WIFT Starting Point Revitalisasi Sektor Perikanan Kelautan Dan Pariwisata

Maluku Utara, (MR) – Ivent WIFT (Widi International Fishing Turnamnet) yang digagas Pemerintah Provinsi Maluku Utara dan Pemkab Halmahera Selatan telah usai. Event yang berlangsung dari tanggal 25 sampai 29 Oktober kemarin yang dibuka menko maritim Luhut Binsar Panjaitan di dampingi Gubernur Maluku Utara KH. Abdul Gani Kasuba, Bupati Halsel Bahrain Kasuba dan Kepolda Malut, Pangdam Patimura serta ketua Panitia Nasional  Hormin Dahuri diharapkan dapat menjadi starting point bagi upaya revitalisasi potensi perikanan dan kelautan dan pariwisata Malut. Hal tersebut disampaikan Prof DR. Rusman Soleman, akademisi Universias Khairun Ternate.

Menurut Prof. Rusman dengan karakteristik wilayah kepulauan dimana luas perairan maluku utara sekitar 78 % maka revitalisasi sektor perikanan dan kelautan harus menjadi rencana dan agenda strategis pemprov malut. kita bicara revitalisasi sektor perikanan dan kelautan harus bicara dari hulu hingga hilir. Prosesnya harus melibatkan semua elemen yakni pemerintah, steak holder terutama masyarakat. “Pemerintah harus punya perencanaan yang jelas. perencanaan berbasis penelitian kemudian perumusan program, rencana aksi sampai pada tahapan evaluasi” tuturnya.

Ia mengharapkan WIFT tidak harus dipadang sebagai kegiatan seremonial Tetapi menurutnya WIFT adalah ajang promosi ke tingkat nasional maupun internasional “kita punya SDA sebagai basis ekonomi kelautan yang kompetitif dan masih tersedia banyak, tapi kita belum berbuat banyak. Kalau kita mengolah sektor ekonomi kelautan yang kompentitif ini maka kita akan memiliki keberbedaan dengan daerah lain” ungkap Rusman.

Sementara itu kepala bidang perekonomian dan perdagangan Bappeda Provinsi Maluku Utara Dheni Tjan, SH.M.si menjelaskan Pemprov Malut memiliki komitmen yang teraktualisasi dalam slogan pembangunan Malut yang tercantum dalam RPJM yakni “dari laut kita bangun Maluku Utara”.

Pembangunan sektor perikanan dan kelautan ini sudah menjadi kesepakatan antara pemerintah pusat dan daerah. “WIFT adalah agenda penting yang disepakati dalam rapat terbatas antara presiden dengan Kabinet kerja dengan pak Gubernur di istana Negara. Ketika pak gubernur diminta untuk menyampaikan grand strategy pembangunan malut. Juga usulan WIFT dalam rangka pengembangan sector pariwisata kelautan jadi disetujui maluku utara sebagai pusat wisata mancing”. Jelas Dheni pada MR.

Disamping itu juga menurut Dheni kedepan juga akan didorong maluku utara sebagai lumbung ikan nasional apalagi dengan penetapan morotai sebagai satu dari 10 destinasi nasional. Menurut Dheni langka dan terobosan Pemprov untuk pembangunan infrastruktur terutama transportasi dan kepelabuhanan ini dapat mendorong upaya revitalisasi sector perikanan dan kelautan ia berharap adanya sinergitas antara pemerintah daerah, dinas terkait, semua elemen steakholder juga adanya partisipasi masyarakat. “pembangunan dalam konteks pendekatan partisipatif itu mutlak kita perlukan, jadi tidak hanya perlu kerja kerja pemerintah tetapi masyarakat harus turut ambil bagian” Tegasnya.

Terpisah kepala kantor pos ternate Muhammad Budiono ketika dimintai komentarnya soal WIFT ia berharap WIFT akan menjadi ajang promosi potensi perikanan dan kelautan maluku utara. Hal ini mengingat perikanan dan kelautan adalah potensi unggulan malut juga pada sektor pariwisata “dengan mengoptimalkan nilai tambah (value added) ekonomi pada sumber daya pariwisata kelautan dan perikanan diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat” tuturnya. Hal senada juga disampaikan kepala ULP Malut Saifudin Juba. WIFT diharapkan dapat mempromosikan potensi kelautan Malut sehingga berdampak pada kesejahteraan masyara-kat. >>Ateng

Related posts