak pertama pada Juni 2012 merupakan hasil penantian panjang mengembangbiakkan satwa langka tersebut. Berselang empat tahun, adik badak yang diberi nama Andatu terlahir pada 12 Mei 2016.
Atas prestasi TNWK yang memiliki luas 130 ribu itu, dunia menetapkannya sebagai salah satu kawasan ASEAN Heritage Parks pada ASEAN Ministerial Meeting on The Environment. Penetapan itu berlangsung di Hanoi, Vietnam, pada 28 Oktober 2015. Hal ini merupakan penghargaan tertinggi bagi kawasan konservasi.
Menjadi kawasan ASEAN Heritage Parks tentunya merupakan prestasi, tapi juga membawa konsekuensi sendiri. Kawasan yang menjadi habitat tidak hanya badak dan gajah, tapi juga harimau, tapir, beruang madu, dan lainnya itu tentunya harus semakin dijaga, terutama dari tangan jahil manusia.
Harus diingat penetapan kawasan ASEAN Heritage dievaluasi dalam periode tertentu. Kita harus mampu mempertahankan penghargaan atas aset berharga yang telah diakui di kawasan Asia Tenggara itu. Harus dibangun kesadaran dan tindakan masyarakat untuk selalu menjaga kawasan hutan tetap lestari. Letak TNWK yang berbatasan langsung dengan perkampungan penduduk menjadi rentan terjamah manusia, seperti penebangan dan perburuan liar, yang dapat mengancam ekosistem di dalamnya. Selain peningkatan penjagaan, juga harus ada tindakan penyadaran pendudukan atas pentingnya kelestarian lingkungan. Atas keunggulan dan prestasi yang disandangnya, sepatutnya pula TNWK menjadi destinasi unggulan pariwisata Lampung.
Celakanya, bahkan Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim mengakui kawasan tersebut jauh panggang dari api untuk dikatakan pantas sebagai daerah tujuan wisata unggulan. Infrastruktur jalan menuju lokasi tersebut masih jauh dari mulus. Belum lagi fasilitas rekreasi penunjang sebagai syarat mutlak destinasi unggulan wisata, apalagi berkelas internasional. Dengan prestasi mentereng yang disandangnya, TNWK amat patut dipermak menjadi kawasan wisata yang lebih baik. TNWK telah menjadi kiblat dunia dalam hal konservasi. Sayangnya, mempromosikan hutan lindung tersebut saat ini ibarat memercik air didulang. Para turis mancanegara tentu akan kecele mengunjungi TNWK dengan segala kekurangannya. Itulah pekerjaan rumah yang amat berat bagi pemerintah daerah di TNWK. >>Muchsin
