WAKIL BUPATI Natuna Imalko Ismail secara resmi membuka pertandingan gasing diselenggarakan Dewan Pimpinan Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Natuna, untuk memperebutkan piala bergilir Wakil Bupati Natuna, Jumat malam 15 Maret lalu. Pelaksanaan pertandingan gasing selama 23 hari, dari 15 Maret hingga 7 April, KNPI menggunakan lapangan Gabungan Pencinta Gasing Natuna (GPGN) yang berada di Jalan Sihotang, Kota Ranai, Ibukota Kabupaten Natuna. Dalam sambutannya, mengatakan, dalam pertandingan gasing, berbagai faedah diperoleh. Selain dijadikan sebagai hiburan, gasing dapat menjalin tali persaudaraan antar sesama anak Melayu. “ Sebagai putra daerah, kita berkewajiban melestarikan tradisi yang hampir terlupakan ini,” kata Imalko.
Sementara itu Ketua DPD KNPI Natuna Erianto kepada media ini mengatakan, pertandingan gasing baru terselenggara sejak ia menjabat sebagai ketua KNPI beberapa bulan lalu. Pertandingan ini memperebutkan piala bergilir Wabup Natuna, serta dikuti 23 club dari delapan kecamatan se-Kabupaten Natuna. Dengan di-ikuti 23 club, pertandingan gasing memakan waktu 23 hari lamanya, saat dikonfirmasi dilokasi pertandingan.
Menurut Erianto biasa disapa Ujang Kecik, para juara 1 hingga harapan 1, bukan hanya memperoleh piala ataupun tropi, mereka juga mendapat uang pembinaan. “Kita berharap, pertandingan gasing ini dapat berjalan sukses,” kata Calon Legislatif Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dari Partai Demokrat Natuna, Daerah Pemilihan Natuna-Anambas itu. “Usai pertandingan gasing, kita akan laksanakan pertandingan pencak silat yang akan di-ikuti para pesilat 12 kecamatan se-Kabupaten Natuna,” katanya lagi.
Gasing adalah sebuah benda lonjong dibuat dari kayu. Agar daya tahan lebih kuat, digunakan pohon jambu klutuk yang lebih liat dan lentur. Kayu paling baik dari spesies merbau, seperti merbau tanduk, merbau darah, merbau johol dan merbau keradah. Kayu-kayu ini mudah dilarik tetapi tidak mudah serpih. Selain itu, kayu leban tanduk, limau, bakau, koran, sepan, penaga dan keranji bisa jadi pilihan.
Jenis kayu mudah didapat, yaitu : kayu manggis, jambu batu, cikuatau dan asam jawa. Kayu-kayu ini diruncing dengan menggunakan golok, yang dijadikan kepalanya juga diruncing. Panjang gasing antara 8-10 centimeter dan garis tengah berkisar antara 4-5 centimeter. Kalau sudah jadi, bentuknya mirip guci.
Antara kepala dan badan gasing di-iris sekitar 2 centimeter sebagai tempat menggulung tali. Dengan mengikatkan tali dikepala gasing, dapat memainkannya dengan melempar ke lantai, gasing pun berputar cepat. Ingin bertambah kecepatan, kadangkala si pemain melecuti tali pemutar tadi. Sehingga energi putar gasing makin bertambah serta waktu putaran bisa sampai lima menit. Tali gasing dibuat dari kulit pokok bebaru. Tapi kini, talinya dibuat dari nilon. Panjang tali tergantung panjang tangan seseorang, biasanya satu meter. Minyak kelapa digunakan untuk melicinkan pergerakan tali gasing.
Bagaimana cara bertanding? Erianto alias Ujang Kecik bercerita, setiap tim terdiri dari 5 orang. Sebelum memulai pertandingan, pertama sekali dilakukan adalah mengadu kedua tim untuk mengundi siapa terlebih dahulu sebagai pemangka (pemukul-red).Dengan cara putaran gasing siapa yang lebih lama berputar. Yang kalah mengundi, dinyatakan sebagai penahan.
Setiap tim terdiri dari lima orang itu diberi kesempatan memukul gasing lawan sebanyak 3 kali dengan akumulasi 5 x 3 = 15 kali dalam satu tim, dan tim satunya juga mempunyai peluang sama. Penilaian dewan juri dilakukan dengan cara menghitung akumulasi nilai dari ke 15 pukulan masing-masing tim. Tidak semua pemukul dinyatakan sebagai pemenang dan mendapat nilai, ada kalanya penahan juga mendapat nilai. Jika gasing si pemangka keluar dari tempat disediakan, setelah memukul gasing lawan ternyata kepala gasing pemukul berada di posisi bawah. Apabila gasing pemukul mengenai gasing penahan dan gasing penahan masih berputar, maka penilaian dihitung dari siapa paling lama berputar. Cara memukul, kata Erianto, “Bebas dari semua sisi.”
Sementara , menurut Wakil Bupati Natuna, bermain gasing dapat menyemarakan rumah tradisional Melayu, kerana gelanggang permainan biasanya di halaman rumah, dan di bawah pohon rindang. Sehingga suasana gelanggang menjadi sejuk. Permainan ini bagi orang Melayu juga mengukur tahap kemahiran dan kepantasan seseorang dalam menghadapi situasi. Kemahiran dan kebolehan ini diaplikasi secara sistematik dalam gelanggang gasing.
Kepantasan dan ketepatan amat jelas, dan memupuk semangat tinggi. Jadi, permainan gasing harus terus dimainkan oleh generasi muda sekarang sebagai langkah mengekalkan daya kreatif Bangsa Melayu mencipta permainan berasaskan serpihan kayu. Jika usaha gigih diteruskan pasti suatu ketika, gasing akan menjadi permainan yang digemari. Pemulihan permainan ini, kata Wabup, “Kita harap dapat memaparkan kepada umum tentang warisan Bangsa Melayu yang hampir terlupakan agar terus berkekalan.”
Konan, dahulu permainan gasing identik dengan mistik, sebab, jika tanding antar Desa, bisa saja memakan korban, namun seiring bertambahnya waktu, hal ini tidak ada lagi. Gasing sudah menjadi tradisi dan permainan rakyat masyarakat kabupaten natuna. >> Roy

