Ada Bendungan Disisi Bendungan Proyek Empuk, Irigasi Klarik DiPertanyakan?

Bendungan Pertama PelantarNatuna, (MR)
Siang itu, terik mata hari begitu menyengat. Meski panas, tidak mengurungkan niat, wakil rakyat, bersama Camat Kalarik, untuk melakukan survey lapangan, demi mencari sumber air, guna mensukseskan MTQ Kabupaten yang diselenggarakan di Kecamatan Bunguran Utara. Butuh waktu setengah jam, ke lokasi proyek. Tiba dilokasi, sejumlah anggota Dewan komisi I DPRD Natuna merasa kaget, melihat pekerjaan proyek bendungan irigasi, pekerjaannya “amburadul”. Mengapa tidak, dalam satu lokasi, ada dua bangunan bendungan. Yang satu dikerjakan tahun 2014, dan di sebelahnya dikerjakan tahun 2015.

Bendungan pertama terlihat tidak terurus, karena tidak ada sumber air, dan sudah ditumbuhi rumput. Sementara bendungan kedua, memiliki air yang sangat jernih. “Ya cukuplah untuk dipakai sebulan, ucap Izhar saat dikonfirmasi dilokasi Proyek. Sementara Ketua komisi I Raja Marjuni, mengaku heran akan proyek tersebut. Selain sudah mengalami retak bendungan tersebut dikawatirkan tidak bakal bertahan lama. Mereka  akan mempertanyakan Progres Pembangunan Bendungan Kelarik. Selain belum rampung, kegiatan ini terasa janggal. Kok bisa ada dua bendungan terbangun disini. Apakah bangunan ini salah perencanaan atau tidak. Makanya, Kami akan segera mungkin untuk melakukan pemanggilan, ucap Raja Marzuni.

Jika melihat angka anggaran yang telah dikucurkan oleh Pemerintah Pusat, pembangunan irigasi tersebut sudah menelan anggaran puluhan miliyar, bersumber dari dana APBN. Untuk tahun 2015 pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mengalokasikan anggaran sebesar Rp.17,1 Miliyar. Akan tetapi sampai awal tahun 2016 pekerjaan baru sebatas pembangunan tanggul dan saluran irigasi. Meski anggaran besar, sejumlah bangunan sudah banyak mengalami keretakan, dikwatirkan, jika hujan lebat tanggul tersebut akan roboh.

“Sebenarnya tujuan Kita kesini, ingin melihat sumber air, guna dijadikan untuk kebutuhan masyarakat banyak saat MTQ nanti. Sampai di areal bendungan melihat model struktur bangunan agak lain, ditambah dinding bendungan mulai retak-retak, tentu menimbulkan tanda tanya. padahal bendungan ini, belum setahun dikerjakan,” kata Raja Marzuni kepada media saat meninjau lokasi 2 pekan lalu.

Menurut Marzuni bentuk desain bangunan bendungan tidak seperti bendungan di desa Tapau Kecamatan Bunguran Tengah. Disini ada dua bendungan, pertama ada ukuran kecil, dan ada ukuran besar. “Nanti coba kita tanyak dinas PU, desain bendung Kelarik ini seperti apa,” paparnya.

Sementara itu Camat Bunguran Utara, Izhar menyebutkan, pembangunan bendungan Kelarik akan selesai tahun 2017, oleh karena itu masih ada proyek lanjutan, sampai tahun 2017. Semoga saja bisa selesai, sehingga warga di Kecamatan Bunguran Utara bisa memanfaatkan air irigasi tersebut untuk berbagai keperluan seperti bercocok tanam dan kebutuhan air bersih,” kata Izhar.

Akan tetapi, terkait kondisi struktur bangunan yang mulai retak, Izhar mengaku tidak mengetahui kenapa banyak retakan-retakan pada dinding bendung. “Kalau sudah berfungsi, retak-retak pada dinding bendungan ini berbahaya gak ya, apa gak takut jebol. Lihat saja itu retaknya sampai dinding bawah,” ucap Izhar.

Hasil investigasi dilapangan, terlihat beberapa alat berat , sedang melakukan penggalian pasir. Dimana proyek tersebut dikerjakan oleh PT Benteng Indo Raya. Hal tersebut dipastikan bahwa, Proyek lanjutan pembangunan bendungan tetap berjalan. Yang jadi pertanyaan, mengapa proyek baru dikerjakan tetapi sudah mengalami kerusakan?. Celakanya, meski pekerjaan “amburadul” pihak rekanan masih dipercaya untuk mengerjakan kelanjutan Proyek. Usut punya usut, ternyata proyek tersebut memakai pasir gunung, bukan pasir sungai, tentu kwalitas dan harga jauh berbeda. Jika memakai pasir gunung, wajar saja, proyek tersebut kwalitasnya diragukan.

Lalu timbul pertanyaan, siapa orang yang akan bertanggung jawab dalam soal ini?,  sejauh mana pengawasan yang dilakukan oleh konsultan  dan Kementerian pekerjaan umum?. Hingga berita ini diturunkan belum ada satupun  yang dapat memberikan keterangan, terkait proyek irigasi klarik, baik dari kementerian PU, Kontraktor maupun konsultan pengawas. Sementara Kabid Irigasi dan Pengairan Kabupaten Natuna Ayub,  ketika dikonfirmasi diruang kerjanya, mengaku tidak mengetahui soal  progres pembangunan irigasi di desa Klarik. Mereka tidak pernah melibatkan Daerah soal pembangunan itu, sehingga Kita tidak berani melakukan pegawasan, paparnya. Simak berita edisi depan, Proyek empuk, Irigasi Klarik Dibidik Aparat Hukum. >>Roy

Related posts