mediararakyat

Pembawa Suara Pembangunan Bangsa

PT.Duta Graha, Bukan Duta Yang baik ?

Published on Feb 10 2012 // Berita Utama

Bangunan Sudah Banyak Rusak, Siapa Bertanggung Jawab?

Natuna,(MR)

SELASA pekan lalu, beberapa pegawai dikomplek NGU (Natuna Gerbang Utaraku) sibuk dengan aktivi-tasnya, Saat wartawan Koran ini bersama rekannya, mema-suki ruangan kantor, salah satu pegawai golongan tiga itu datang menghampiri. Sambil mengumbar seyum  lelaki sete-ngah baya itu berkata, sehat bang? Katanya memulai perca-kapan. Rio bukan nama sebe-narnya, menyayangkan kinerja Duta Graha.

Ia mengatakan, saat ini kantor kita yang berada di bawah, kalau hujan airnya masuk keruangan. Hal itu dikarenakan adanya plapon di lantai dua sudah ambruk, dikarenakan atap sudah bocor. Ini sangat membahayakan pegawai yang sedang bekerja. “Kita takut sewaktu-waktu bisa saja plapon roboh menim-pa pegawai, ungkapnya. Kalau Bapak tak percaya, boleh dicek, sebahagian besar plapon ruangan di beberapa kantor, sudah mengalami kerusakan.

Hal senada juga dikatakan sekuriti yang sedang bertugas dilokasi NGU. Sebahagian besar pelapon yang ada di Asrama Haji sudah rusak diakibatkan atap bocor. Diprediksi tahun ini, asrama Haji bakal tidak dapat dipergu-nakan, karena kamar inapnya sudah banyak rusak. Ini hanya sebahagian kecil saja. Mesjid Agung juga banyak bocor, kalau hujan tiba, harus ditam-pung kalau tidak akan becek, katanya sambil membawa wa-rtawan melihat-lihat kondisi ruangan asrama haji. Hampir semua kamar di Ruangan Asrama Haji ditem-pel kertas bertuliskan kamar rusak.

Hasil investigasi di lapa-ngan, membenarkan, Proyek raksasa Natuna Gerbang Utaraku, mulai dibangun tahun 2007 lalu dengan anggaran dari APBD senilai 900 millyar, system pekerjaan, menggunakan tahun Jamak. Untuk tahap awal Pemerintah daerah Kabupaten Natuna mengelontorkan anggaran 400 millyar untuk paket 1A, sisanya akan diteruskan dalam pekerjaan paket B.

Seiring dalam perjalanan waktu, paket 1A telah rampung dikerjakan dan telah diserah terima tahun 2009 lalu. Adapun paket yang telah selesai dikerjakan terdiri dari Mesjid Agung, Selasar, Gedung serba Guna, Asrama Haji dan Stai, Sayangnya proyek raksasa Natuna Gerbang Utaraku, tidak sesuai dengan harapan masyarakat Natuna. Soalnya sebahagian Ruangan baru ditempati untuk di jadikan perkantoran, sudah mengalami kerusakan dibahagian plaponnya.

Selain bocor, jalan penghubung antara kantor, ke Mesjid, kondisinya sudah banyak retak. Jika dibiarkan, dikawatirkan bakal memakan korban. Bahkan kondisi bangunan juga tidak terawat. Pada hal perusahaan raksasa ini, sangat terkenal. Terlebih saat mencuatnya suap di Wisma Atlet Palembang. PT.Duta Graha Indah, alamat jl Hasanudin No 69 kebayoran Jakarta, ternyata bukan Duta yang baik. Sesuai dengan namanya PT Duta Graha Indah, paket pekerjaan NGU tidak seindah namanya. Fakta dilapangan  pekerjaannya “amburadul” Pada hal proyek tahun jamak ini, dalam laporan tahun 2009 lalu telah siap 100% dan telah dilakukan pembanyaran 93%.

Data dimiliki wartawan Koran ini, Proyek Natuna Gerbang Utaraku (Gerakan Membangun Ke Anak Cucu) dianggarkan Tahun 2007, saat APBD Natuna mencapai 1,9 Trillyun. Awalnya proyek Raksasa ini jadi perbincangan hangat dimasyarakat, ada setuju dan ada tidak. Namun akhirnya, berkat kegigihan Daeng Rusnadi, aikon kebanggaan Natuna itu, terealisasi juga dengan anggaran tahun jamak.

Proyek NGU, di kerjakan oleh PT.Duta Graha Indah. Nilai proyek awal 380.061.000.000. Dalam perjalanannya, pemilik Proyek, Pemerintah Kabupaten Natuna yakni, Dinas PU, melakukan addendum, 16.855.000.000. Addendum tersebut bukan pengurangan melainkan penambahan biaya proyek. Sementara itu, konsultan perencana PT .Astri Arena Jakarta, nilai kontrak 6.699.700.000, dan konsultan MK PT Ciriajasa CM –BI exsakta Kebayoran Jakarta, nilai 5.637.511.000. Sayangnya perusahaan “elit” ini, bekerja tidak “propesional”.

Jauh sebelum berita ini diturunkan, sudah pernah dilakukan Sidak oleh rombongan komisi II DPRD Natuna Sidak tersebut karena adanya pengaduan dari beberapa mahasiswa tentang Ruangan Stai plaponnya sudah banyak “ambruk” pada hal baru beberapa bulan ditempati. Ternyata informasi itu benar, bangunan sekolah megah itu sebahagian besar plapon sudah roboh, diakibatkan kondisi plapon tidak rata, atapnya memakai seng multi roup, namun tidak dilapis dengan aluminium poil sebagaimana biasanya, berguna untuk penahan panas dan bocor, Dari pantauan dilapangan, kerusakan plapon diakibatkan uap panas dan air hujan.

Wakil ketua komisi II Dwitra Gunawan pada saat itu, didampingi dua rekannya Johannes Ibro dan Rumadi mengatakan kekecewaan yang dalam, terkait runtuhnya plapon ruangan STAI Natuna. “Kita sangat kecewa atas kinerja DGI, dinilai tidak professional, Bangunan sebesar ini tidak berkwalitas. Menurutnya, pembangunan NGU yang dilaksanakan PT DGI kurang pengawasan, serta perencanaannya kurang matang. Akibatnya, banyak bangunan sudah mengalami kerusakan padahal belum serah terima. Kita ketahui, gedung STAI Natuna di bangun tiga buah. Dua gedung berlantai dua dan satu gedung berlantai tiga dengan anggaran 83.211.222.740.85. Meski nilai bangunan besar, tapi hasilnya tidak memuaskan.

Oleh karena itu Dia meminta Konsultan Perencana dan Konsultan Pegawas, harus bertanggung jawab, terkait robohnya plapon ini. Kita akan segera melakukan pemanggilan terhadap PT DGI, konsultan pegawas, perencanaan, dan pihak  PU. Kita akan pelajari, apakah benar bangunan sebesar ini tidak dilapisi aluminium poil, kata Dwitra dengan nada kesal.

Pihaknya juga akan melakukan pengecekan terhadap bangunan lain, sebab Dirinya sudah mendapatkan informasi, ada beberapa bangunan sudah mengalami keretakan, Kita juga meminta, aparat Hukum jangan tutup mata. Dari awal berita tentang NGU, sudah mencuat kepermukaan, bahkan, belum ada tanda-tanda aparat hukum untuk melakukan pemeriksaan. Meski pihak DGI sudah melakukan perbaikan, namun kondisi sebahagian besar bangunan NGU pada saat ini, mulai mengalami kerusakan parah. Ini merupakan bukti Pekerjaan dilakukan  Duta Graha “asal-asalan”. Dikawatirkan akan membahayakan jiwa. Pantauan dilapangan sudah banyak bangunan kondisinya menghawatirkan”.

DGI “Minggat”

Sementara itu kantor utama DGI ( Duta Graha Indah) dilingkungan NGU (Natuna Gerbang Utaraku) tampak sepi. Saat wartawan Koran ini beserta rekannya mendatanginya, salah seorang Satpam menghampiri. Bapak mau apa ? jawab wartawan,. “mau jumpa pimpinan DGI ” lalu lelaki itu bertanya lagi untuk apa, wartawan pun menjawab mau konfirmasi soal sejumlah bangunan Proyek NGU, sudah mengalami kerusakan.

Selang beberapa saat Dia kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama, sambil menunjukkan Ini bosnya paparnya. Melihat kondisi pakaiannya Wartawan tak yakin itu bosnya, sebab selain pakaian kumal, lelaki separoh baya itu memakai sandal jepit. Tidak ada wibawa seperti pimpinan. Setelah ditanya, akhirnya lelaki mengaku bos itu, hanya staf biasa. Harris mengaku hanya pekerja biasa, kalau pimpinan disini tidak ada lagi, semuanya sudah pulang, tinggal kami saja. Itupun sambil menunggu mobilisasi untuk mengangkut barang yang sisa, paparnya. Kalau masalah bangunan sudah banyak rusak kami tidak dapat jawab, Tanya saja kepada PU Natuna sarannya.

Dengan berangkatnya DGI dari Natuna, akan menambah beban bagi Pemerintah daerah. Pertanyaannya siapa yang harus bertanggung jawab untuk memperbaiki kerusakan dalam proyek NGU ? Apakah proyek raksasa ini sudah waktunya rusak ?. >>Roy

Leave a comment