Sunday, 18/11/2018 | 12:00 UTC+7
Media Rakyat

Tahun 2019 Tol Udara Natuna Akan Diambil Alih

Natuna, (MR)
Kurangnya fasilitas pemantau lalulintas udara di Natuna memaksa Kita harus memberikan kepercayaan itu kepada Malaysia dan Singapura. Hal tersebut, dikatakan Komandan Lanud Raden Sadjad kolonel Penerbang Azhar Adytama diruang VVP, bandara Lanud Raden Sajad, Senin, tanggal 31 Juli saat melakukan coffee morning bersama sejumlah wartawan.

Menurutnya, jika Kita dapat melengkapi pasilitas itu, bukan tidak mungkin tol udara lintas Natuna bisa kita ambil alih. Bayangkan berapa banyak pajak yang akan Kita sumbangkan ke Negara jika, lintas udara itu bisa Ditangani. Dalam satu hari saja ada 340 lebih pesawat lalu lalang melintasi jalur udara Natuna.

Ini yang mau digesa, mengingat Natuna merupakan jalur perlintasan baik pesawat dalam negeri maupun luar negeri. “Jika mau diambil alih, harus ada fasilitas SAR, berupa helikopter di tempatkan di Natuna dan Matak. Karena ini merupakan syarat mutlak. Selain itu harus dibangun AIR NAV sebagai penunjang kegiatan, ujar perwira berpangkat Bunga Tiga Itu.

Harus kita akui, sejak tahun 80 an kekurangan personil dan kelengkapan peralatan yang kita miliki, memaksa Kita menyerahkan wewenang itu kepada Malaysia dan Singapura. Artinya kontroling dua Negara itu terhadap lintas udara di Natuna sudah berumur 37 tahun, dan selama itu pula pajak tolnya diambil oleh Mereka.

Kita harapkan, pada tahun 2019 sudah bisa kita nikmati dengan cara mengambil alih kontrol itu, maka mulai dari sekarang harus di upanyakan peningkatan fasilitas. Adapun langkah-langkah yang akan diambil adalah mempersiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan.

Terkait jumlah pesawat yang melintas di jalur udara Natuna bisa dilihat dari radar satelit. Kita hanya dapat mengelola jika pesawat terbang diketinggian 4000 kaki kebawah, sedangkan Malaysia 400+20000 kaki, selebihnya ditangani Singapura.

Jika persyaratan itu sudah dipenuhi, Singapura sama Malaysia harus mau melepas. Maka mulai sekarang kita tunjukkan, kedaulatan Kita. Agar pajak lintas udara Negara yang terima dan Natuna pasti Kecipratan hasilnya, ungkapnya.

Suasana pun semakin akrab ketika Danlanud bersama wartawan dan perwira lainnya duduk bersama sambil menikmati hidangan pagi.

“Sebenarnya sudah lama saya ingin kumpul bersama rekan-rekan wartawan, namun karena kesibukan baru hari ini kita bisa coffee morning bersama,” ujar Danlanud.

Danlanud menyampaikan beberapa hal, mulai dari program kerja, serta peningkatan sarana dan prasarana Lanud dalam menjaga keutuhan wilayah terdepan NKRI, serta dukungannya terhadap wisata dan keinginannya agar harga tiket Natuna bisa turun, “Saya telah mengajak beberapa maskapai agar mau ke Natuna, tujuannya biar ada persaingan harga. Jika maskapai banyak, maka akan ada persaingan harga. Tangal 17 Agustus bakal ada penerbangan baru. Dari Natuna-Tanjung Pinang. Saya tekankan agar harga tiket bisa dibawah satu juta,” Pintanya.

Meski baru bertugas di Natuna, komandan Lanud Raden Sadjad telah banyak membuat terobosan-terobosan, guna membantu perkembangan Kabupaten Natuna. Sebelum ke Natuna, “Saya bertugas dibeberapa tempat termasuk dinas diluar negeri dan di Sesko AU sebagai dosen,” ucap sang komandan mengenang kembali nostalgia masa lalu.

Sebagai pasukan di garis depan, keberadaan Lanud Raden Sadjad menjadi penting. Bandara Lanud Raden Sadjad merupakan bandara tertua yang sudah ada sejak jaman penjahan Jepang sejak tahun 1952.

“Dulu bandara ini peninggalan Jepang, pada bulan Januari 1952 Bung Sukarno menyerahkan sebuah peta yang isinya beberapa bandara peninggalan Jepang, termasuk di Natuna. Bandara ini sepanjang 800 meter kemudian dikembangkan oleh Kapten Raden Sadjad bersama masyarakat kampung Penagi menjadi lebih besar dan panjang,” terang Danlanud.

Kedepan, kata Danlanud bandara Raden Sadjad akan dikembang menjadi lebih besar. Panjang landasan pacu (Runway), akan ditambah dari 2.645 meter menjadi 3.000 meter. Selain itu, saat ini juga sedang berlangsung pengerjaan penambahan jalur Runway menjadi dua.

Secara keseluruhan luas lahan Lanud Raden Sadjad sebanyak 452 hektar. “alhamdulillah lahan kita ini, sangat luas dan sudah bersartifikat semuanya,” tambahnya.

Selain itu, landasan pacu bandara juga cukup panjang jika dibandingkan dengan Pontianak dan Pekan Baru. Natuna memang menjadi kosentrasi pemerintah pusat melalui Kementerian Pertahanan untuk mengembangkan bandara terlengkap sebagai pagar perbatasan.

Ada alasan khusus mengapa pemerintah sangat fokus ingin membangun pertahanan udara lengkap di Natuna. Salah satunya, Natuna sangat dekat dengan pangkalan terdepan Negara Republik China. Jarak Natuna dengan pangkalan terdepan China hanya 350 kilometer, hanya 10 menit sudah sampai jika memakai pesawat tempur.

“Jarak kita ke pangkalan China sangat dekat sekali, jika dikonversikan dengan kecepatan pesawat tempur hanya 10 menit, kita sudah sampai sana begitu juga sebaliknya,” terang Danlanud.

Kondisi ini tentu menuntut kita harus lebih siap secara prasarana maupun personil, sebab jika terjadi perperangan maka dalam waktu 10 menit saja, kita bisa membumi hanguskan mereka begitu juga sebaliknya.

Kekuatan diperbatasan menjadi penting, sebab apabila terjadi gesekan dengan negara tetangga maka mereka akan berpikir dua kali untuk menyerang kita. Untuk itu, saat ini bandara Lanud Raden Sadjad menjadi perhatian khusus pemerintah untuk dikembangkan menjadi lebih besar.

“Mari kita sama-sama mendukung agar keberadaan bandara Lanud Raden Sadjad menjadi lebih besar dan berkembang baik untuk pertahanan maupun untuk penerbangan umum,” ajak perwira berpangkat Bunga Tiga Itu. >>Roy

About

pembawa suara pembangunan bangsa

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.