Surabaya (MR)
Paskah di hentikannya im-port sapi oleh Negara Australia, Ir. Suparwoko Adisoemarto, MM Kepala Dinas Peternakan Jatim, mengatakan, “Kebutu-han daging sapi untuk wilayah Jawa Timur dalam posisi aman, karena populasi sapi di Jatim itu mencapai 30 % dari populasi sapi nasional, 80 % populasi Jatim yang terbesar disamping NTT dan NTB, dari jumlah 3.700.000 ekor untuk sapi potong dan 2.321.000 ekor sapi perah, Jawa Timur masih kuat untuk persiapan menjelang ramadhan sampai dengan hari raya nanti, tingkat kelahiran sapi di Jawa Timur kurang lebih 802.00 ekor/tahun sedangkan yang dipotong hanya sekitar 454.000 ekor/tahun jadi perse-diaan sapi di Jawa Timur masih Surplus “, jelas Suparwoko
“Kalau kita bicara untuk skup Jawa Timur no problem, umpama sapi tidak ada yang hamil, tidak ada yang lahir dalam kurun waktu 4 sampai 5 tahun, itu masih bisa mencuku-pi, tetapi akan manjadi masalah apabila kran impor di tutup oleh Australia, lalu Jawa Timur men-suplay seluruh propinsi di Indonesia itu akan menjadi masalah, seperti statemenya dari Universitas Al Hidayah itu betul, kalau kita bicara skup nasional, Jawa Timur dikwatir-kan akan terganggu, kalau hanya untuk Jawa timur ya tidak masalah”, paparnya
“Kalau masyarakat kita itu mau nasionalisme, produk nasi-onal yang kita angkat, jangan sedikit-dikit impor, kenapa sih kita tidak menggunakan daging ayam, ikan, tempe, atau tahu, kalau kita mengamankan devisa supaya tidak boros, ya nggak usah imporlah”. Himbaunya
“Kalau impor sapi dibuka lagi, saya punya pemikiran. Sapi yang di impor itu harus dikena-kan bea masuk, karena selama ini tidak dikenakan bea masuk.” Harapnya
“Kita harus mengamankan sapi betina agar jangan dipotong karena selama ini sapi betina banyak yang dipotong, agar populasi yang akan datang sapi semakin meningkat, kecuali kalau sudah tidak produktif lagi, itu baru dipotong, selain itu kita harus memotong tataniaga pemasaran sapi betina ke Jawa Barat karena selama ini sapi betina dikirim ke Jawa Barat untuk dipotong, kemudian dagingnya dikirim kembali ke Jawa Timur, ini masalah !, oleh karena itu Bapak Gubernur menghimbau kepada kami untuk mencoba membuat Rumah Potong Hewan (RPH) yang sanitasinya memenuhi syarat sebagai contoh RPH yang standart”, jelasnya
Untuk kwalitas daging sapi impor dan daging sapi lokal, Drh. Irawan Subiyanto, MSI, Kepala Bidang KESMAVET Dinas Peternakan Jatim menje-laskan, “Memang daging impor agak berbeda secara khu-sus tetapi secara umum tidak berbe-da karena diluar negeri mak-sudnya Australia yang disebut daging ya daging kalau di Indo-nesia yang dikatakan daging ya termasuk jeroan, hati, darah, dan urat tulang, sedang diluar negeri yang dimaksud daging adalah untuk konsumsi manu-sia dengan kwalitas tertentu, standart tertentu, papar Irawan
“Untuk kwalitas, diluar hygienis daging sapi lokal sebe-narnya lebih berkwalitas karena sapi lokal memakan makanan yang penuh dengan mineral, rumput-rumputan, butiran-butiran , itu lebih kaya namun di sisi lemak sapi lokal lebih banyak. Untuk daging impor yang menang adalah dari sisi bersihnya sedang dari sisi gizinya menjadi tanda tanya, mengapa?, karena kira-kira kapan sapi itu di sembelih ?, kalau di sembelih di atas enam bulan jelas gizi dan protein daging tersebut kandunganya tinggal 50 %, karena ada keru-sakan saat di awetkan (dibeku-kan) oleh sebab itu standar daging tidak boleh lebih dari 6 bulan. Oleh karena itu sapi lokal lebih berkwalitas karena pada saat disembeli sampai di distri-busikan itu tidak lebih dari enam bulan”. Jelas Irawan (gc/hs)
