Anambas Siapkan Langkah Preventiv Menghadapi Bencana Alam

Anambas,(MR)

BADAN Kesatuan Bangsa Politik dan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kepulauan Anambas menggelar kegiatan Sosialisasi Penanggulangan Bencana Alam di aula Siantan mulai Senin (15-16/11).

A.Azim ketua panitia kegiatan mengatakan, maksud diadakan sosialisasi ini adalah untuk memberikan pengetahuan dan wawasan kepada masyarakat, khususnya aparatur kabupaten, kecamatan, kelurahan dan desa di KKA dalam mengatasi dan  menangani apabila terjadi bencana alam. Sedangkan tujuannya agar masyarakat yang hadir dapat mengetahui tentang cara-cara pencegahan, penanganan dan penanggulangan apabila terjadi bencana alam secara tiba-tiba.

Sasaran kegiatan adalah aparatur se KKA, dengan harapan menambah pengetahuan dan wawasan tentang penanganan, pencegahan dan penanggulangan bencana di KKA untuk itu, seluruh peserta di harapkan dapat menyebarkan informasi kepada masyarakat luas sesuai bidang nya masing-masing, sehingga masyarakat akan menjadi lebih siap.

Pada kegiatan diikuti oleh 100 orang peserta, yang merupakan aparatur yang ada di KKA yang mendatangkan nara sumber dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana pusat di Jakarta serta dari Badan Penanggulanngan Bencana Daerah Provinsi Kepri dan dari Bakesbang Pol Penganggulangan Bencana Daerah KKA.

Dalam sambutan Bupati KKA yang dibacakan asisten 1, Erson Gempa Apriyandi mengatakan, KKA memiliki berbagai keunggulan dan SDA yang memadai. Namun disisi lain wilayahnya terletak di daerah yang memiliki kondisi geografis, geologis  dan demografis rawan bencana dengan frekuensi cukup tinggi, sehingga memerlukan penanganan sistematis, terpadu dan terkoordinasi.

Kondisi Iklim dipengaruhi perubahan angin dan musim. Berdasarkan arah angin musim di wilayah Kabupaten Kepulauan Anambas dibagi 4 periode yaitu : periode Januari-Maret: bertiup angin Utara dan Timur laut, curah hujan sedang dengan temperatur udara sedang, periode April-Juni: bertiup angin Timur Laut/Tenggara, hujan sedikit dengan temperatur udara agak panas (lebih kurang 32°C).

Periode Juli-September: bertiup angin tenggara, hujan turun agak banyak dengan temperatur udara agak panas (lebih kurang 32°C), periode Oktober-Desember: bertiup angin barat/utara, hujan banyak turun pada bulan September, Oktober dan November, temperatur udara agak dingin (lebih kurang 28.9ºC) dan lembab pada malam hari. Karena banyaknya perubahan iklim yang dipengaruhi angin, sangat diperlukan pemahaman mendalam tentang penanganan bencana yang mungkin terjadi sewaktu-waktu.

Sehubungan dengan hal itu, pemerintah KKA telah membentuk Bakesbang Pol Penanggulangan Bencana Daerah KKA untuk dapat berfungsi semaksimal mungkin, sesuai dengan tugas pokoknya penanganan bencana daerah.

Menurut Erson tugas tersebut tidak bisa dilaksanakan secara maksimal, karena badan yang ada sekarang hanya bisa menangani sampai batas pra bencana. “Setelah masuk tahapan tanggap darurat kita benar-benar membutuhkan institusi khusus yang terlatih, cepat dan memiliki sarana memadai. Kita berdoa supaya badan yang dikhususkan untuk menangani bencana segera dibentuk, karena memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat,” papar Erson.

Dikatakan Erson, bencana adalah suatu keadaan dan kondisi sulit untuk diprediksi. Tidak ada 1 pun manusia apalagi pemerintah manapun yang secara tegas-tegas berkata mereka sanggup untuk menghadapi datangnya bencana. Karena setiap manusia tidak akan pernah tahu apa jenis dan berapa volume bencana yang terjadi, meskipun pemerintah setempat sudah mempersiapkan segala hal untuk menanggulangi bencana. Disaat bencana terjadi, tidak ada yang berani mengatakan mereka sanggup untuk menghadapinya. “Namun bukan berarti kita pasrah dan tidak mempersiapkan diri sebaik mungkin sesuai dengan porsi kita untuk menghadapi bencana. Kita dapat melakukan hal-hal yang lebih baik daripada sekedar menaggulangi, seperti mengadakan kegiatan preventiv atau pencegahan” Kata Erson.

Penanggulangan bencana yang dimaksud oleh Erson merupakan sebuah rangkaian kegiatan yang bersifat pencegahan, penyelamatan, rehabilitasi yang harus diadakan secara terkoordiansi, komprehensif atau menyeluruh, serta cepat tepat dan tepat saran yang melibatkan lintas sektoral dan lintas wilayah, sehingga membutuhkan koordinasi yang sangat baik dari berbagai instansi. Indikatornya adalah system penanggulangan bencana, pengaturan penanganan bencana, organisasi yang mengatur, rencana dan pengaturan kedepan untuk penanggulangan bencana. menurut Erson.

Erson memaparkan, masalah bencana alam tidak akan pernah berdiri sendiri, karena pasti akan berdampak kepada maslah-masalah yang lain, baik itu kesehatan, bidang ekonomi, bidang infra struktur, pendidikan, bahkan lebih parah masalah kriminal. Hal ini perlu untuk dipikirkan dari awal, agar pada saat terjadi bencana, penanganan tentang segala dampak yang berimbas ke sektor lain bisa ditangani dengan koordinasi yang baik.

Penanganan bencana alam di KKA cenderung bisa lambat dan kurang maksimal. Disebabkan karena kondisi geografis kita sangat berat karena terdiri dari banyak pulau dan lautan yang luas serta penyebaran penduduk-nya yang terpencar. Selanjutnya belum ada sebuah lembaga teknis atau SKPD khusus yang benar-benar terlatih untuk menanggulangi bencana alam baik pada saat pra bencana, tanggap darurat bencana, maupun pada saat pasca bencana. “Kendala yang kita hadapi sekarang adalah kurang nya fasilitas dan SDM yang mampu mengcover masalah penanganan bencana ini dan masih minimnya dukungan dana” demikian ungkap Erson.

Diakhir sambutannya, Erson menyampaikan harapan dan himbauan nya kepada setiap desa yang ada di KKA. supaya setiap desa dan aparaturnya bisa melakukan kegiatan-kegiatan preventive untuk mencegah terjadinya bencana, baik yang disebabkan oleh alam, maupun oleh tangan manusia dengan cara membuat kebijakan desa yang menyangkut keselamatan hajat hidup orang banyak, pro dengan lingkungan. Dan desa juga diharapkan untuk dapat lebih pro aktif dalam mengajukan pembangunan infrastruktur desa yang mendukung terhadap pencegahan bencana dengan mekanisme yang telah diatur. Desa mampu membaca situasi wilayahnya sendiri, sehingga mampu memper-siapkan apa-apa saja yang dibutuhkan oleh desa, baik secara infrastruktur dan kebijakan desa dalam rangka penang-gulangan bencana di desa masing-masing. Sebagian dana desa juga diharapkan disisihkan untuk bantuan bencana alam, seperti pemulihan infrastruktur desa. >> Sarma/Edo

Related posts