Dugaan Ada Mafia Tanah di Kavlingan Cendana Desa Karya Indah Kampar

Pekanbaru, (MR)
Salah seorang pemilik sebidang tanah di kavlingan Cendana yang berlokasi di Desa Karya Indah, Kampar mengaku tidak pernah menjual tanahnya tersebut kepada siapapun, hal demikian diutarakannya kepada SKU MEDIARAKYAT dikediamanya pada hari Minggu (20/01/2019).
Adalah Yulia Rifai, warga Jalan Duyung, Kelurahan Tangkerang Barat ini mengatakan, dari awal membeli tanah kavlingan tersebut dirinya tidak pernah menjual kepada pihak manapun, bahkan dirinya juga tidak pernah diberitahu oleh Ketua pengurus kavlingan tentang dimana letak tanah yang sesungguhnya. “Tidak pernah, dari Tahun 1982 tidak pernah. Tapi, nunjuk dari jauh, ada,” ungkap Yuliar mengenang peristiwa itu.
Sebelumnya, berdasarkan informasi dari Yuliar Rifai beberapa waktu yang lalu, wartawan SKU MEDIARAKYAT melakukan investigasi guna mengungkap apa sebenarnya yang telah terjadi dilapangan.
Dalam investigasi itu, Ketua pengurus Kavlingan Cendana berinisial HM, saat dikunjungi di kediamannya Jalan Pembangunan (Samping Polsek Rumbai) menyatakan, semenjak Tahun 2006, HM tidak lagi mengurus dan keberadaan kavlingan tersebut tidak lagi jelas dimana keberadaannya. Karena pada saat itu, pasca terjadinya penyerobotan lahan oleh pihak lain yang berujung ke  Mahkamah Agung (MA), HM justru dilaporkan ke Polisi oleh salah seorang guru Cendana (Almarhumah).
“Malahan saya yang dilaporkan ke Polisi, sehingga saya dihukum 2 (Dua) Tahun Penjara (Terjemahan dari bahasa Minang),” ucap HM kala itu, Kamis (02/09/18).
Pernyataan yang berbeda disampaikan oleh Sekretaris Desa Karya Indah, M. Nur di ruang kerjanya, Kamis (/20/12/18) mengatakan, tanah Kavlingan Cendana hingga saat ini masih ada dan kavlingan dikuasai oleh HM. Bahkan beberapa waktu yang lalu HM pernah mengajukan pengurusan sertifikat tanah ke BPN namun pengajuan itu gagal di proses.
Di hari sebelumnya (Rabu/19/12/18), salah seorang mantan guru Cendana berinisial NY mengatakan, dari awal saat membeli tanah tersebut, dirinya tidak pernah mengetahui tentang keberadaan tanahnya hingga sampai tanah tersebut dijualnya.
“Jadi, saya jual tanah ini kepada HM. Dijual buta saja, karena tidak tahu dimana tanahnya (Terjemahan dari bahasa Minang),” terang lelaki lansia yang tengah mengidap penyakit stroke ini di kediamannya komplek perumahan Cendana Jalan Lintas Sumatera, Palas, Rumbai.
Selain itu, mantan guru Cendana lainnya berinisial U mengaku dirinya mengetahui kalau HM telah melakukan cara-cara yang tidak terpuji buat menguasai tanah tersebut. >>Iswadi

Related posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.