BBM Naik, BLT Harga Mati

Jakarta,(MR)

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memastikan pemerintah akan menyalurkan bantuan langsung tunai (BLT) atau bantuan langsung semen-tara masyarakat (BLSM) jika rencana penaikan harga BBM disetujui DPR. SBY menyebut pemberian BLT merupakan keharusan dan harga mati.

“Sekali lagi, manakala datang saatnya dan harga BBM dinaikan maka harga mati dan mutlak rakyat miskin diberikan bantuan (BLT). Jumlahnya berapa dan berapa lama akan bicarakan dengan DPR,” kata Yudhoyono ketika memberikan pengarahan dalam Silaturahim Partai Demokrat di kediaman pribadinya di Puri Cikeas Indah, Minggu (18/3) malam.

Yudhoyono yang juga men-jabat Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat itu tidak memahami penentangan dari berbagai pihak atas penyaluran dan pemberian BLT.

Pemberian tersebut dinilai-nya sebagai cara pemerintah membantu rakyat miskin yang terkena dampak penaikan harga BBM bersubsidi, meski bebe-rapa pihak maupun para petani sendiri menilai pemberian BLT tidak tepat dan tidak mendidik.

“Jika DPR dan pemerintah sepakat atas penyesuaian (penaikan harga BBM) ini maka saya usulkan agar tetap berikan bantuan dan perlindungan bagi masyarakat miskin dan golo-ngan pendapatan rendah. Kalau ada yang menentang saya kurang paham. Kenapa tidak boleh pemerintah bantu rakyatnya yang sedang susah? Saya tidak menemukan jawa-bannya hingga saat ini,” ujar Yudhoyono di hadapan ratusan kader Partai Demokrat.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sangat menyesal-kan banyaknya pihak yang membawa persoalan pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) ke ranah politik. Dia kemudian menyebut politik di Indonesia sudah menyedihkan karena kebijakan pemberian BLT dijadikan ajang menjelek-jelekan pemerintah.

Menurutnya pemberian BLT merupakan bentuk empati pemerintah, “Yang terjadi sekarang ini adalah black campaign dan buruk sangka digunakan. Karenanya, politik di negeri ini menjadi menyedih-kan. Kita harus punya hati dan empati ke rakyat miskin jangan semua hal dipolitikkan, rakyat akan terhina segala sesuatu disambungkan ke politik,” tegas Yudhoyono.

Pemerintah saat ini tengah membahas Rancangan APBN-Perubahan 2012, salah satu yang menjadi fokus perubahan-nya dikarenakan harga minyak dunia yang sudah melebihi asumsi makro dalam APBN 2012 yakni US$90/barel sedangkan harga minyak dunia sudah mencapai US$122/barel. Karena sudah melebihi dari apa yang dianggarkan, pemerintah berencana mencabut sebagian subsidi BBM yang dianggap sudah membebani anggaran.

Implikasi dari pencabutan sebagian subsidi BBM itu adalah naiknya harga BBM bersubsidi. Pemerintah berang-gapan pemberian subsidi BBM selama ini di luar harapan yakni pemanfaatan oleh orang kaya ketimbang orang miskin.

“Subsidi itu boleh dikatakan 70% dinikmati golongan mam-pu dan kaya bukan masyarakat golongan rendah. Tentu tidak adil golongan kaya tidak mau keluar dari comfort zone-nya. Jangan keliru, meski kurangi subsidi, pemerintah tetap serah-kan subsidi, misalnya subsidi untuk rakyat miskin (pemberian BLT),” ungkap Yudhoyono.

Pemerintah pun berencana memberikan BLT atau BLSM kepada 18,5 juta rumah tangga sasaran (RTS) atau masyarakat miskin berupa uang tunai sebesar Rp150 ribu tiap bulan-nya selama sembilan kali. Yudhoyono menilai, pemberian BLT dapat membantu masyara-kat miskin secara langsung.

“Bantuan langsung berupa cash transfer itu bukan sesuatu yang baru, kalau jujur datanglah ke pelosok. Mereka bisa kura-ngi persoalan yang dihadapi, artinya (BLT) memiliki makna dan manfaat yang nyata,” sebut Yudhoyono. >> Eka Lesmana

 

Related posts