Badan Kesbangpol Kota Bandung: Peran Pancasila Dalam Agama

Bandung, (MR)
Badan Kesbangpol Kota Bandung menggelar kegiatan Rapar Kordinasi (Rakor) penguatan peran dan fungsi forum-forum Mitra Strategis dalam meningkatkan komunikasi, koordinasi, sinergitas, di hotel atlantik City beberapa waktu lalu. Rakor yang mengambil tema “Diskusi Umum Penguatan Karakter Berbangsa dan Bernegara dalam Pendidikan”. Kegiatan ini juga untuk merumuskan pola kerjasama antara Forum Mitra strategis, dalam mewujudkan Kota Bandung yang Aman dan Kondusif.
Untuk mengembangkan nilai-nilai Pancasila dan memadukannya dengan agama, diperlukan usaha yang cukup keras. Salah satunya kita harus memiliki rasa nasionalisme yang tinggi.
Selain itu, kita juga harus mempunyai kemauan yang keras guna mewujudkan negara Indonesia yang aman, makmur dan nyaman bagi setiap orang yang berada di dalamnya. UUD 1945 kita harus menjadikan pedoman bagi bangsa dan negara ini, agar terciptanya rasa toleransi antara pemeluk agama di Indonesia dan di dunia, serta untuk menciptakan suasana yang serasi,selaras dan seimbang.
Kegiatan yang dihadiri perwakilan Walikota Bandung Dra. Lusi Susilayani, Kepala Badan Kesbangpol Kota Bandung, Sekretaris Badan Kesbangpol, Kepala Bidang Bina Ideologi dan Wawasan Kebangsaan beserta para Kasubid serta turut dihadirkan seorang dari Akademisi Profesor Dr. Cecep Darmawan S.IP.M.Si, serta sebanyak 150 undangan diantaranya dari Forum Mitra Strategis Kesbangpol Kota Bandung, para Guru PPKN SMP Negeri dan Swasta.
Dalam pemaparan mengenai  butiran pancasila sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, dan telah dijelaskan didalam UUD 1945 dan Pasal 29 ayat 1 dan 2, tentang kebebasan beragama, namun agama yang hanya di akui di Indonesia saja yaitu agama resmi seperti Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Buddha, Konghucu. Sejak dulu sampai sekarang seperti yang kita ketahui, kalau kepercayaan akan suatu zat yang diagungkan itu  sudah ada sejak zaman nenek moyang kita.
Mungkin banyak di kalangan masyarakat Indonesia sudah tidak lagi mengetahui bahwa sebelum agama-agama “resmi” (agama yang diakui); Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu dan Buddha, kemudian kini Konghucu, masuk ke Nusantara atau Indonesia, di setiap daerah telah ada agama-agama atau kepercayaan asli, seperti Sunda Wiwitan yang dipeluk oleh masyarakat Sunda di Kanekes Lebak Banten. Sunda Wiwitan aliran Madrais juga dikenal sebagai agama Cigugur (dan ada beberapa penamaan lain) di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat Buhun di Jawa Barat.
Agama-agama asli Nusantara tersebut didegradasi sebagai ajaran animisme, penyembah berhala / batu atau hanya sebagai aliran kepercayaan. Hingga kini, tak satu pun agama-agama dan kepercayaan asli Nusantara yang diakui di Republik Indonesia sebagai agama dengan hak-hak untuk dicantumkan di KTP, Akta Kelahiran, pencatatan perkawinan di Kantor Catatan Sipil, dsb.
Negara Menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk Memeluk agamanya masing-masing dan beribadah menurut agama dan kepercayaan.Dan didalam butiran pancasila sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Akan tetapi meski telah dijelaskan didalam UUD 1945 dan Pasal 29 ayat 1 dan 2, tentang kebebasan beragama, namun agama yang hanya di akui di Indonesia saja yaitu agama resmi seperti Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Buddha, Konghucu.
Negara Menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk Memeluk agamanya masing-masing dan beribadah menurut agama dan kepercayaan itu” ( pasal dua ). Pada saat Piagam Jakarta di tetapkan dalam sidang BPUPKI, butiran yang pertama menyatakan tentang “……dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluknya” karena Negara Indonesia ini adalah Negara Beragama dan bukan Negara agama,sehingga butiran yang pertama dari piagam Jakarta itu di gantu menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Sebenarnya seberapa besarkah peranan Agama didalam pancasila itu? dan bagaimanakah peranan agama dan pancasila itu didalam kehidupan sehari-hari? Lalu bagaimana tentang teks UUD 1945 alenia ke tiga yang menyatakan bahwa “berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa….” Begitu pentingnya peranan ini didalam sebuah Negara yang terdiri dari beberapa agama.
Sejak semula Pancasila berperan sebagai mufakat dari pergulatan 90 Revitalisasi Pancasila Sebagai Civil Religion. Agama-agama dalam meningkatkan moral bangsa yang plural ini. Gagasan kebersamaan, kebangsaan, keadilan dan kesejahteraan menjadiidaman rakyat dan tujuan negara ini. Kontroversi bukan saja antarumatberagama yang berbeda, tetapi juga inter-umat beragama dan interespolitik.
“Sesuai dengan nurani bangsa ini, maka Pancasila adalah jalan keluar dari konflik yang muncul. Di dalam Pancasila segala perbedaan sosial dilebur secara akomodasi bahkan dapat dikompromikan,” ujar kepala kesbangpol kota Bandung, Drs. Hikmat Ginanjar,M.Si.
“Di sinilah letak keunggulan Pancasila sebagai landasan ideal bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, bahkan bermasyarakat. Namun beberapa orang tidak puas dan mencoba menggantikan, apakah itu dari pihak ateis maupun dari oknum kelompok tertentu. Sepanjang sejarah Indonesia berdiri, banya usaha yang dilandasi ketidak puasan ideologi dan ingin memajukan kelompoknya sendiri di atas kepentingan bangsa dan negara. Hikmat pun mempersilakan bagi siapa saja yang menginginkan penjelasan datang ke kantornya, karena pemaparan in sudah dibukukan,” terangnya. >>Dodi

Related posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.