Alumni IAIN Ciptakan Mesin Pengupas Kelapa

Bombana, (MR)
Mengupas kelapa secara manual adalah hal yang dirasakan paling sulit bagi petani saat mengolah kelapa mereka untuk berbagai kebutuhan. Hal ini tidak hanya menguras energi, namun juga berdampak pada lambatnya hasil produksi pasca panen untuk menghasilkan minyak kelapa atau kopra.
Namun saat ini, petani kelapa khususnya di Sulawesi Tenggara dapat bernafas lega. Pasalnya, di Kecamatan Poleang, Kabupaten Bombana telah ditemukan mesin pengupas sabut kelapa oleh seorang Sarjana Agama bernama Yunus yang kesehariannya mengelola usaha perbengkelan.
Berbekal profesinya sebagai Tukang Las, alumni IAIN Alauddin Ujungpandang (sekarang UIN) ini kemudian mencoba merakit mesin yang menurutnya sangat dibutuhkan petani kelapa itu. Ia pun merancang mesin tersebut dan melakukan ujicoba berulang-ulang selama satu tahun. “Ini saya pikirkan kurang lebih satun tahun pak, kita ujicoba terus sampai betul-betul sesuai keinginan,” jelasnya via handphon, Senin (1/1).
Yunus mengaku tertarik untuk merancang mesin tersebut karena prihatin dengan kondisi masyarakat poleang yang harus berkutat dengan metode pengupasan sabut kelapa secara tradisional, sementara jumlah buah kelapa yang harus dikupas sangat banyak.
“Awalnya kan saya lihat di desa-desa itu banyak yang produksi buah kelapa untuk dijadikan kopra. Saya lihat cara mengupasnya masih manual dan memakan waktu lama, di situlah saya mulai berpikir untuk membuat mesin pengupas sabut kelapa,” tambahnya.
Kerja kerasnya membuahkan hasil dan benar-benar dapat diandalkan untuk meringnkan beban petani dalam memperoduksi kopra, karena mesin tersebut selain aman, juga dapat mengupas kelapa paling sedikit 300 biji per jam.
Yang menarik, Yunus tidak pernah mengikuti pendidikan khusus mengenai teknologi permesinan. Selain itu, selama merancang mesin tersebut, Ia tidak didampingi ahli mesin dan tidak pernah meminta pendapat kepada siapapun. Tetapi semata-mata mengandalkan kemampuannya secara otodidak. “Saya bikin ini pak atas fikiran saya sendiri, saya tidak pernah ikuti pelatihan atau kuliah khusus,” ujarnya.
Karya besarnya ini, menjadi perbincangan dan mendapat pujian khalayak setelah alat ciptaannya dipajang dalam pameran saat memperingati HUT Kabupaten Bombana ke-14 di Poleang bulan Desember 2017.
“Saya sudah pamerkan ini pak waktu ulang tahun Bombana, dan banyak orang yang memberikan pujian dan petunjuk terkait mesin ini pak,” jeasnya sambil mengharapkan petunjuk dari pemerintah mengenai pengurusan hak cipta atas penemuannya itu.
Dalam pengembangan mesin tersebut, Yunus mengaku mendapat dukungan moril dari berbagai pihak terutama Camat Poleang, Yandu, S.Pd. “Terima kasih kepada masyrakat dan pak camat karena selalu mendukung saya dan anggota saya untuk terus mengembangkan mesin ini,” imbuhnya sambil menambahkan kalau mesin ciptaannya dibandrol dengan harga promo Rp 7.500.000 dari harga normal Rp.10 juta per unit. >>MR

Related posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.