Natuna, (MR)
Anjloknya harga minyak dunia, teryata berdampak buruk terhadap Daerah penghasil. Hal tersebut disampaikan Bupati natuna Ilyas Sabli, ketika dikonfirmasi wartawan usai, melakukan pertemuan dengan sejumlah siswa pertanian yang akan diberangkatkan ke Jepang.
Ilyas memastikan, jika anggaran belanja Daerah tahun 2015 telah disahkan bersama DPRD, sebanyak 1,4 trilyun, dipastikan mengalami defisit sekitar Rp. 300 millyar. “Sesuai dengan perhitungan, APBD Natuna menukik tajam. Hal tersebut dikarenakan, harga minyak dunia terus mengalami penurunan, sehingga berimbas terhadap pendapatan bagi Daerah penghasil Migas.
Untuk menanggulagi, semua kegiatan telah dicanangkan Pemerintah, Dirinya bersama DPRD, berencana mengjukan pinjaman agar semua kegiatan bisa berjalan lancar. Namun, ini masih berupa wacana, Kita harus mengkaji payung hukum apa yang dapat dilakukan. Karena pinjaman sebesar ini, tidak bakal dapat dilakukan disini.
Kejadian ini sebenarnya tidak kita harapkan. Namun apa mau dikata, dari januari hingga sekarang, minyak dunia terus mengalami penurunan. Sedangkan Natuna sendiri hanya mengharapkan dari hasil DBH itu. Sebab untuk PAD, masih minim. Kendati demikian, untuk proyek multyer, tahun ini harus diselesaikan pembanyarannya, mengingat, masa jabatan tinggal beberapa bulan lagi. Jika ada proyek multyer belum selesai sampai pada waktunya, akan kita lakukan pemutusan kontrak. “Disisa masa jabatan, Saya tidak ingin ada masalah, ucap Ilyas.
Disinggung soal Dirinya apa mau maju lagi di Pilkada 2015 ini, Ilyas mengaku, akan pokus untuk menyelesaikan tugas, sebagai Bupati. Kebetulan, masa pensiun masih lama lagi, Saya masih mau melanjutkan tugas hingga pensiun 2019 mendatang. Artinya Dia tidak akan maju dalam pilkada nanti. Mengenai adanya isu bahwa Dirinya bakal dipasangkan sama salah satu calon dari partai PPP, Ilyas menanggapi dengan dingin. Itukan hanya isu, tak usah dikomsumsi, Dia tetap komit menghabiskan masa jabatan sebagai Bupati hingga tuntas.
Sementara itu kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Natuna, mengaku tahun ini, anggaran Dinas Pendidikan turun draktis dari biasanya. Meski demikian, Ia tetap menjalankan kegiatan segala prioritas. Akibat dari pemangkasan anggaran, Dirinya belum berani melakukan pelelangan sejumlah paket proyek, sebelum ada instruksi. “Kita tidak mau, paket dikerjakan, anggarannya tidak ada.” Makanya untuk semua jenis proyek, di danani oleh APBD, belum kita kerjakan, kecuali dana DAK, ucapnya. Kalau tahun lalu Disdik anggarannya 100 millyar lebih tahun ini, hanya 80 millyar. Mengingat APBD Kita defisit seperti yang dikatakan oleh Bupati, kemungkinan besar, ada pemangkasan lagi tiap kegiatan Dinas.
Hasil pantauan dilapangan, turunnya harga minyak Dunia, sangat berpengaruh terhadap daerah penghasil. Hingga awal bulan maret, belum ada anggaran dari dana DBH yang telah dikucurkan agar kegiatan bisa berjalan sebagaimana mestinya. Beberapa pengawai belum menerima tunjangan, hanya gaji pokok saja. Oleh karena itu, kiranya Pemerintah Pusat, mampu meihat kebutuhan daerah, yang tidak mempunyai PAD. Dengan demikian penyerapan anggaran bisa dilakukan secara maksimal. >>Roy
