Ciamis Lakukan Terobosan Pertama Minat Baca ke Petani dan Lapas

Ciamis, (MR)
REVOLUSI minat baca pertama kali di Indonesia digulirkan di Kab.Ciamis dengan penyelenggaraan Sosialisasi Minat Baca Pesantren, Petani dan Lapas (10-11 Juli’12) di gedung Puspita Ciamis.
Ciamis terpilih berdasarkan dalam hal minat membaca sudah merata se-Indonesia, berbeda dengan di daerah perkotaan di Jawa Barat bahkan Indonesia masih rendah, bahkan Ciamis merupakan Kabupaten/Daerah yang paling banyak memiliki pesantren (678 pesantren), puluhan santri sampai ribuan yang tentunya menjadikan simpul-simpul masa depan Indonesia, karena di pesantren dengan berbagai macam kelebihan dan kekurangannya dalam hal membangun karakter bangsa, umat, mayarakat yang terbukti sekarang dicanangkan oleh pendidikan umum, pesantren itu sudah lebih dulu dan hasilnya sudah nyata.
Sedangkan di sekolah umum, fenomena tawuran sering terjadi mulai Sekolah Dasar sampai perguruan tinggi, tetapi belum pernah terdengar di pesantren ada tawuran para Santri, dan itu salah satu keberhasilan pesantren sehingga kemajuan berdasarakan kesadaran yang terdidik salah satunya pintunya lewat membaca, dan daerah akan maju karena komunitas paling besar (keagamaan), bukan hanya di komunitas pesantren saja komunitas petani bahkan di lembaga pemasyarakatan (lapas) Ciamis diikuti + 400 napi.
Suherman (Narasumber Propinsi Jabar) mengatakan, revolusi ini sangat nyata di Kabupaten Ciamis melalui minat budaya membaca, karena membangun daerah harus di dahulukan pemikiran dan paradikmanya daripada membangun yang lainnya dan inti salah satu pintunya lewat membaca. Baiknya minat membaca secara teori kebiasaan membaca mulai dari kandungan (Ibu dan keluarga sering membaca) sehingga menular secara batiniah ke jabang bayi yang dikandung.
Disamping itu di kondisikan sejak kecil (baru lahir) disekelilingnya tersusun rak-rak lemari buku dan bukannya etalase toko yang serba materialistis. Perbedaan membaca dan berhitung secara teoristis sama saja, seseorang bisa berhitung karena sebelumnya sering membaca dan biasanya setelah pandai berhitung jarang membaca.
Harapan untuk masyarakat ciamis dan untuk pemerintah. Suatu terobosan baru buat Ciamis, saya sudah keliling Jawa Barat bahkan hampir seluruh Indonesia, baru ciamis yang ada program seperti ini, langkah dan terobosan riil ini lebih dekat lagi dengan masyarakat bahkan langsung menyentuh ke pesantren, petani dan ke lapas, sehingga ini suatu bentuk revolusi budaya untuk membangkikan suatu daerah dari masyarakat yang paling bawah untuk disadarkan, dengan gerakan penyadaran diteruskan kepemahaman dan akhirnya praktek.
Kesadaran keseluruhan secara massive kemasyarakat harus disertai fasilitas pendukung seperti tempat, buku dan lainnya diteruskan untuk mempraktekannya. Support dari pemerintah sudah jelas, terbukti dengan adanya Undang Undang 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan untuk membangun budaya baca. Ini merupakan perhatian Pemerintah meski belum diterjemahkan kedalam Peraturan Pemerintah/Daerah, tetapi hanya Propinsi Jawa Barat yang sudah menterjemahkan Pertama ke Perda.
Dukungan legisasi program sosialisasi nasional sudah ada meski belum maksimal, bisa dilihat dari flot anggaran pemerintah. Dari 2000 Triliun-nan nilai APBN (Pusat), perpustakaan hanya 243 Milliar dan ini sangat kecil dengan problema kita yang sangat luas, Ciamis saja mendapat 400 Juta dari trilliun-nan APBDnya, sangat kecil untuk membangun minat baca masyarakat. Disamping Bahasa Arab, Bahasa Inggris juga sangat diperlukan untuk menuju wawasan global, tambah Suherman. >>AD

Related posts