Natuna, (MR)
Nurohman, terlihat tergesa-gesa, saat turun dari motornya. Lelaki berkumis tipis itu, mendatangi kantor perwakilan Media Rakyat. Sampai diruangan, Ia menuturkan, adanya pengusaha shorum motor,” seenak perutnya” membangun sarang burung walet, tanpa adanya sosialisasi kepada masyarakat sekitar. Bahkan kuat dugaan pengusaha tersebut, belum mengantongi izin.Ada beberapa hal yang membuat warga resah. Jika rumah walet ini telah berpenghuni, secara otomatis, akan terjadi kebisingan.Selain itu, pencemaran udara akibat bau kotoran walet bisa berdampak kepada kesehatan masyarakat sekitar. Mengapa saya katakan begitu?, karena jarak bangunan dengan rumah warga sekitar 50 meter.
Saat ini pengusaha tersebut telah membangun didua tempat. Satu tempat berada di daerah mesjid, jalur semedang, satu lagi di RT I RWI. Yang d jalur semedang tinggal pinising. Saya yakin bangunan berbentuk ruko tersebut dipastikan, tidak mengantongi izin mendirikan bangunan (IMB), sebab untuk daerah Batubi saja, pengusaha tersebut tidak ada melakukan sosialisasi kepada masyarakat setempat. Sudah tentu pasti administrasi perizinan, seperti amdal dan studi kelayakan tidak ada.
Celakanya, pengusaha tersebut diduga monopoli harga untuk gaji tenaga kerja. Tidak adanya lowongan pekerjaan, dijadikan kesempatan untuk melakukan “Pemerasan tenaga Kerja”. Hal tersebut dibuktikan gaji buruh bangunan dihargai Rp 85000 /hari, dengan masa kerja 9 jam. ini jauh di bawah UMR. Kemarin banyak warga sekitar bangunan dipecat, karena mempertanyakan upah, ngecor disamakan gajinya. Pada hal selama ini upah ngecor itu jauh lebih mahal, dari upah kerja biasanya, karena saat ngecor, tenaga Kita diperas habis, tidak boleh istirahat, sebelum tuntas pekerjaan. Sayangnya pengusaha tersebut malah menghardik anggotannya dengan mengatakan,
“Kalau tak mau gaji segitu,masih banyak yang mau” ucap Nurohman menirukan ucapan mandor bangunan.Kelakukan yang semena-mena inilah yang membuat kami warga disini sedikit gerah terhadap pembangunan rumah walet ini.
Untuk itu kata Ketua LSM Forum Peduli Warga Trans Natuna itu, Saya minta agar Pemerintah menghentikan seluruh kegiatan pembangunan rumah walet sebelum izin resminya ada.Terkait siapa pemilik rumah walet ini, menurut tokoh masyarakat batubi ini, merupakan pengusaha Batam. Namun untuk di Natuna, dipercayakan dengan Atak, pemilik Show Rom Yamaha, yang berada di Batu hitam ranai.Dirinyalah yang sering turun kesini untuk melakukan pengontrolan pembangunan dilapangan.Sekali lagi saya harapkan agar Pemerintah secepatnya melakukan pemanggilan, dan tidak sembarangan memberikan izin.
Kades Sp I Batubi, Selamat, ketika dikonpirmasi terkait adanya pembangunan rumah walet dilakukan oleh Pengusaha Batam, tanpa mengantongi izin resmi, mengamininya. Selamet mengatakan, kemarin ada yang datang kepada Saya, kalau tak salah pak Atak. Dirinya mungkin mau mengurus izin siup atau situ. Dia telah mengantongi surat dari RT dan RW, namun masih Saya tolak. Mengingat berkasnya belum lengkap.
Jadi sampai hari ini, belum ada izin dari desa. Untuk sosialisasi dilingkungan yang akan kena dampak dari pembangunan itu, Saya juga tidak tahu, ada atau tidak. >>Roy
