Kediri,(MR)
KEJADIAN yang dialami oleh Moch Syafii (37) warga desa Senorejo Kecamatan Groggol Kabupaten Kediri Jawa Timur sungguh tragis dan tidak terpikir sebelumnya, bagaikan mimpi buruk yang menjadi kenyataan itulah mungkin apa yang menjadi pemikiran dari Moch Syafii, pasca menjalani operasi kanker perut yang dideritanya dirinya mengalami kelumpuhan di perut ke bawah (kedua kakinya) tidak bisa di gerakan dan mati rasa.
Ditemui tergolek lemah MR mendatangi Kediamannya di dusun Sumber gambi Desa Senorejo Syafii hanya bisa tiduran dan berselimut tebal karena mengaku tubuhnya selalu kedinginan. Menurut Syafii dirinya mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya, sejak dua bulan terakhir.
Syafii mengatakan dirinya masuk ke UGD RSUD Gambiran milik pemerintah kota Kediri pada 25 januari 2012, dan kemudian petugas menyarankan untuk opname dan mengarahkan masuk ke kamar Flamboyan 3 setelah melakukan cek up. Lebih lanjut Syafii menuturkan menurut hasil pemeriksaan UGD dirinya menderita tumor jinak di perut dekat pusar, dan dianjurkan untuk segera menjalani operasi pengangkatan tumor.
Setelah seminggu opname di RSUD Gambiran operasipun di jalani oleh Syafii (30/1), dan yang menarik Syafii mengungkapkan pada saat dirinya di operasi mengaku tidak di bius total “hanya perut dan bagian bawah yang di bius, jadi Saya masih dalam keadaan sadar waktu perut saya di bedah. Saya merasakan saat perut saya di robek,” kata Syafii miris.
Dari kasus tersebut Syafii merasa sangat di rugikan, karena menurutnya pihak RSUD Gambiran tidak merasa bertanggung jawab atas kelumpuhan yang dideritanya pasca operasi. “ya Rumah sakit Gambiran saat saya tanya dulu, pihak Gambiran mengatakan bahwa kelumpuhan yang di alaminya tidak ada hubunganya dengan operasinya” Keluhnya. Dan Syafii juga berpendapat bahwa telah terjadi kelalaian dokter saat mengoperasi dirinya. Dokter Edo (dr Edi Suprianto) yang mengoperasi Saya,” Sambungnya.
Pasca operasi tiga bulan sesudahnya Syafii mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya, hal itu di rasakan persis tiba-tiba suatu hari dirinya merasakan seperti di suntik saat akan di bius pada saat menjelang operasi,” sejak itulah saya mengalami kelumpuhan,” Rintih Syafii yang sehari-hari pekerjaannya sebagai musisi di salah satu grup musik elekton. Sekarang dirinya mengalami trauma berkepanjangan terhadap hal yang berbau medis, dan praktis sekarang Syafii itensif menjalani pengobatan alternatif di salah satu klinik alternatif di desa Ngeco.
Safii telah mengalami kelumpuhan pada bagian perut kebawah selama hampir 2,5 bulan “Mulai pinggang ke bawah tidak bisa saya gerakan,” kata pria gondrong yang di grup musiknya berposisi sebagai gitaris tersebut. Penderitaan Safii makin lengkap saja karena sekarang mengalami kedinginan yang luar biasa di kala malam tiba, “saat malam tiba saya mengalami kedinginan,tanpa sebab yang pasti,” kata Pria yang mulai berbadan kurus.
Yang lebih memprihatinkan lagi adalah karena Syafii sekarang sudah tidak bisa bekerja padahal dia adalah tulang punggung keluarga dan harus menghidupi istrinya Anik Mulyani (34) dan anak semata wayang nya Febrian Irham Nurfiga (6) yang duduk disekolah TK.
Rumah Syafii sendiri kurang lebih berukuran 6 meter kali panjang 3 meter, rumahnya masih direnovasi dan rencana untuk membangun rumah namun gagal karena uangnya habis untuk biaya operasi dan untuk kebutuhan sehari hari, juga di gunakan untuk berobat “Ya gimana sudah tidak bisa bekerja jadi ya mengandalkan uang tabungan, hasil jual tanah. Sedangkan keluarga saya lainya juga sedang sibuk,” Tutur Syafii.
Saat di tanya MR mengapa tidak mengurus Jamkesmas karena tidak mampu, Syafii mengaku kasihan terhadap istrinya karena harus pontang panting di rumah sakit dan rumah “Kasihan istri saya nanti tambah repot, biar saja di rawat di rumah saja. Lagi pula saya sudah benar-benar trauma dengan rumah sakit dan segala yang berkaitan dengan medis,” Ungkapnya.
Sedangkan menurut Anik Mulyani istri Syafii upaya penyembuhan yang di lakukan oleh suaminya masih terus di lakukan melalui pengobatan alternatif dan terus berdoa untuk kesembuhan suaminya. Anik juga menuturkan bahwa suaminya telah menjalani pemeriksaan di salah satu klinik ahli saraf di kota Kediri.
Menurut Anik yang mengutip dari ahli syaraf tersebut, bahwa syaraf-syaraf tubuh Syafii masih berfungsi atau dengan kata lain masih baik baik saja. “Dengan dasar ahli Saraf tersebut, suami saya bawa berobat ke alternatif, dan ahli alternatif tersebut masih mengecek dengan data ronsen ke rumah sakit di Surabaya, kita juga masih menunggu hasilnya,” Pungkas ibu satu anak itu pasrah.
Sementara itu MR berusaha mendapatkan konfirmasi terkait kasus tersebut langsung dari Direktur Gambiran Sentot Imam Suprapto, ditemui di kantornya selalu rapat dan mengarahkan ke anak buahnya, Dan lewat pesan singkat di jawab supaya MR untuk menemui wakil direktur bidang pelayanan Janik “SILAHKAN HBGI WADIR YAN” kata Sentot dalam pesan singkatnya kepada MR.
Namun Janik sendiri tidak dapat ditemui karena tidak ada di kantornya, dan MR berhasil menemui Sentot saat di Pemkot Kediri. “kita akan bentuk tim dokter, untuk menjawab (Kasus Syafii red) itu” Kata Sentot sambil berlalu meninggalkan MR.
Terkesan dari kasus tersebut pihak RSUD Gambiran lari dari tanggung jawab, padahal dalam visi dan Misi RSUD Gambiran yang terpampang di sudut RSUD Gambiran yang notabene Rumah sakit berplat merah tersebut, yaitu memberikan pelayanan kesehatan yang memuaskan pelanggan, belum lagi RSUD Gambiran telah berlabel ISO yang berarti pelayanan standart internasional. >> C@HYO
