mediararakyat

Pembawa Suara Pembangunan Bangsa

Seal Wisata Bahari Diujung Perbatasan Pemkab Promosi Wisata Laut Natuna

Published on Jun 09 2015 // Berita Utama

Photo bersamaAlif-Stone-Park,-NatunaNatuna, (MR)
Berbagai cara dilakukan Pemerintah Kabupaten Natuna, guna memperkenalkan keindahan Laut Natuna kemanca negara. Hal itu bertujuan guna mendongkrak minat wisata asing, untuk berkunjung di Kabupaten yang dijuluki mutiara di ujung utara. Meski banyak kekurangan, namun Pemerintah Daerah melalui Dinas Pariwisata Natuna, berupaya semaksimal mungkin, agar wisata Natuna, khususnya wisata Bahari, dapat dilirik masyarakat luar. Kita akui, meski Kabupaten  ini berada paling ujung, namun hasil migasnya, sudah terdengar hingga kemanca Negara. Oleh sebab itu, kita berharap, wisata baharinya dapat menyumbang PAD, untuk Daerah, ungkap Samsul Hilal.

Menurutnya, acara Seal Malasya, Anambas Dan Natuna, berdasarkan surat edaran dari Kementerian Parawisata dan Asosiasi. Informasi itu sudah kita terima dari tahun  lalu. Berkenaan dengan itu Dinas terkait secara teknis diwajibkan menyiapkan, antraksi-atraksi wisata ditempat yang disinggahi. Jadi  dari Dinas, hanya mempersiapkan festival sehari saja karena anggaran belum ada. Sementara, untuk  penyambutan, tidak ada dalam kegiatan Namun Pemerintah tetap melakukan penyambutan para Turis, untuk menunjukkan sikap keramahan kita terhadap mereka. Ada wacana untuk membentuk ikatan  dengan Kabupaten Kota lainnya, tapi masih terganjal karena tidak ada data akumulasi. Meski sudah tiga kali melakukan rapat, namun tidak satupun Kabupaten yang berani mengajukan anggaran untuk keamanan, mengingat APBD merosot.

Tetapi karena labelnya pariwisata, maka  kita jalankan saja sesuai dengan kemampuan keuangan Kita. Sehingga beberapa  kegiatan berupa penyambutan seharusnya, punya panitia tersendiri itu tidak Kita laksanakan. Namun dari Kementerian meminta  Dinas Pariwisata sebagai leadernya maka apapun itu, harus dijalani. Acara yang dilaksanakan mulai dari tgl 31 mei-2 juni ini, menitikberatkan tentang pesona alam laut dan kesenian Daerah. Intinya Kita tetap berusaha, agar kegiatan besar seperti ini dapat kita lakukan guna mendongkrak PAD, dari sektor wisata. Sekarang ini, sudah ada gawai besar sedang menunggu dihadapan kita. Diperkirakan tahun 2016 bakal ada kegiatan Seal Karimata. Ada empat Provinsi ditunjuk sebagai tuan Rumah, antara lain, Provinsi, Bangka Belitung, Kalimantan  Barat , Jambi dan Kepri. Untuk di Kepri, jalur dilalui, termasuk Bintan, Anambas, dan Natuna. Kemudian langsung ke Kalimantan Barat. Seal Karimata ini, sifatnya Nasional dan sudah melalui Kepres. Untuk persiapan semua kita serahkan kepada Bappeda karena mereka liadernya. Jadi BAPPEDA yang merancang apa diperlukan daerah itu, dan selanjutnya diajukan ke Pemerintah Pusat. Kita tidak pungkiri, masih banyak  harus  di benahi. Terkait  minimnya pasilitas MCK , kita tahu, mereka (BULE-red)  hanya mau memakai tolilet duduk, itu sudah kita antisipasi dan telah disiapkan. Mungkin karena banyak pengunjung, mereka tidak lihat, ujar Syamsul Hilal.

Sementara itu Bupati Natuna Ilyas Sabli, melihat kegiatan Seal Bahari ini, sangat bagus guna meningkatkan perekonomian masyarakat. Kita berkeinginan agar kegiatan seperti ini dapat diagendakan setiap tahun. Nanti Pemerintah akan berupaya untuk membagun sedikit lebih sedikit pasilitas, wisata bahari, sehingga para turis asing betah dan ketagihan untuk berkunjung ke Daerah ini. Bisa jadi  dalam pengembangan percepatan wilayah terpencil  pariwisata khususnya, dinas terkait dapat bersinergi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan, serta Dinas Perhubungan dan Telekomunikasi. Dengan menjual keindahan dan panorama wisata Natuna, ditunjang dengan keramahan penduduknya, akan menjadi nilai jual yang tinggi bagi wisatawan. Dengan demikian mereka akan datang berbondong-bondong datang ke Natuna. Bukan hanya itu, berbagai pasilitas teknologi seperti internet mulai kita benahi. Harapan kita kuat, khusus untuk melayani mereka dengan sebaik mungkin. Sebenarnya moment ini harus kita buat sedemikian baik, agar mereka dapat terkesan, sehingga ketagihan datang ke Natuna. Tadi sudah dikatakan, mereka sangat senang dengan keramahan penduduknya, terlebih alamnya, sangat indah, dan baru ini yang terindah ditemui selama melakukan pelayaran.

Melihat adanya daya tarik wisata Natuna tidak menutup kemungkinan kita juga akan membangun pelabuhan pariwisata khusus sehingga kapal mereka bisa mendarat tanpa menggunakan speedboat ke darat. Nah itulah harapan kita kedepan dan kita sudah memikirkan bahwa  Natuna, akan dikenal di mancanegara dengan sajian-sajian  ini. Mereka dapat menginformasikan lewat gambar atau tulisan-tulisan sehingga akan lebih memudahkan Natuna, dikenal di mata dunia.

Lain halnya dengan peryataan staf ahli Kementrian Pariwisata Raymond T Lesmana. Ia sedikit menyorati, minimnya pasilitas pembangunan di sektor wisata bahari. Pada hal Pemerintah Kita bersuara kencang, kalau Indonesia dikelilingi lautan luas yang sangat menarik. Tapi perhatian untuk membangun pasilitas sangat minim. Coba kita lihat, para pejabat daerah jarang mau berwisata dilaut, tapi kalau kedarat banyak.

Minimnya insfratuktur wisata bahari, menandakan minat kita masih sedikit dalam mengembangkan sektior wisata. Kebanyakan yang dibagun sarana olah raga darat. Mereka tidak berfikir untuk membagun Gelanggang Olaharga Bahari. Katanya laut kita 70% , kok mikirinnya Darat melulu, sesekali pikirin dong Bahari kita. Mengenai itu, Kita dari kementrian sudah pernah melontarkan wacana ini, ke Pemerintah Pusat, lewat  Kementerian Perhubungan. Tapi belum ada tanggapan. Karena Kementerian Parawisata sifatnya hanya mengusulkan saja, namun teknisnya di Perhubungan, karena kementrian sekarang, jadi Kementrian Negara tidak ada bagian infrastruktrur.

Jika dikatakan jenuh ya, bisa juga, karena sudah bosan mengusulkannya, bahkan lewat menteri-kementeri juga sudah dilakukan namun belum ada hasilnya. Memang jika membangun suatu dermaga biayanya sangat besar,  selain dermaga terminal juga harus dibangun. Jika tidak dimulai dari sekarang kapan lagi bisa terlaksana, ucap  Reymond T Lesmana.

Kita berharap di setiap daerah yang punya potensi wisatanya bagus, dapat dibagun Pelabuhan Wisata Bahari, pelabuhan ini khusus, sehingga tidak ada kapal barang, kapal penumpang dan kapal ikan berlabuh disana. Sehingga yang berlabuh kapal  wisata  saja. Kenapa? karena mancing perlu kapal, draiving juga perlu kapal kadang-kadang surefing, penelitian perlu kapal juga. Inilah harus disiapkan oleh Pemerintah. Sebetulnya pembagunan ini, bisa diambil alih oleh otonomi daerah kalau dia mampu. Jika dianggap penting bisa.

Selama itu untuk kepentingan masyarakat, kesejahteraan alam, dan untuk reproduksi perekonomian Indonesia harusnya  didukung penuh. Kapal ini nyaman untuk dibawa keliling dunia. Bukan seperti punya kita, kalau dibawa mancing, capenya bukan saat  mancing, tapi capek duduk dikapalnya. Kapal mereka ini khusus didesain tahan cuaca, badai, harganya sekitar 5-10 milyar. Untuk Indonesia sebahagian perusahaan ada yang bisa buat, mereka bisa memproduksi kapal-kapal itu tapi dilihat dulu konsumennya itu siapa? Masalahnya bukan siapa yang buat. Kita berharap Pemerintah dapat memasukkan tehnik teknologi daerah, guna pengembangan kapal layar, karena didunia pembuatan industri kapal layar sudah menjadi industri yang sangat hebat. Kapal yang Anda lihat sekarang ini, masih ada yang besar sampai  2 fit. Sudah jadi megayote setelah itu ada superiot, Kapal layar ini  panjangnya sampai 300 m dan milik  pribadi. Pemiliknya Bill Gate.

Semakin mahal kapal ditentukan dari peralatan teknol oginya. Tipenya, personalnya, kacamatanya, sarung tangan. Kemudian  pengikatnya terbuat dari aluminium atau stainlesteel, tali-temalinya, tiang layarnya banyak satu jenis industri. Jadi kita jangan memandang sebelah mata. Kalau dilihat dengan mata telanjang tidak ada apa-apanya, namun setelah diteliti, baru kita merasa wah.

Mau Kita sekarang ini, mari berusaha sebaik mungkin saingi dunia. Untuk ukuran kapal seperti ini, di Malaysia pun tidak banyak orang  punya. Karena kehidupan di Asia belum mencapai negara berkembang. Sementara yang mereka tangkap adalah keberadaan mereka. Turis  tidak bikin bisnis disini,  Ia datang main-main dan buang-buang uang dengan cara belanja , mereka tidak membawa pulang apapun, itulah yang ditangkap.

Bayangkan nilai 1 dolar  sama dengan  10.000 di Indonesia, kalau kita punya dolar, yang nilai mata uangnya dibawah Kita pasti leluasa untuk berbelanja. Seandainya banyak kapal layar di Indonesia tidak akan kelihatan karena 5/10.000, Panjang laut  indonesia merupakan lautan terpanjang didunia Sabang-Merauke 3000 knoti koma tidak ada negara lain yang mempunyai panjang kepulauan segitu. Makanya seharusnya kita bisa memproklamirkan bahwa Indonesia adalah arena Bahari terbesar didunia dan tercantik dan sepanjang tahun, bisa dipakai untuk dunia.

Jika dilihat dalam peta, indonesia  terbesar di Asia. Jika  pejabat punya gaji ratusan juta, yang dia beli merchedes, ferrari, pertayaannya kenapa tidak beli kapal layar? Kenapa tidak mencintai laut kita yang indah, serta pantai bagus. Jika Saya boleh mengumumkan, tiap Bupati wajib punya kapal layar berapa bayak kapal layar disetiap regensi. Kita berharap kepada  Kementerian Perhubungan diharapkan mau mengantisipasi perihal bonafit, oppurtunity dengan kedatangan kapal layar seperti ini  perlu  adanya sarana dan prasarana, agar  mereka lebih aman datang kesini, lebih nyaman untuk hadir lebih nyaman untuk turun ke darat dan dia akan meninggalkan kapalnya  untuk berlabuh. Seperti di Negara Malaysia. Dengan mereka berlabuh, para pengusaha berusaha menangkap, membangun berbagai pasilitas marina. Pemerintah sebenarnya harus sadar, berapa sih bikin dermaga? kalaupun tidak biasa buat dermaga yang lengkap paling tidak bikin sloting, buat mengikat kapal layar, kan di bayar. Sebenarnya lewat media bisa anda kasih tau. Perlu dipahami, pengembangan wisata layar khusus kapal layar bukan merupakan pengembangan sangat mahal. Karena dapat dibuat  dengan sangat simple, tapi benar. Dengan fisik dan infrastruktur murah tidak sampai 5M, kita sudah dapat bagun dan diakui oleh dunia.

Kemudian dilahan darat, infrastrukturnya  dipakai  oleh setiap kapal wisata, dan  wajib lapor, sehingga  pemerintah gampang ngontrolnya.Disatu sisi buat lokasi mancing dengan catatan tidak bisa mengambil ikan dibawah 2 kg dilarang mancing diterumbu karang. Buat sarana permainan jet sky. Banyaknya embel-embel persyaratan, terkadang membuat para turis enggan singgah. Sampai saat ini kita memang sedang berjuang di Kementerian untuk mempermudah mempersimple peraturan-peraturan masuknya kapal layar ke Indonesia dan bukan itu saja, kami  juga memperjuangkan masalah imigrasi, semua dalam tatanan. Saya bertanya coba kamu cek pemda sini, berapa orang yang senang dilaut, hampir tidak ada, mereka lebih senang ke Batam daripada ke laut, saya jamin itu. Tapi kalau disana mereka bilang, “waou laut kami indah tapi mereka sendiri tidak pernah memperdulukan keindahan lautnya. Yang Kita harapkan mulai sekarang, adanya kesadaran akan indahnya Wisata bahari Kita. >>Roy

Leave a comment