Yogyakarta (MR)
Orang mudah melupakan bencana. Padahal dengan mengingat bencana orang dapat belajar untuk tidak melakukan kesalahan kecil yang dapat berakibat fatal. “Karena itu diperlukan buku atau museum untuk mengingatkan orang tentang bencana agar mereka mengingat dan belajar,” kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono pada peluncuran buku Membidik Peristiwa Jadi Berita dan pembukaan pameran foto Thirty Frames of Jogja karya Regina Sjafrie di Bentara Bu-daya Yogyakarta, Selasa (27/9).
Menurut dia, belajar ten-tang bencana yang pernah terjadi diperlukan karena biasanya terjadi secara ber-ulang, meskipun waktunya tidak dapat diprediksi. Contohnya, sebelum gempa besar melanda Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2006, gempa yang lebih besar pernah melanda daerah itu pada 1943.
“Namun, ketika saya berta-nya kepada seseorang yang menurut perkiraan saya menga-lami peristiwa itu, apakah ia ingat tentang gempa tersebut, orang itu menjawab tidak ingat pernah terjadi gempa besar di DIY pada tahun itu,” katanya memberi contoh.
Ia mengatakan, melalui buku peristiwa bencana akan terekam dengan baik sehingga jika bencana berulang upaya penanggulangan dapat dilaku-kan secara lebih baik. Selain buku, keberadaan museum yang berkaitan dengan penge-tahuan tentang bencana seperti Museum Gunung Merapi juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk mempelajari sebuah bencana dan cara penanggu-langannya.
“Tetapi sayangnya di Indonesia berkunjung ke museum belum menjadi suatu kebutuhan seperti halnya di negara maju,” katanya. Padahal, dengan berkunjung ke museum, orang dapat belajar banyak tentang sesuatu yang bermanfaat tanpa harus membaca ratusan buku.
Pada kesempatan itu, Suro-no juga mengatakan, saat ini aktivitas sebanyak 23 gunung berapi di Indonesia berada di atas normal, dengan 18 gunung di antaranya berstatus waspada dan lima berstatus siaga. Kon-disi itu adalah hal yang wajar, karena pascagempa Aceh pada 2004, aktivitas gunung berapi di Hawaii yang berjarak sekitar 12.000 kilometer dari pusat gempa di Aceh juga meningkat. (Suratno)
