mediararakyat

Pembawa Suara Pembangunan Bangsa

Proyek Kementerian Mubajir Tak Sesuai Kondisi

Published on Jan 09 2018 // Berita Utama

Herman: Jangankan Ikan, Daun pun Enggan Masuk

Natuna, (MR)
Andri salah satu nelayan diwilayah pering terlihat duduk, tatapannya tajam melihat seonggokan bubu (alat perangkap ikan,red) dibiarkan terlantar bagai tumpukan sampah. Padahal bantuan dari Kementerian Kelautan ini sudah setengah tahun diberikan kepada nelayan. “Meski tidak merasa memesan, tapi ribuan bubu ini diserahkan juga,” ucap Andri saat temui wartawan.
Dari segi tampilan, karung pembungkus bubu itupun sudah hancur dimakan waktu, bila dilihat dari kualitas bubu tidaklah mengecewakan rangka terbuat dari besi, dibungkus plastik selang dan jaring dari bahan nilon, soal harga sudah pasti mahal. Sayangnya bubu tersebut tidak dapat dipergunakan, karena tidak sesuai dengan kondisi perairan di Natuna, keluh Andri.
“Kami tidak bisa pergunakan, karena tidak sesuai dengan speknya. Bahkan nelayan tidak pernah merasa meminta bubu itu,” kata Adri, di Ranai, Selasa (2/1/2018). Lalu timbul pertanyaan, kenapa pihak Kementerian mau memberikan bantuan, tanpa melihat situasi dan peruntukannya?.
Lain halnya dengan Yadi dan Wahap kelompok rukun nelayan lubuk lumbang Kelurahan Bandarsyah ini mengaku, bahwa pihak Koperasi nelayan selaku penerima bantuan dari Pemerintah Pusat, tidak pernah menyampaikan mengenai bantuan tersebut kepada para nelayan.
“Kami tidak pernah diajak bicara oleh pengurus, jadi kami tidak tahu, soal bantuan bubu itu, hanya lihat fisiknya saja sudah terlantar di pelabuhan,” ujar Wahab.
Ketua Koperasi Nelayan Lubuk Lumbang Sejahtera Muksin saat dikonfirmasi lewat telepon seluler (Rabu 3 Januari) menampik semua tudingan itu. Sebelum bantuan datang, sudah ada tim pendamping dari Kementerian melakukan pengecekan, Kita juga sudah beberapa kali melakukan rapat. Jadi tidak benar bantuan bubu tanpa persetujuan. Kemungkinan mereka itu lagi dilaut saat rapat.
Saya tahu mereka yang berbicara bukan anggota aktif di koperasi, hanya mendaftar selanjutnya jarang aktif.  Oleh karena itu, pihak koperasi berencana mengevaluasi anggota, dan kemungkinan bakal ada pengurangan. Jika tidak aktif maka akan dikeluarkan karena sudah melanggar ADRT. “Kenapa sampai sekarang belum dibagikan?, karena semua lewat prosedur. Hanya Nelayan anggota koperasi yang berhak menerima dan yang mau. Caranya ambil barang pergi kelaut dan bagi hasil,” tegas Muksin.
“Sebenarnya bubu tersebut mau dibawa kerumah masing masing, mengingat tidak ada tempatnya, namun karena takut dibilang milik pribadi, makanya kami biarkan dipelabuhan. Jumlah bantuan tersebut sebanyak 1600 bubu,” katanya.
Peryataan ketua koperasi ini, diperkuat oleh Muhamad Rafi. Bantuan bubu merupakan permintaan dari anggota Koperasi dan pengurus rukun Nelayan Lubuk Lumbang kepada Kementerian Kelautan perikanan sekitar setahun yang lalu. Saat permintaan itu disampaikan menurutnya, pihak dari Kementerian juga telah melakukan survei lapangan dan telah ditunjukan bentuk bubu, oleh nelayan.
“Waktu verifikasi petugas Kementerian ada turun ke Ranai, dan sudah kami tunjukan model bubu, kami butuhkan, faktanya bubu yang datang tidak seperti Kita harapkan. Kami juga tidak tahu dimana kesalahannya. Intinya tidak sesuai spek yang Kita minta,” kata Rafi.
Herrman ketua nelayan Lubuk Lumbun dihubungi via telepon mengakui bahwa bubu tersebut memang tidak dipergunakan oleh nelayan. “Karena tidak sesuai saat uji coba dilakukan sebanyak 30 bubu dipasang, jangankan ikan daun pun tak ada masuk. Hingga saat ini bubu belum diserahkan oleh koperasi kepada kelompok nelayan. Hal ini dikarenakan, para nelayan tidak mau menerima bubu itu karena tidak bisa dipergunakan,” tuturnya.
“Bagaimana mau diserahkan kepada nelayan, toh bubunya tidak bisa digunakan. Mungkin solusinya akan kami jadikan rumpon ikan saja,” tambah Herman.
Sementara itu Pejabat Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Natuna, Suherman SE, lansir dari salah satu media, saat dikonfirmasi mengenai bantuan itu mengatakan pihaknya akan mengecek kelapangan guna mengetahui alasan dari para nelayan enggan menerima. “Itukan bantuan dari Kementrian, berarti dana APBN, saya juga belum tahu apa sebabnya tidak dipergunakan oleh nelayan, saya akan cari tahu dulu, setelah itu baru kita cari solusinya,” kata Suherman, Selasa (2/1/2018).
Bantuan bubu bagi nelayan itu tidak hanya diterima oleh nelayan Pering Kelurhan Bandarsyah, namun juga oleh semua nelayan disetiap Kecamatan di Natuna. Namun semua bubu itu tidak dipergunakan oleh nelayan dengan alasan sama. >>Roy

Leave a comment