Jakarta, (MR) – Pernahkah terpikir, bagaimana lembaga pemasyarakatan (lapas) dilihat dari sudut pandang seorang petugas yang menjaganya. Seorang petugas penjara?Sempatkah terpikir bahwa kadang sebuah lapas berpenghuni ribuan orang hanya dijaga petugas yang jumlahnya kurang dari jumlah jari-jari tangan ?
Barangkali pengalaman seorang pegawai Kemenkumham yang sempat bertugas di lapas dan balai pemasyarakatan Bpk Muhamad Supriyatna, SH, Msi atau yang di kenal pakai Nanang asli pribumi Cipinang yg bertugas di Rutan Kelas 1 Cipinang. bisa memberikan gambaran sederhana soal itu, (17-12-2019).
Pak Nanang merasakan sendiri betapa beratnya menjadi petugas Lapas. Dia bertugas di sebuah lapas berkapasitas maksimum 460 orang yang dihuni sekitar 4200hingga4300 orang Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Untuk penghuni sebanyak itu, lapas hanya memiliki 30-an orang petugas dengan satu regu pengamanan yang beranggotakan 30 orang.
Jadi, jangan tanya bagaimana enam petugas pengamanan ini bisa mengatasi 4200-an orang bila mereka berontak dan membuat kerusuhan,” kata pak Nanang “Jelas nyaris mustahil,” Tapi dengan cara pendekatan kepada WBP dalam memberi saran dan nasehat bekal bila WBP keluar menjadi orang yg berguna untuk bermasyarakat nanti ujar Pak Nanang.
Sementara semua petugas lapas sadar, mereka tidak hidup berkomunitas bersama para WBP dalam kondisi normal.
Berapa lama pun hukuman yang diterima WBP, tetap saja membuat merasa terkekang dan terbatasi kebebasannya. Dan itu yang bisa kekecewaan dan rasa marah WBP,” kata Pak Nanang
Apalagi sebagai staf registrasi pak Nanang selalu sabar menghadapi para WBP yg berbeda karakter nya. Beliau juga sering di tugaskan untuk mutasi WBP ke lapas lain dengan beranggotakan 4-5 orang di dalam bus, benar resiko tapi beliau serahkan sama yg maha Kuasa agar pekerjaan beliau di lancarkan segala tugas nya, ujar nya.
Dalam temu bicara dengan wartawan media rakyat pak Nanang kasih pepatah. “Satu Bilik Sejuta Cerita “. Itulah suka duka seorang petugas lapas. (Jefferi)
