Disdik Jatim Adakan Pagelaran Seni Padang Rembulan

Jawa Timur (MR)

Gelar seni padang rembulan menjadi agenda rutin dinas pendidikan  (Dispendik) jatim terasa berbeda dari bulan ini. Ada delapan dalang cilik wa-yang kulit tampil bareng dalam satu kelir di pendapa Dinas Pendidikan di Jalan Jagir Sidosermo. Acara tersebut dige-lar oleh UPTD pendidikan dan pengembangan kesenian seko-lah (Dik Bangkes). Penyeleng-garaannya dilakukan berpin-dah-pindah di beberapa kota.

Nama-nama dalang bocah yang tampil adalah Fajar ( SMP lab Unesa), Cornelius Mahen-dra Surya kelas 6 (SD Kemala Bhayangkari), Tata Aglis Budi Jatmiko (SDN Widodaren), Ketut Satyaguna (SDN Medokan Ayu 2), M. Alfiaris Suroningrat (SDN Gelam I Candi Sidoarjo), M. Rofi Datarian (SDN Jemur Wonosari), Akira Permata Ramadhani (SDN Pucang I Sidoarjo), M. Alif .

Dengan membawakan lakon Seno Meguru, naskah ditulis oleh Ki Surono. Pentas kali ini tiga anak bertugas sebagai narrator (Onto Wacono) mereka berasal dari Padepokan milik Ki Surono, yaitu Padepokan milik Ki Surono dan Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) pimpinan Ki Rio.

Kepala Dispendik Jawa Timur Dr. Harun Msi menjelas-kan pagelaran rutin ini dimak-sudkan untuk memberikan ruang kreasi dan ekspresi yang luas kepada para pelajar yang memiliki bakat dan potensi kesenian. Seperti delapan dalang bocah tersebut. Mereka memiliki potensi kepada masya-rakat umum , memang belum banyak masyarakat yang mengetahuinya. Para dalang bocah yang masih duduk dibangku SD dan SMP dapat menjadi teladan bahwa masih ada generasi muda yang mencintai dan mau melestarikan  kesenian tradisional di tengah gelombang moderenisasi yang melanda bangsa ini. Mereka harus mendukung dan memberi semangat agar kesenian tradisi-onal tetap lestari dan terjaga.

Kata Dr. Harun Msi selaku Kepala Dinas pernah menyam-paikan  “ Ojo koyok ngono, ojo pancat ae, koyok ngono pertun-jukannya ngono ditonton ko-yok ngono”. Apa adakah dibalik wayang. Dari pemikiran kepala dinas itu. Sepakat bahwa bagai-mana wayang bias tampil beda. Kita meminta bantuan dengan Mas Surono dari RRI untuk menggarap naskahnya wayang. Harapan kedepan inginnya tampil seperti itu dikembangkan. Ide awal kreatifitas dikembang-kan seperti teknis lampunya digarap yang lebih bagus lagi. (FIKA)

Related posts