Saat ini pemerintah tengah membahas penaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Opsi realistis penaikan harga tersebut adalah Rp1.500 dan Rp2.000. Selain penaikan harga BBM, tarif dasar listrik (TDL) juga diperkirakan naik 10%. Dampak penaikan secara bersamaan ini diperkirakan akan menurunkan output sektor industri pengolahan nonmigas lantaran naiknya biaya produksi.
Menteri Perindustrian M.S Hidayat mengatakan penaikan BBM dan TDL secara bersamaan akan mengakibatkan pada kenaikan biaya produksi. “Pasti ada dampaknya, tapi sudah kita kalkulasi. Dampaknya tidak terlalu besar. Yang saya mau antisipasi itu kalau penaikan BBM itu pada waktu bersamaan ada penaikan TDL. Nah, mungkin production cost itu komponennya akan meningkat. Jadi kemungkinan apakah ada yang ditunda itu masih baru wacana. Itu kan bisa bertahap,” ujar Hidayat, usai menghadiri rapat kerja Kementerian Perdagangan di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (7/3).
Ia mengatakan pihaknya sedang mengkaji dampak penaikan BBM terhadap pertumbuhan industri apabila pertumbuhan nasional juga terkoreksi. Namun, ia meyakini realisasi investasi yang terjadi di Indonesia bisa mengantisipasi dampak penaikan harga BBM tersebut. “Saya akan melihat dampaknya. Tapi optimisme saya juga saya menghitung, sekarang ini justru investasi yang dirundingkan dua tahun lalu sekarang ini sudah mulai merealisasi. Itu juga akan mempengaruhi pertumbuhan industri,” jelasnya.
Di lain kesempatan, Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian Deddy Mulyadi menjelaskan penaikan harga BBM akan berdampak langsung pada peningkatan biaya transportasi masing masing sebesar 19,6% jika dinaikkan Rp1.500 dan 23,8% jika dinaikkan Rp2.000. Peningkatan biaya transportasi akan berdampak pada sektor industri pengguna jasa transportasi dan ekonomi makro Indonesia.
Ia menuturkan penaikan BBM masing-masing sebesar 33% dan 44% menurunkan output sektor industri pengolahan nonmigas relatif kecil yaitu hanya -0,12 dan -0,14%. Sementara, penaikan TDL sebesar 10% juga menurunkan output sektor industri pengolahan non migas hanya -0,14%. Dampak paling besar dirasakan cabang industri logam dasar besi dan baja, dengan penurunan sebesar -1,32% apabila BBM naik 33% dan TDL 10%. Jika BBM naik 44% dan TDL naik 10%, penurunannya semakin besar, yakni -1,39%.
Sementara itu, industri makanan-minuman dan tembakau justru tidak terpengaruh dengan adanya penaikan BBM dan TDL. Industri ini diperkirakan akan tetap tumbuh positif masing-masing 0.13% dengan asumsi kenaikan BBM 33% dan 0,14% dengan asumsi kenaikan BBM 44%. “Sektor makanan minuman dan tembakau tidak terpengaruh. Mereka sangat tidak rentan, ajeg terhadap perubahan yang terjadi. Sektor ini akan tidak mengalami perubahan berarti dengan penaikan BBM,” jelas Deddy. >> Ediatmo

