Jakarta (MR)
Kenaikan harga beras yang terjadi dipengaruhi faktor psikologis semata dan bukan kurangnya suplai. Pasalnya, stok dan produksi beras dalam negeri masih ideal, ujar Menteri Pertanian Suswono menegaskan .”Ini kan trennya katanya ada kenaikan. Itu bisa terjadi dipicu faktor psikologis,” ujar Suswono di Jakarta, Sabtu (30/7) Dikatakannya, dengan mendekati Ramadan, para spekulan menaikkan harga sebagai rutinitas.
Faktor lain kemungkinan adanya penimbunan pedagang karena banyaknya pemberitaan bahwa pemerintah akan impor beras karena stok masih kurang. Padahal stok di Bulog masih ideal. Untuk itulah, pemerintah akan intensif melakukan operasi pasar. “Bisa jadi karena panic buying, akibat pemberitaan yang masif seolah masyarakat tidak dapat beras tapi sebenarnya kan ada stok tuh,” jelasnya.
Ia mengatakan, jika diperhatikan ada tidak orang antri beli beras, yang menunjukkan bahwa suplai sebenarnya cukup. “Ini soal harga. Beda kalau orang antre beli BBM itu karena BBM-nya langka. Suplai kurang. Kalau beras ini suplai ada terus karena di suplai dari Cipinang tidak kurag dari 2.500 hingga 3.000 ton per hari. Pasar induk Cipinang itu sebagai barometer dan suplai ada terus. Hal itu tunjukkan suplai tidak terganggu,” tegasnya.
Namun, meskipun produksi beras cukup hingga akhir tahun nanti, Suswono mengatakan pemerintah akan tetap melakukan impor. “Bulog cukup tidak stoknya untuk akhir tahun. Diwajibkan minimal stok 1,5 juta ton. Sekarang tinggal 1,4 juta ton. Ini yang perlu ditambahi dengan impor,” tukasnya. (Ediatmo)
