Kota Tangerang, MR – Penunjukan Rizal sebagai Direktur Utama PT TNG, perusahaan milik Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kota Tangerang, kembali menuai gelombang protes dari berbagai elemen masyarakat. Demonstrasi besar-besaran sempat terjadi di kawasan Pusat Pemerintahan (Puspem), diwarnai aksi bakar ban, lempar telur busuk, hingga spanduk penolakan yang menyebut proses seleksi sarat “permainan kotor”.
Sosok Rizal sendiri tak asing bagi kalangan aktivis. Ia mendaftarkan diri sehari sebelum penutupan seleksi, di bawah komando Herman Suwarna dan tim. Dari 11 kandidat, hanya 10 yang lolos administrasi. Namun hasil akhir yang menetapkan Rizal sebagai Dirut justru dianggap penuh kontroversi.
“Seleksi ini hanya formalitas! Kami minta transparansi, tapi pansel diam! Mereka cuma jawab ‘nanti disiapkan’. Tapi nyatanya sampai Rizal dilantik, tak ada bukti apa-apa. Ini gratifikasi terang-terangan!” tegas salah satu perwakilan massa aksi yang diterima berdialog di dalam gedung Puspem.
Tak hanya itu, rumor menyebut beberapa oknum LSM dan aktivis ‘disuap’ untuk meredam isu demi melancarkan pelantikan Rizal. Hal ini memicu kemarahan publik yang mempertanyakan integritas moral para penggiat masyarakat sipil.
Setelah menjabat, PT TNG justru terus mencatatkan kerugian. Tak ada kontribusi signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), bahkan disebut-sebut terus nombok anggaran. Hal ini memunculkan pertanyaan besar: Mengapa BUMD yang terus merugi terus dipertahankan?
“Setiap perusahaan harusnya berorientasi profit. Tapi PT TNG malah seperti ‘pengemis’ APBD. BUMD kok dijadikan ladang bancakan?” ujar salah satu tokoh masyarakat yang enggan disebut namanya.
Kekecewaan publik terhadap birokrasi Kota Tangerang pun memuncak. Di media sosial, muncul sindiran keras terhadap para “birokrat penjilat” yang dianggap membiarkan kejanggalan ini terus berlangsung.
“Mereka-mereka ini semoga saat meninggal ada yang ngangkat mayatnya sampai ke liang lahat. Biar tahu rasa, sudah rugikan rakyat, masih juga dilindungi!” tulis salah satu aktivis secara ekstrem.
Publik kini menanti sikap tegas dari Wali Kota, DPRD, dan aparat penegak hukum. Apakah kasus ini akan dibuka terang benderang, atau dibiarkan tenggelam seperti skandal-skandal sebelumnya?
Redaksi masih berupaya mengonfirmasi pernyataan dari tim pansel dan Dirut PT TNG. (Handri M/Jhon Arieza Iskandar)
