900 Imigran Gelap Ditahan di Kupang

Kupang,(MR)
KANTOR Imigrasi Kupang berhasil menahan sebanyak 900 imigran gelap asal Negara Timur Tengah yang menjadikan perairan Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai tempat transit untuk mencari suaka di Australia. “Jumlah itu merupakan akumulasi sepanjang tahun 2012 hingga Agustus lalu,” kata Kepala Imigrasi Kupang, Silvester Sili Laba di Kupang, Kamis (20/9).
Dia mengatakan kasus penangkapan imigran gelap terbanyak dilakukan pada Juni 2012 dengan jumlah imigran 87 orang yang ditangkap di perairan Sumba. Para imigran itu dibawa ke Kupang untuk ditampung di bekas rumah detensi migrasi (Rudenim) Kupang. Dari jumlah yang ada, 11 orang diantaranya kabur dan hingga saat ini belum tertangkap. “Bagi para imigran asal Timur Tengah seperti Afganistan dan Pakistan perairan NTT menjadi tempat transit yang aman menuju Australia, tempat yang istimewa seperti surga dalam mendapatkan kebebasan dan harapan mereka,” kata Silvester.
Dia menegaskan, NTT dijadikan sebagai tempat transit karena bisa dijangkau dengan kapal nelayan. Akibatnya, para nelayan pun tergiur dengan janji-janji mendapatkan uang dari para imigran tanpa memikirkan keselamatan dan aturan hukum yang berlaku. Para nelayan menjadikan pulau Rote, Sabu, Sumba dan Kupang sebagai tempat menyeberangkan para imigran gelap ke Australia.
Menurut Silvester, NTT menjadi bagian dari jaringan penyelundupan manusia karena ulah segelintir oknum yang melihat ada peluang mengeruk keuntungan pribadi. Hampir setiap tahun, kata dia jumlah imigran gelap yang ditangkap polisi baik di perairan Indonesia maupun Australia terus meningkat.
Silvester mengatakan, ada semacam kelompok kejahatan yang dibentuk untuk mengorganisir penyelundupan manusia dan bekerja sangat rapih termasuk penangkapan, deportasi, dan lolosnya imigrasi dari rumah tahanan.
Banyaknya imigran gelap yang berkeliaran di daerah ini menjadi sumber rezeki baru bagi kelompok kriminal tersebut. Kelompok ini secara leluasa mengatur sesuai kebutuhan, kapan para imigran ditangkap dan kapan dibiarkanberangkat ke Australia.
Karena itu, lanjut Silvester penting kerja sama semua pihak untuk memperketat sistim pengawasan di semua lembaga atau istitusi. Sehingga bisa menekan kehadiran para imigran yang menjadikan Indonesia pada umumnya dan NTT pada khususnya sebagai tempat transit, baik melalui laut maupun udara.
Selain itu melakukan peningkatan kerja sama dengan pemerintah Australia, agar bisa lebih terbuka untuk menekan kemungkinan meningkatnya imigran ke negara tersebut.  “Memang selama ini sudah banyak kerja sama antara Indonesia dan Australia, tapi belum diimplementasikan secara maksimal,” kata Silvester. >> Moses Mone KK

Related posts