Sukabumi, (MR)
Keberadaan Bank Sammi (Bank Sampah Sukabumi) agaknya belum sepenuhnya diketahui oleh Masyarakat Kota Sukabumi. Meski sudah berdiri sejak dua tahun lalu, nasabah lembaga yang berada dibawah kendali Dinas Pengelolaan Sampah, Pertamanan dan Pemakaman (DPSPP) Kota Sukabumi itu belum sesuai dengan yang diharapkan. Padahal, keberadaannya sebagai upaya menekan menumpuknya sampah sekaligus meningkatkan kesadaran masyara kat dalam pengendalian limbah rumah tangga. “Bank Sammi ini bukan hanya menampung sampah yang bernilai ekonomis, tapi juga sebagai peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyara kat,” kata Kepala DPSPP Kota Sukabumi, Hj, Lilis Lilis Astri Suryanita, di dampingi Ketua Pelaksana Bank Sammi, Rezi Andrian di ruang kerjanya, Jumat (19/6).
Lilis mengatakan, minat masyarakat untuk menjadi nasabah bank yang berlokasi di Jalan Pramuka (Kerkof) Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi tersebut cukup tinggi. Hal itu dibuktikan dengan semakin bertambahnya jumlah nasabah sejak beberapa bulan terakhir. “Ini tidak terlepas dari sosialisasi yang kami lakukan,”ujarnya.
Syarat menjadi nasabah Bank Sammi sangat mudah. Pemohon cukup membawa photo copi KTP dan satu kantong sampah sebagai setoran awal. Nasabah kemudian diberikan buku tabungan sebagai catatan nilai rupiah sampah yang telah disetorkan. “Setiap setoran sampah, dihitung nilainya dan dicatat dalam buku tabungan,”jelasnya.
Ada sebanyak 58 jenis sampah yang bisa diterima di Bank Sammi. Sampah yang bernilai uang yakni berbahan besi, plastik, kertas dan botol. Sejumlah barang bekas kemasan minuman ringan juga diterima di bank tersebut. “Tidak perlu diantar ke Bank Sammi, kalau sudah terkumpul, petugas akan datang menjemput,”katanya.
Dia mengakui, harga sampah yang di terima Bank Sammi di bawah harga pembelian lapak-lapak yang biasa ditemui di masyarakat. Namun, karena pelayanan terus ditingkatkan, jumlah nasabah juga semakin bertambah. Hingga Juni 2015, nasabah Bank Sammi sebanyak 928 rumah tangga. “Nasabah ada diseluruh kecamatan, meski belum diseluruh kelurahan di Kota Sukabumi,” kata Lilis.
DPSPP Kota Sukabumi juga tengah berupaya meningkatkan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, reuse dan recycle (TPS3 R) berbasis masyarakat. Pembangunan fasilitas tersebut dibangun dengan biaya pemerintah. Dengan catatan, wilayah sanggung menyediakan minimal 200 meter lahan untuk pembangunannya. TPS3 R sudah berjalan di tiga kecamatan dan lima kelurahan yakni di Kecamatan Baros, Kecamatan Cibeureum dan Kecamatan Citamiang, serta Kelurahan Gunungpuyuh, Kelurahan Cikondang, Kelurahan Sindangsari, Kelurahan Baros, dan Kelurahan Cikundul. “Berbagai jenis sampah bisa dioleh di TPS3R, kecuali yang mengandung residu,”jelasnya.
Ketua pelaksana Bank Sammi,Rezi Andrian menambahkan, keberadaan Bank Sammi tidak akan mematikan usaha lapak limbah. Sebab, harga beli Bank Sammi lebih rendah dari lapak. “Ada perbedaan harga, dan lebih teratur. Ini yang membuat pengusaha rongsokan tidak kehilangan pelanggannya,” jelasnya. Dikatakan, Bank Sammi tidak membatasi nasabah yang ingin mengambil uangnya. tabungannya, Bahkan, jika ada nasabah berhalangan tidak perlu repot- datang ke Bank Sammi. Petugas datang ke rumah nasabah untuk mengantarkan uang tabungannya. “Menjelang puasa kemarin banyak nasabah yang mencairkan uang. Kalau ada nasabah yang sakit ketika sampahnya diangkut petugas, buku tabungannya bisa dititip ke petugas. Buku tabungan diantar kembali. “ujarnya. >>Lelly
