Jatim Dan Jateng Sepakat Tolak Beras Impor 

Surabaya, (MR)

Impor beras dari beberapa negara seperti Vietnam oleh Kementerian Perdagangan, hingga kini masih terus berlang-sung. Namun, Provinsi Jatim dan Jateng sepakat dan telah mengajukan nota kesepakatan pada Presiden yang menyata-kan secara tegas menolak adanya beras impor.

Gubernur Jatim, Dr H Soekarwo di kantornya, Jumat (21/10) mengatakan, data yang dibuat BPS (Badan Pusat Statistik) itu keliru. Menurut BPS, lanjut dia, Jatim alamai banyak gagal panen dan keta-hanan pangannya terancam. Produksi beras Jatim pun di anggap menurun. “Data BPS itu keliru. Lha wong Jatim surplus beras kok,” katanya. Dari pro-duksi beras tahun ini jumlahnya 7,8 juta ton. Untuk konsumsi membutuhkan 3,5 juta ton. Artinya, masih ada surplus 4,3 juta ton, sehingga tidak benar kalau Jatim dikatakan alami krisis beras.

Dengan kondisi surplus itu, pada Awal Oktober lalu, ia bersama Gubernur Jateng, Bibit Waluyo membuat draft pernya-taan menolak beras impor, dengan alasan surplus. Itu dila-kukan dengan persetujuan dari Kepala BPS dan Dirjen dari perwakilan Kemekoperekono-mian. Tepatnya, pada 5 Oktober, Soekarwo bersama Bibit Walu-yo pun dipanggil Presiden ter-kait usulan tolak beras impor tersebut. Alhasil, upaya itu akhirnya disetujui oleh presi-den SBY.

Soekarwo pun menjelaskan kunci sukses pertanian Jatim yang kini masih mampu surplus. “Yang paling penting itu kenali dulu sistem pengairannya jika ingin sektor pertanian sukses,” ujarnya. Di Jatim, lanjut dia, banyak sekali orang cerdas dan ahli pengairan. “Biar sekolah gak jelas, tapi banyak yang ahli, karena pengalaman di lapangan. Itu penting,” ungkapnya.

Ia pun berharap, dengan penegasan atas penolakan beras impor tersebut, maka distribusi beras impor yang masuk transit ke Jatim, seperti yang ada di gudang Bulog bisa tetap dijaga agar tak masuk ke pasar Jatim. Terbaru, kata Soekarwo, Bulog kini kembali impor beras 500 ribu ton. “ Beras yang transit ke Jatim harus dijaga betul agar peruntukan-nya yang ditujukan bagi daerah di Indonesia Timur bisa tersa-lurkan dan bukan untuk pasar di Jawa Timur,” tukasnya. >> Gc/Hs

 

Related posts