Ternate, (MR)
Sebagai bagian dari Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), PT. Alga Kastela Bahari Berkesan Kota Ternate sebagai perusahaan yang mengelola produksi rumput laut saat ini terus berpacu meningkatkan produktivitasnya. Data yang dihimpun Media Rakyat tercatat di tahun 2013 produksinya berkisar 700-1000 kg. Sementara dalam perkembangannya antara 2014 – 2016 produksi pengolahannya sudah mencapai 1 – 1,5 ton.
Diwawancarai Media Rakyat manager produksi PT. Alga Kastela Erna Talib di Provinsi Maluku Utara terdapat beberapa daerah yang potensial penghasil rumput laut. Daerah tersebut adalah penyuplai rumput laut ke PT. Alga Kastela meliputi Kabupaten Halmahera Selatan seperti Taliabu, Obi, Gane barat penyuplai rumput laut ke PT. Alga Kastela meliputi Kabupaten Halmahera Selatan seperti Taliabu, Obi, Gane Barat, Kepulauan Jironga. Selain Halmahera Selatan beberapa daerah lainnya meliputi Morotai dan Kabupaten Halmahera Barat.
Kapasitas produksi yang terus mengalami peningkatan ini diapresiasi sepenuhnya oleh Pemerintah Kota Ternate. Walikota Ternate Dr. Hi. Burhan Abdurahman berjanji melakukan kesepakatan kerjasama dengan beberapa Provinsi dan Kabupaten/Kota yang memiliki SDA berupa ketersediaan rumput laut untuk selanjutnya bisa dipasarkan ke Ternate.
Dasar pemikirannya adalah Maluku Utara adalah daerah yang prosentase luas lautnya begitu signifikan ketimbang luas daratan. Realitas wilayah ini memastikan potensi hasil laut Maluku Utara menjadi primadona utama di tingkat nasional maupun Internasional. Selain itu rumput laut menjadi komoditas unggulan nasional di samping tuna dan cakalang.
Target peningkatan produksi PT. Alga Kastela untuk 2017 dan 2018 diharapkan dapat memperluas dan melayani daerah tujuan ekspor. “Saat ini daerah tujuan ekspor kita adalah Makassar, Mojokerto, Bekasi dan untuk peningkatan produksi ini harus dibutuhkan infrastruktur sarana prasarana yang memadai.” Papar Erna pada Media Rakyat.
Lebih lanjut Erna juga menjelaskan beberapa infrastruktur sarana yang perlu ditingkatkan adalah perluasan lahan untuk lantai jemu, bak cuci, crane (pengangkut) yang saat ini butuh utnuk diperbaiki, transportasi (mobil). Beberapa sarana yang dianggap sudah memadai adalah laboratorium sebagai pusat pengujian kualitas produk. “Untuk hal ini kita sudah memiliki tenaga skill yang spesifikasinya sudah sesuai kebutuhan.” Ungkap alumnus S2 IPB Bogor ini. >>Ateng
