Pasca Kemarau, Kecamatan Sukau Masuki Tanam Padi Pertama

Lampung Barat, (MR)

Warga kecamatan Sukau  dan sekitarnya, pada musim ini mulai memasuki masa tanam padi pertama setelah kemarau berlangsung cukup lama di area persawahannya masing-masing. Sebab, pada masa tanam kedua (selang) lalu petani tetap melakukan tanam padi meski terkena serangan hama dan kekeringan.

Musim tanam  pertama, dimanfaatkan oleh seluruh petani padi untuk menanam padi dengan harapan menghasilkan butir padi yang bagus. Sebab, harga beras sudah mulai mengalami kenaikan dan stok pun mulai berkurang.

Zulfikar(33),  mengaku, dengan mulai masuknya musim tanam padi pertama ini, harus berhati-hati. Karena, pada area persawahannya rawan sekali dengan terserang hama tanaman yang sifatnya tanaman padi memerah batang hingga daun, meski telah di beri berbagai obat  hama tersebut tetap  tidak  tertanggulangi,” ujarnya saat dibincangi beberapa waktu lalu.

“Sehingga, hasil panenan padi miliknya mengalami kemerosotan  hampir tujuh puluh lima persen dibanding musim tanam sebelumnnya. Tetapi, walaupun demikian dirinya tidak pernah merasa berkecil hati untuk tetap menanam kembali area persawahannya,” dengan kasus ini meski tidak dianggap gagal, pemerintah kabupaten dinas pertanian mohon agar dapat memberikan penyuluhan dan bantuannya berupa varietas bibit baru terhadap kami masyarakat tani agar kami bisa tetap bertahan hidup,” bebernya.

Lanjutnya, saat ini dirinya dibantu istri dan dua orang anaknya sedang menanam padi di area persawahannya. Dengan harapan bisa memanen hasil tanamannya dengan hasil lebih, Karena modal yang dikeluarkan untuk menggarap sawah dari bajak, tanam, pupuk dan panen memerlukan biaya cukup besar. Sebab, untuk seperempat hektar sawah menghabiskan uang sebanyak Rp 750 ribu. Sehingga, jika gagal panen  bisa rugi hingga ratusan ribu.

Diharapkan, untuk tahun ini hama sejenis di sekitar sawahnya tidak ada lagi minimal berkurang. “Agar, para petani tidak mengalami kerugian dan gagal panen sekali lagi dinas yang terkait intens turun kelapangan. Sehingga, dapat meminimalisir  keluhan warga petani padi  dan diharapkan berhasil bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari istri dan anak-anaknya. Sebab, penghasilan para petani hanya dari menanam padi tersebut,” pungkasnya. >>AY

Related posts