Tanggamus Lampung, (MR)
Sabtu (4/2) sore pukul 15.00 wib menjadi hari yang paling menyedihkan bagi Rosyid Joni (55) warga Dusun Banjar Sari, Pekon Tanjung Jati, Kecamatan Kota Agung Timur, Tanggamus, lantaran ladang tempat ia mencari nafkah untuk anak serta istrinya harus berubah menjadi tumpukan abu karena dilahap sijago merah.
Kesedihan pula menyelimuti Wahyu warga Pekon Talang Rejo yang juga harus merelakan mobil kesayangannya jenis Timor dengan nopol BE 1602 B menjadi makanan api, karena saat kejadian. Dirinya tengah berada dilokasi sedang menambah angin ban mobilnya yang dirasa tidak stabil. Sekarang, mobil yang selalu menemaninya beraktifitas hanya tinggal kenangan lantaran api tak menyisakan sedikitpun bagian mobil bertype sedan itu.
Dalam rasa sedih, Wahyu menuturkan kronologis peristiwa naas tersebut. Kejadian itu berawal saat bang Joni sapaan akrab pemilik tambal ban, tengah melayani pelanggannya yang hendak menambal motor. Alat pemanas tambal ban pun dinyalakan, setelah itu, dirinya menuangkan bensin/pertalite dari jeriken berukuran 50 liter ke jerigen 5 liter dengan menggunakan selang.
“Saat proses pemindahan bensin, tiba-tiba penuh dan meluber keluar, bensin kemudian menyambar tungku pemanas (alat tambal ban), seketika api berkobar besar menyambar warung, saya khawatir warung meledak karena banyak BBM saya putuskan untuk meninggalkan mobil, sementara pemilik motor berhasil memindahkan motornya,” terang Wahyu, yang dijumpai dilokasi kejadian.
Akibat kejadian itu, Joni pemilik warung menderita kerugian ditaksir puluhan juta. Karena, didalam warung tersebut terdapat uang tunai Rp10 juta. Yang mana uang itu adalah uang iuran warga untuk memperbaiki saluran air bersih, BPKB Supra Fit, dokumen kependudukan berupa KK, kartu BPJS, tv 21 inc, isi warung rokok, bensin 120 liter, kulkas, baju, tape dek, dan kompresor.” Saat itu angin juga bertiup kencang jadi langsung menyambar warung, didalam warung ada uang Rp10 juta, itu uang warga, warga pasti marah sama saya.” ujar Joni dengan suara berat dan sayu.
Petugas tiba dilokasi pukul 15.00 Wib, alhasil petugas damkar dihujani hujatan dan cemooh dari warga sekitar. Teriakan yang memuat kata ejekan pun terlontar dari warga, dengan kata “wooo”; “booo; “wuuhh”; “Pulang aja sana, ngapain kesini”; tak elakan lagi. Emosi warga pun kian menjadi dengan meluapkan emosinya dengan menggedor kaca mobil damkar menggunakan ember, bahkan ada salah satu personel damkar yang sempat hendak dipukul. Beruntung aparat Polsek Kota Agung yang dipimpin Kapolsek AKP Asep Abdulah bisa merelai dan meredakan emosi warga.
Kapolsek Kotaagung yang dikonfirmasi di TKP, membenarkan, jika musibah kebakaran tersebut diakibatkan oleh bensin yang menyambar tungku alat tambal ban.” Ya, karena itu, akibat pemilik warung kurang berhati-hati, saya imbau bagi penjual bensin untuk lebih hati-hati lagi. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini,” ujar Asep.
Menurut Asep terlambatnya damkar, karena damkar menuju lokasi yang salah, yakni di Banjar Sari Wonosobo. Karena miss komunikasi, personel damkar mengiranya Banjar Sari Wonosobo. Dari Wonosobo ke Tanjung Jati tentu memerlukan waktu yang lama.
Kekecewaan warga dengan terlambatnya damkar, juga di ungkapkan Kakon Tanjung Jati Sahril.”Ya warga kecewa, terlambatnya hampir satu jam, datang saat api sudah padam, buat apalagi. Jelas warga kecewa, seharusnya, personel kroscek lokasi dulu, jangan begitu terima informasi langsung berangkat, harusnya tanya dulu, Banjar Sari mana,” ujar Sahril. >>Irawan
