Dinas Kelautan dan Perikanan Jatim Berlakukan Zonasi Perikanan Budidaya

BlitarSurabaya, (MR)
Menyebut Kota Blitar, pertama kali yang tersirat di benak kita bisa jadi adalah wisata sejarah yang tak pernah terlupakan, yakni Makam Proklamator Kemerdekaan RI Soekarno. Di luar itu, siapa tahu bahwa Kota Blitar dikenal sebagai sentra budidaya ikan koi. Cerita Ir. Heru Cahyono pada MR.

Sebagian penduduk Kota Blitar menjadi peternak dan budidaya ikan koi, terutama mereka yang tinggal di dua kecamatan, yaitu Tambakboyo dan Kecamatan Kota Blitar. Seperti di Dusun Brisi Desa Tambakboyo, Kecamatan Tambakboyo, Blitar, separuh warganya menjalani profesi budidaya koi disamping menjalani aktivitas keseharian seperti petani dan membuat batu bata, ucapnya.

Kabupaten Tulungagung yang dikenal sebagai salah satu sentra budidaya gurami di Indonesia. Di Tulungagung, budidaya gurami dilakukan secara besar-besaran, dan terakhir tercatat ada lebih dari 20.000 petani yang membudidayakan gurami.

Sentra budidaya gurami Tulungagung berada di Tulungagung bagian timur yang meliputi kecamatan Sumbergempol, Rejotangan, Kalidawir, Ngunut, Ngantru, Kedungware, Boyolangu dan terus merembet ke wilayah lainnya.

Pada komoditas patin dan lele sudah menyebar kepelosok desa diseluruh kabupaten Tulung agung dan produk ini menjadi andalan karena sector perikanan. Bahkan lele dan patin Tulungagung dapat memenuhi kebutuhan ikan di berbagai daerah di Indonesia. Produksi terbesar komoditas ikan patin di Jawa Timur dari Kabupaten Tulungagung yakni 2.756,46 ton atau 73,08 % pada tahun 2014-2015.

Kawasan minapolitan perikanan budidaya di Tulungagung telah menjadi kawasan industrialisasi. Sektor hulu telah terintegrasi dengan sektor hilir dengan pertumbuhan ekonomi yang menggembirakan. Untuk itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) akan terus memperkuat infrastruktur pendukungnya, seperti jalan produksi, saluran air dan jaringan listrik.

Dua daerah tersebut merupakan contoh besarnya potensi perikanan budidaya di Jatim. Selama ini, Jatim jadi provinsi dengan volume produksi perikanan tangkap terbesar ke-2 di Indonesia dengan produksi sekitar 399.372,20 ton selama 2014 – 2015. Pada periode yang sama, Jawa Timur pula memiliki produksi ikan dalam bidang budidaya dengan produksi 1.040.848,8 ton.

Namun potensi ikan budidaya setiap kabupaten/kota di Jawa Timur belum terjabarkan secara spesifik. Olah karena itu Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Jawa Timur mulai memberlakukan zonasi potensi perikanan budidaya di wilayahnya.

“Dalam zonasi itu nantinya bakal dipetakan wilayah-wilayah mana yang memproduksi salah satu jenis ikan budidaya skala besar. Namun bukan berarti di wilayah lainnya tidak dibudidayakan ikan tersebut,” ujar Kepala Diskanla Jatim, Heru Cahyono.

Pria yang pernah menjabat sebagai Bupati Tulungagung ini menerangkan, zonasi itu diterapkan untuk mempertemukan supply and demand. Misalnya di Sidoarjo dan Gresik yang dikenal dengan budidaya bandeng. Sehingga konsumen bisa datang langsung ke wilayah itu.

Sekarang ini untuk zonasi Diskanla Jatim sudah memulai di 6 kabupaten/kota di Jatim. Tahap awal ialah mendata jenis ikan yang diproduksi di masing-masing daerah. Semisal di Sidoarjo, Gresik, Jombang, dan Mojokerto sudah tampak produksi jenis ikannya. Dengan demikian kelebihan produksi di satu wilayah bisa didistribusikan ke wilayah lainnya agar tidak over produksi yang berakibat pada turunnya harga ikan.

“Termasuk juga kita mencari kebutuhan pasar sesuai dengan ukuran dan berat. Contoh pasar butuh ikan 1 kg isi 2 ikan, atau 1 kg isi 3 ikan, sampai pada ikan disajikan ke piring seberapa beratnya. Sehingga saat dikonsumsi di restoran tidak usah memotong lagi, cukup digoreng jadi satu piring,” ujar Heru.

Di sisi lain, Diskanla Jatim juga tetap waspadai dan memproteksi masuknya ikan dari luar, baik luar provinsi maupun luar negeri. Caranya, dengan menggalakkan kegiatan pembinaan terhadap nelayan dan UMKM agar tidak menjual ikan dalam bentuk utuh, tapi sudah difillet atau sudah diolah setengah matang. Langkah ini dilakukan agar nelayan atau UMKM mendapatkan nilai tambah (add value).

“Itu yang mulai kita lakukan sehingga orang mencari ikan tidak hanya fresh tapi sudah olahan ke berbagai produk seperti nugget bakso atau lainnya. Sekarang kita mulai menunjukkan peningkatan yang dulunya konsumsi ikan 28 kg per kapita, sekarang menjadi 31 kg per kapita. Pada tahun 2016 ini kita harapkan meningkat jadi 35 kg per kapita,” ujar pria kelahiran 6 Maret 1961 ini. >>Firman

Related posts