Batangtoru, MR – Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan menyambut baik peluncuran Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat Program Desa Binaan Universitas Sumatera Utara (USU) Tahun 2026 dengan tema “USU Peduli: Pengabdian Pascabencana Hidrometeorologi Melalui Penataan Lingkungan dan Pengembangan UMKM di Kabupaten Tapanuli Selatan” yang digelar di Aula Kantor Camat Batangtoru, Senin (15/6/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Kalaksa BPBD Tapsel, Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Dekan Fakultas Pertanian UGN Dr. Angelia Utari Harahap, S.Pt., M.Pt., unsur akademisi Universitas Sumatera Utara, Forum Masyarakat Peduli Literasi Indonesia, para kepala desa, tokoh masyarakat, serta warga dari Desa Aek Ngadol dan Desa Muara Hutaraja.
Dalam sambutannya, Bupati Tapanuli Selatan H. Gus Irawan Pasaribu melalui Wakil Bupati H. Jafar Syahbuddin Ritonga menyampaikan apresiasi dan terimakasih kepada Universitas Sumatera Utara yang telah memilih Tapanuli Selatan sebagai lokasi program pengabdian masyarakat.
Kehadiran USU menjadi bukti nyata bahwa pemulihan pascabencana membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak,” ujar Jafar.
Wabup mengungkapkan bahwa bencana hidrometeorologi yang melanda Tapanuli Selatan pada 25 November 2025 berdampak sangat luas. Dari 15 kecamatan yang ada, sebanyak 14 kecamatan terdampak bencana dengan korban jiwa mencapai 95 orang serta kerusakan infrastruktur dan lahan pertanian yang cukup besar.
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan tidak mungkin bekerja sendiri dalam proses pemulihan daerah. Karena itu, sinergi dengan perguruan tinggi, lembaga sosial, NGO, dunia usaha, dan seluruh elemen masyarakat menjadi kebutuhan yang sangat penting.
“Kami tidak akan sanggup membangun Tapanuli Selatan sendirian. Kami membutuhkan kolaborasi dan dukungan semua pihak. Karena itu kami menyambut baik program USU Peduli yang tidak hanya fokus pada penataan lingkungan, tetapi juga pemberdayaan ekonomi masyarakat,” tegasnya.
Jafar menekankan bahwa saat ini fokus utama pemerintah daerah adalah mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat terdampak bencana. Berbagai program telah diluncurkan, mulai dari Gerakan Seribu Hektare Jagung, Gerakan Seribu Kolam, revitalisasi pertanian, hingga program pembiayaan usaha bagi masyarakat, salah satunya melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga nol persen yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk memulihkan usaha pertanian, peternakan maupun usaha produktif lainnya.
“Rumah saja tidak cukup. Masyarakat juga membutuhkan sumber penghidupan. Karena itu program-program pemberdayaan ekonomi menjadi prioritas kami agar masyarakat bisa bangkit dan mandiri kembali,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Tapanuli Selatan pascabencana turun hingga sekitar 2,7 persen. Kondisi tersebut menjadi tantangan besar yang harus dihadapi bersama melalui berbagai upaya percepatan pemulihan ekonomi.
Sementara itu, Ketua Tim Pelaksana Pengabdian Masyarakat (PKM) USU Desa Muara Hutaraja, Dr. Oding Affandi, S.Hut., M.P., menjelaskan bahwa program Desa Binaan USU merupakan kegiatan berkelanjutan yang akan dilaksanakan selama tiga tahun melalui pendampingan langsung kepada masyarakat.
Menurutnya, program di Desa Aek Ngadol difokuskan pada revitalisasi pertanian pascabencana, pengembangan UMKM berbasis potensi lokal, penanaman bibit produktif, kegiatan literasi, hingga pendampingan psikososial (A.karo Karo)
