Kotamobagu, (MR)
Tampak terlihat dari mata seorang anak yang memiliki keterbelakangan fisik dan mental, kekurangan yang mereka miliki tidak menjadi suatu penghalang untuk belajar.
Mereka belajar bukan untuk menjadi seorang sarjana, namun mereka belajar untuk hidup bersama, saling mencintai, senyuman kebahagian selalu terpancar dari mereka, mereka tidak perduli dengan keadaan bangunan sekolah, maupun fasilitas sekolah.
Ria Mokoagow. S.Pd kepala Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) mengatakan “Kita sebagai Guru luar biasa harus bisa bekerja profesional dalam melayani kebutuhan anak didik dengan ihklas,” ia pun berharap pemerintah kota kotamobagu, kedepan bisa lebih memperhatikan Sekolah Luar Biasa dan Panti Penyandang Cacat, yang berada di Desa Poyowa Besar kota Kotamobagu.
Karena selama ini bantuan dari pemerintah kota kotamobagu masih bisa dibilang kurang, hanya sebesar 12 juta/tahun, pemerintah kasih buat makan dan minum. Terkadang untuk mencari kekurangan kami langsung turun mencari ke para donatur.
Sejak tahun 1982 panti ini berdiri hingga saat ini belum ada sentuhan dari tangan pemerintah, keadaan bangunan panti yang sangat rusak bahkan tidak layak untuk di tempatin.
Ada 25 siswa berkebutuhan khusus yang tinggal di panti, sedangkan ada 92 siswa yang belajar di SLB terdiri dari SD sampai SMU, kurangnya pengajar menjadi satu persoalan yang cukup serius.
Ria Menghimbau “Bagi orang tua yang punya anak berkebutuhan khusus seperti tuna netra, rungu, grahita, taksa, cacat tubuh, tuna laras (hiper aktif) kemudian autis jangan malu, apa lagi menyiksa mereka, ajak mereka untuk datang ke sekolah luar biasa.
Sehingga kita bisa mendidik mereka dengan mengembangkan keahlian yang mereka miliki untuk menjadikan sebuah prestasi untuk masa depan mereka, hanya cinta dan kasih yang mereka butuhkan, terangnya. >>Neni
