Ternate, (MR)Beberapa kebutuhan sarana prasarana vital dalam menunjang kegiatan pembelajaran di SMAN 5 Ternate, sampai saat ini belum terlengkapi. Kebutuhan tersebut berupa perangkat komputer yang menunjang UNBK, fasilitas ruang guru, ruang serba guna, laboratorium biologi, fisika dan kimia. Selain itu kebutuhan sarana air bersih (PDAM) yang dinilai buruk, sehingga berdampak sangat mempengaruhi siswa, guru serta seluruh staf administrasi dalam proses belajar mengajar.
Diwawancarai wartawan Media Rakyat, Kepala Sekolah SMAN 5 Kota Ternate, Rakib Hadi, S.PdI, menuturkan pihaknya telah berulang kali menyurati Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi, namun lagi-lagi seperti membuang garam ke laut. “Sampai saat ini, Dinas tidak ada respon sama sekali. Padahal sesungguhnya kita berharap bisa diakomodir melalui DAK 2018, tapi lagi-lagi Dinas seperti tidak mau perduli dengan keberadaan lembaga pendidikan ini. Setelah di take over, SMA/SMK ke Pemprov, kita berharap pelayanan semakin optimal, ternyata semua tidak seperti yang kita harapkan,” ungkapnya.
Ia mengakui kebutuhan perangkat komputer misalnya, sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan UNBK. “Jumlah yang kita butuhkan minimal sekitar 40 unit. Berdasarkan perincian yang kita buat, ada 4 ruang masing-masing ruang harus tersedia 20 unit, jadi kalau 4 ruang total yang kita butuh adalah 80 unit komputer. UNBK di 2018 misalnya karena jumlah komputer kita tidak memadai, terpaksa kita harus pinjam ke SMPN 13, sekalipun demikian prestasi UNBK siswa sangat menggembirakan,” tambahnya.
Fasilitas lainnya berupa laboratorium biologi, fisika dan kimia. Sementara ini SMAN 5 Ternate telah memiliki Lab. MIPA, namun menurut Kepsek, untuk efektivitas pembelajaran perlu ada pemisahan berdasarkan masing-masing disiplin ilmu. Sarana-prasarana lainnya berupa ruang guru dan ruang tata usaha yang bangunannya bukan bersumber dari Dinas Pendidikan, melainkan dari usaha dan kerja mandiri pihak sekolah. Sarana air bersih juga sangat terbatas. Hal ini diakui Wakasek Humas Drs. Hi. Taher Abdullah. “Lagi-lagi kita sudah berulang kali melapor, tapi enggan juga digubris oleh pihak PDAM,” paparnya.
Kondisi rill ini sesungguhnya tidak harus terjadi karena kalau dilihat dari historisnya, izin operasional berdirinya SMAN 5 Ternate itu tahun 1990 atau lebih awal dari sekolah lainnya seperti SMAN 4 dan 3 yang fasilitas sarana prasarananya sudah memadai. “Toh kelihatannya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi tidak punya skala prioritas untuk mengembangkan lembaga pendidikan ini,” tambah Kepala Sekolah. >>Ateng
