mediararakyat

Pembawa Suara Pembangunan Bangsa

Raskin Tak Layak Dikonsumsi Tanggung Jawab Siapa?

Published on Apr 09 2013 // Berita Utama

Natuna,(MR)

Nasri (91), masih terFoto Nasri (91) warga Desa AIr Lengitlihat tegar, meski hidup susah dia tetap tersenyum. Diusia senjanya, Ia masih mampu bekerja sebagai petani. Hal ini yang membuat dirinya masih tetap bugar dan terlihat sehat. Gudek (Gubuk Derita) berukuran3x6, dihuni bersama keluarga, kulit muka terlihat jelas sudah keriput pertanda, besarnya karunia Tuhan kepada Dia. Meski logat bicara terlihat terbata-bata, Namun Ia, masih mampu menjawab beberapa pertanyaan wartawan.

Sesekali Ia mengoceh, terkait bantuan Raskin (Beras Miskin) dari Pemerintah Pusat maupun Daerah, Betapa tidak, beras yang disuguhkan Pemerintah untuk masyarakat tidak mampu, teryata tidak layak dikonsumsi, karena kwalitasnya “jelek”, Pasalnya beras kemasan dalam karung BULOG itu, selain berkutu, sebahagian besar sudah berobah jadi tepun. Akibatnya, kebanyakan warga memberikan beras tersebut untuk pakan ayam.

Nasri salah satu warga kurang mampu di Desa Air Lengit Kecamatan Bunguran Tengah mengatakan, beras jatah yang diberikan pemerintah kepada Dia, kualitas sangat berbeda dengan beras jatah tahun lalu. Raskin kali ini sudah hancur dan banyak kutu. “ iya kali ini berasnya kok lain, gak seperti biasa. Beras jatah sekarang dibagikan dengan kemasan karung agak kecil. Biasanya karung besar berukuran 25 kilogram,” Ujar Nasri saat ditemui di kediamannya, pekan lalu. Di damping anak dan cucunya, Nasri terlihat tegar menjawab pertanyaan wartawan.

Seandainya, ada beras yang lebih layak, Dia tidak akan mengkomsumsi jatah Raskin. Namun apa boleh dikata, kemiskinan telah menghantui keluarganya, mau tidak mau, suka tidak suka harus mengkonsumsi beras jatah. Sementara itu, untuk menghilangkan rasa tidak sedap (bau apek), maka keluarganya mencampur beras jatah raskin dengan beras bagus yang dibeli di warung. “ kalau tidak dicampur, berasnya tidak bisa dimasak, baunya apek banget, sudah itu berasnya mudah hancur” timpal Lasno Anak Nasri.

Nasri berharap, penyaluran beras miskin (raskin) harus lebih diteliti lagi. Ketika beras tersebut sudah tidak layak lagi untuk dikonsumsi, maka jangan disalurkan kepada warga. “ meski beras jatah, jangan sampai beras sudah tidak bagus dibagikan kepada kami” .

Dari penelusuran dilapangan, Nasri termasuk golongan Orang Tua Jompo. Meski demikian, perempuan, tua renta itu, belum pernah mendapatkan bantuan dari Pemerintah Pusat maupun daerah. Hal itu diakui Cucu Nasri. Meski Pemerintah Pusat menganjurkan dan menganggarkan bantuan kepada Orang Tua Jompo, namun Nasri, luput dari kaca mata para penguasa. Ribuan RTLH, (Rumah Tidak layak Huni), telah di bangun di Natuna, namun perempuan tua renta ini, tidak pernah mendapatkan belas kasihan dari pemerintah setempat. Meski demikian Ia tetap bersukur, karena Allah masih menberikan umur panjang baginya.

Sebenarnya Ia punya keinginan, agar tahun ini, gubuk derita miliknya dapat perhatian dari Pemerintah, sehingga layak untuk di tempati. Rumah saat ini hanya berlantaikan tanah, dengan kamar kecil satu.

Sementara itu, Kepala Bulog Kabupaten Natuna Akhmat, saat dikonfirmasi mengakui jika Raskin kali ini kwalitasnya kurang baik. Sebagai orang bawahan dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Jika Raskin yang datang kwalitetnya kurang baik, tetap harus di bagikan, langsir dari salah satu Koran harian. Tahun lalu Raskin kwalitasnya bagus, sebab beras tersebut kita datangkan dari luar (Tailand dan Vietnam).

Sementara tahun ini ada perintah dari Presiden, mengharuskan Raskin ambil dari produk dalam Negeri, Memang struktur berasnya cepat hancur. Bukan untuk Natuna aja, daerah lain juga banyak yang konplin, katanya. Selanjutnya Ia katakan, beras tersebut masuk Pebruari lalu, dan maret sudah kita bagikan. Jika terdapat kerusakan, bukan diakibatkan terlalu lama didalam gudang ini. Tapi karena mutu dan kwalitas beras rendah. Sehingga beras cepat rusak, papar Akhmat. >> Roy

Leave a comment