Maluku Utara, (MR)
Minat Baca, bahan bacaan dan masyarakat moderen adalah tiga matra terpenting yang saling berkorelasi satu sama lain di tengah hiruk pikuk wacana menuju gerakan perubahan. Ketika suatu masyarakat bervisi menuju pada sebuah perubahan, menginginkan sebuah model kehidupan yang lebih moderen pada starting awalnya adalah mentradisikan minat baca. Tak bisa dibayangkan memang sebegitu banyak sumber ilmu pengetahuan yang ada disekitar kita tetapi lagi-lagi sumber bacaan yang bernilai pengetahuan itu tidak akan bermanfaat, akan sia-sia apabila tidak ada keinginan, kemauan, setiap orang untuk membacanya.
Dengan begitu apabila kita berkeinginan untuk membangun visi masyarakat dan daerah ini kedepan tentunya harus dengan agenda aksi yang jelas, membangun center of excelent (termasuk perpustakaan) dengan memulai dari lingkup kelembagaan yang paling terkecil yakni keluarga. Menjadikan anak-anak kita yang mampuni dari sisi kafaah (pengeuasaan ilmu) dan mobilitasnya sihingga melahirkan tipikal generasi yang Rabbani, berilmu pengetahuan dan berkontribusi pada berbagai bidang kehidupan. Untuk memenuhi ciri dan model generasi masa depan daerah ini yang maju, moderen, berperadaban dan berilmu pengetahuan hanya dapat dilalui dengan mentradisikan aktifitas membaca dalam keseharian mereka karena lagi-lagi “Membaca” adalah jendela pengetahuan.
Konsep pemikiran tersebut diramu MR Perwakilan Maluku Utara dalam sesi diskusi dan wawancara dengan kepala badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Maluku Utara Hj. Miftah Baay, SIP., MM. Menurutnya badan perpustakaan dan kearsipan daerah Provinsi Maluku Utara saat ini terus giat mensosialisasikan keberadaan perpustakaan kepada masyarakat luas khusunya kalangan pelajar dari jenjang pendidikan dasar sampai tingkat SMU juga kalangan Mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi yang ada di Maluku Utara. Selain kegiatan sosialisasi pihaknya saat ini juga terfokus dengan pembangunan kantor baru berkontruksi lantai dua di sofifi yang direncanakan finisingnya pada bulan Mei 2015.
“Sosialisasi dilaksanakan untuk memberikan pemahaman dan informasi kepada masy arakat tentang keberadaan Perpustakaan dengan beragam koleksi sumber bacaan atau buku, disamping sosialisasi juga dimaksudkan untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya minat baca mengingat saat ini untuk Maluku Utara belum begitu mentradisi atau masih berada pada peringkat terendah bila dibandingkan dengan daerah lain. Guna memaksimalkan kegiatan tersebut badan perpustakaan dan kearsipan daerah juga telah memiliki satu unit mobil perpustakaan keliling yang dimaksudkan bisa melayani kebutuhan masyarakat di setiap desa dan kelurahan.
Rendahnya minat baca yang bisa dipantau dari intensitas waktu kunjungan ke perpustakaan memberikan sebuah indokator bahw minat baca belum begitu mentradisi secara inherent dalam kehidupan masyarakat. Dengan begitu ke depan akan di rancang program kemitraan antara perguruan tinggi, institusi pendidikan dasar dan menengah dengan badan perpustakaan dan kearsipan daerah Provinsi Maluku Utara. Prorgam ini dimaksudkan untuk sharing informasi kebutuhan pembelajaran berupah buku atau sumber kepustakaan disetiap lembag pendidikan dengan koleksi buku yang dimiliki oleh badan perpustakaan. “Ini untuk mempermudah setiap siswa atau mahasiswa dalam mengakses buku di perpustakaan yang relefan dengan kebutuhan disiplin ilmu” Papar Mantan Camat Malifut.
Keberadaan sebuah perpustakan yang representatif ditingkat daerah adalah kebutuhan penting bagi masyarakat daerah dalam meng-up-date berbagai informasi ilmu pengetahuan guna terbentuknya tipikal masyarakat yang maju, berilmu pengetahuan dan berperadaban. Kearah itu menurut MIFTAH perlu adanya politicall will dan cullture will pemerintah daerah. “Transformasi struktural saja tidak akan mampu mengubah paradigma pemikiran masyarakat kita kalau tidak di ikuti dengan transformasi kultural artinya apalah artinya sarana dan kantor perpustakaan yang kontruksinya didesain secara apik dan moderen, koleksi buku yang rata-ratanya the best seller tapi tidak ada budaya, tradisi dan minat baca dikalangan masyarakat akhirnya hampa semuanya” tukasnya. Dengan begitu mentradisikan minat baca dikalangan masyarakat perlu harus ada gerakan aksi yang universal tidak harus parsial. Gerakan ini harus mengikut sertakan semua elemen dan harus dimulai dari institusi sosial yang paling terkecil yakni keluarga. >>Ateng-Saleh
