WAKIL Bupati Natuna, Imalko, terlihat bersemangat, ketika Dirinya mulai, mengikat kayu kecil bundar sedikit lonjong di tangan kirinya. Dengan seutas tali nilon, kayu bundar tersebut dilempar ketanah lapang dihalaman depan kanan Pelabuhan Fery Internasional yang baru dibangun di Desa Berakit, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
Agar putaran gasing semakin kuat, di tancapkan sebuah tiang balok kayu, berdiri sedikit miring gunanya sebagai mediator. Kayu bundar itu pun dilempar mantan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Natuna itu. Sebuah permainan masyarakat Melayu tempo dulu yang hampir terlupakan.
Padahal dahulu kala, permainan ini sangat terkenal dan digemari masyarakat. Orang Melayu memainkan gasing, usai lelah membanting tulang mengais rezeki. Dengan bermain gasing, mereka dapat bergembira bersama, tanpa mengeluarkan belanja besar, dan bahan baku digunakan dari kayu terbuang. Kayu terbuang, adalah baki kayu, yang sangat keras, lalu diciptalah gasing.
Sebenarnya, berbagai faedah didapat dari bermain gasing. Selain dijadikan sebagai hiburan, permainan ini dapat menjalin tali persaudaraan antar sesama anak Melayu. “Sebagai putra tempatan, saya berkewajiban melestarikan tradisi yang hampir terlupakan ini,” tutur Imalko.
Cara melestarikan gasing, Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrat Natuna itu bermain setelah melaksanakan kunjungan kerja kedinasan. Jadi dimana pun ia berkunjung, dipastikan tim gasingnya ikut serta. “Salah satu cara saya mempererat tali persaudaraan dengan bermain gasing,”.
Gasing, sebuah benda lonjong dibuat dari kayu. Biasanya agar daya tahan lebih kuat, digunakan pohon jambu klutuk yang lebih liat dan lentur. Kayu paling baik dari spesies merbau, seperti merbau tanduk, merbau darah, merbau johol dan merbau keradah. Kayu-kayu ini mudah dilarik tetapi tidak mudah serpih. Selain itu, kayu leban tanduk, limau, bakau, koran, sepan, penaga dan keranji bisa jadi pilihan.
Jenis kayu mudah didapat, yaitu : Kayu manggis, jambu batu, cikuatau dan Asam jawa. Kayu-kayu ini diruncing dengan menggunakan golok, yang dijadikan kepalanya juga diruncing. Panjang gasing antara 8-10 centimeter dan garis tengah berkisar antara 4-5 centimeter. Kalau sudah jadi, bentuknya mirip guci. Antara kepala dan badan gasing di iris sekitar 2 centimeter sebagai tempat menggulung tali. Dengan mengikatkan tali dikepala gasing, dapat memainkannya dengan melempar ke lantai, gasing pun berputar cepat. Untuk menambah kecepatan, kadangkala si pemain melecuti tali pemutar tadi. Sehingga energi putar gasing makin bertambah serta waktu putaran bisa sampai lima menit. Tali gasing dibuat dari kulit pokok bebaru. Namun sekarang talinya dibuat dari tali nilon. Panjang tali tergantung panjang tangan seseorang, biasanya satu meter. Minyak kelapa digunakan untuk melicinkan pergerakan tali gasing.
Bagaimana cara bertanding ? Yusripandi, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Natuna salah satu tim gasing mengatakan, setiap tim terdiri dari 5 orang. Sebelum memulai pertandingan, pertama sekali dilakukan adalah mengadu kedua tim untuk mengundi siapa dulu sebagai pemangka (pemukul-red). Yang kalah mengundi, dinyatakan sebagai penahan.
Setiap tim terdiri dari lima orang itu diberi kesempatan memukul gasing lawan sebanyak 3 kali dengan akumulasi 5 x 3 = 15 kali dalam satu tim, dan tim satunya juga mempunyai peluang sama. Penilaian dewan juri dilakukan dengan cara menghitung akumulasi nilai dari ke 15 pukulan masing-masing tim.
Tidak semua pemukul dinyatakan sebagai pemenang dan mendapat nilai, ada kalanya penahan juga mendapat nilai. Jika gasing si pemangka keluar dari tempat disediakan, setelah memukul gasing lawan ternyata kepala gasing pemukul berada di posisi bawah.
Apabila gasing pemukul mengenai gasing penahan dan gasing penahan masih berputar, maka penilaian dihitung dari siapa paling lama berputar. Cara memukul dilakukan oleh si pemukul, bebas dari semua sisi. “Hari ini tim kita menang,” kata Yusripandi, biasa disapa Ujang Tanjung, ketika bertanding dengan tim dari Kota Piring, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepri.
Bermain gasing dapat menyemarakan lagi rumah tradisional Melayu, karena gelanggang permainan biasanya di halaman rumah, dan di bawah pohon rindang. Sehingga suasana gelanggang menjadi sejuk. Permainan ini bagi orang Melayu juga mengukur tahap kemahiran dan kepantasan seseorang dalam menghadapi sesuatu situasi. Kemahiran dan kebolehan diaplikasi secara sistematik dalam gelanggang gasing.
Kepantasan dan ketepatan amat jelas, dan memupuk semangat tinggi. Jadi, permainan gasing harus terus dimainkan oleh generasi muda sekarang sebagai langkah mengekalkan daya kreatif bangsa Melayu mencipta permainan berasaskan serpihan kayu.
Jika usaha gigih diteruskan pasti suatu ketika nanti gasing akan menjadi permainan yang digemari. Pemulihan permainan ini diharap dapat memaparkan kepada umum tentang warisan bangsa Melayu yang hampir terlupakan agar terus berkekalan.
Gasing bukan sahaja menjadi permainan orang dewasa malah turut dimainkan oleh golongan remaja dan kanak-kanak. Mereka bermain gasing untuk beradu kemahiran, kecekapan, kepantasan, dan kerjasama berpasukan.
Terdapat pelbagai cerita berkaitan asal-usul permainan gasing dan inilah yang menyebabkan corak permainan gasing dengan buah berembang. Buah berembang mudah diperoleh di tepi-tepi pantai berbentuk bulat, agak leper dan licin. Buah ini mudah dipusing dengan tangan. Yang lama dan ligat pusingnya ditetapkan sebagai pemenang. Bagi ahli silat, satu dari pada latihan menguatkan tangan ialah memusingkan buah berembang.
Lama-kelamaan timbul ilham meniru bentuk buah ini dan diperbuat dari pada kayu. Pemusing akan coba memusingkannya dengan tangan seligat mungkin. Ketika ligat ia disebut “gah”, yang bermakna tegak dan kuat semasa berpusing. Daripada istilah inilah dikatakan bermulanya permainan gasing.
Sementara, pertandingan Gasing di Kota Piring, Bupati Natuna Ilyas Sabli turut serta. “Dengan adanya pertandingan gasing diluar Natuna, kita turut mempromosikan kekayaan budaya melayu Natuna,” kata Ilyas.
Tempat terpisah Kadisdikbud Natuna Jasman Harun mengatakan, Kegiatan eksebisi budaya Natuna dikepri, untuk memperkenalkan, Kabupaten Natuna masih melestarikan kebudayaan nenek moyang kita dahulu. Kekayaan budaya ini, nilai historisnya tidak akan mampu dibeli dengan uang. Oleh karena itu Ia berharap agar permainan gasing, alu, maupun mendu, para generasi muda mau mempelajarinya, sehingga budaya ini tidak mati dimakan jaman. imbuhnya. >> Roy

